DUA SOSOK
“Hey! Kau melamun?” tanya Dian mengagetkanku, duduk di sebelahku. “Kau bisa mengerjakan soal yang ini?” tanyanya sambil mengangsurkan buku tulisnya.
“Enggak,” jawabku singkat.
“Oho! Kau sedang melucu?”
“Enggak.”
“Dua kali kau bilang enggak. Adakah kata lain selain enggak?”
“Enggak.”
“Oh, baiklah, maaf aku telah mengganggumu.” Dia beringsut. Kulihat dia kecewa. Seketika naluriku bekerja, kupegang tangannya supaya tak jadi beranjak.
“Jangan salah paham, aku memang belum mengerjakan yang itu kok, malah tadi malem sms kamu nanyain soal yang itu.” Aku melihat dia perlahan tak dongkol lagi.
“Benarkah? Hm, maaf tadi malem HP-ku mati, belum sempet aku cas.”
“Iya nggak apa, aku juga minta maaf.”
“Atas?”
Sejenak percakapan kita berhenti. Pandangannya sepenuhnya diarahkan ke mataku, seperti menerkaiku. Entah kenapa tatapan itu membuatku gugup. Aku lupa pertanyaan yang dia ajukan. Aku kesulitan menguasai diri. Baru sadar tanganku masih memegangi tangannya. Buru-buru aku melepasnya. Malu iya.
“Maaf,” kataku tertunduk.
“Kenapa dilepas?” tanyanya sambil senyum-senyum, tentu dia hanya bergurau.
“Eh! Itu tanganmu kenapa?” dia baru sadar ada luka di tanganku. Beberapa teman yang lain ada yang mendekat ke arahku, untuk sekedar melihat. Dian meraih tanganku pelan. Melihat lukaku dengan sorot cemas.