"I-Ib, Ibu, k-kau?” Sehan sangat terkejut parah.
“Hei, ada apa, Nak? Kenapa setiap kali Ibu menelfon ataupun panggilan video kau nampak panik sekaligus tegang dan ayo katakan kenapa dari tadi pagi ponselmu tidak dapat dihubungi sama sekali? Atau Ibu akan datang ke sana dan mendatangimu untuk menjewer telingamu karena mengabaikan panggilan telepon ini,” ucap Bu Shinta.
“Hei, jangan datang Ibu! Iya aku akan mengatakan yang sebenarnya, maksudku mengatakannya, tadi itu, em, ponselku tiba-tiba mati seharian dan tidak dapat dihidupkan, itupun lalu ponselku baru bisa hidup sekarang, iya itu benar!” jawab lantang Sehan yang sangat gugup parah.
“Ha, ya sudah lupakan, sekarang ayo panggil istrimu itu! Aku mau melihat wajah cantiknya, aku sangat merindukan menantu manisku itu, ayo-ayo cepat tampilkan dia di video call ini, cepat bawa istrimu itu Sehan!” perintah Bu Shinta.
“E, ep, ap-apa? D-dia, Kanisa sedang pergi!” seru Sehan.
Raut muka panik Sehan sangat terlihat nyata di video call yang dilihat ibunya ini.
“Hei, pergi ke mana, Nak?” tanya Bu Shinta.
“I-itu d-dia sedang pergi mencuci pakaian tetangga!” jawab Sehan seadanya.
“Apa mencuci pakaian tetangga? Untuk apa pakaian tetangga harus dicuci olehnya, Nak?” Bu Shinta merasa heran.
“Em bukan itu maksudku, dia sedang pergi mencuci!” lirih Sehan yang menjawab.
“Mencuci malam-malam?” tanya cecar Bu Shinta.