Sehelai Jiwa Sepi

Suyat Aslah
Chapter #10

BAB 10

HARI PEMBEBASAN


Kehidupan selalu jauh dari bayanganku. Harapan seperti ilusi yang tercipta bersama waktu. Melewatiku dengan langkah tak ragu. Meninggalkanku dalam keadaan terkapar bersimbah keluh. Dunia tak mengingatku. Sebatas ada namun seperti tak tiada. Harusnya ini jadi pelepas sejenak rasa kekerdilanku, di hadapan semua yang mempermainkanku dengan tangan-tangan perundung.

Tes semester telah usai. Kelas sebelas sudah kunaiki. Kita telah dipecah jadi dua jurusan, IPA dan IPS. Aku masuk di IPA. Itu berarti hanya ada beberapa sahabat yang akan menemaniku dua tahun ke depan. Termasuk Dian dan Aisyah. Dan tak termasuk Agus dan kawanannya. Hanya ada tiga murid laki-laki di kelas yang sekarang, aku, Bayu dan Seno.

“Pri!” Seno melambaikan tangan ke arahku.

“Jangan mau, Pri. Nanti nyontek lagi,” cetus Sarinah disambut tawa yang lain.

“Sini aja, Pri” Bayu menepuk-nepuk bangku di sebelahnya.

“Apalagi lu Bay, tukang nyontek kelas berat lu.” Sarinah terus nyerocos.

“Sama Seno aja, Pri. Nanti kita sebelahan.” Dian ikut nimbrung.

Semua bersorak menggoda. Ada juga yang berdehem. Tawa Dian ikut meledak, sementara aku senyum-senyum tak bersuara.

Bu Ninik masuk dengan membawa sejumlah dasi biru yang disampirkannya pada lengan dan mendekapnya. Setelah mengucap salam, beliau menjelaskan bahwa sudah jadi wali kelas kita katanya.

“Sekarang kita pakai dasi, Bu?”

“Iya dong, biar kelihatan ganteng dan cantik.”

“Culun kali, Bu, hwahaha… “ teriak Bayu sambil meledakkan tawa sendirian.

“Biar kelihatan lebih rapi. Kita harus tunjukkan ke orang-orang bahwa sekolah kita bukan sekolah urakan. Semua murid di sini baik-baik. Biar kalian punya banyak temen nantinya.” Berhenti sejenak lalu melanjutkan, “Selama ini kan penyumbang terbesar yang daftar ke sini dari sekolah yang satu Yayasan. Itu pun bisa dihitung jari.” Semua diam.

“Kasihan banget ya, Bu, kita.” Salah satu nyletuk pelan.

“Hehe, tapi untuk pendidikan agama kita lebih unggul kan? Buktinya di sini semua cantik-cantik. Pada pakai jilbab.”

“Perasaan aku nggak pake jilbab, Bu.” Bayu berseloroh. Beberapa tertawa kecil.

“Gratis itu ya, Bu?” Tanya yang lain.

“Ya bayar. Nanti soal harga menyusul. Ini langsung dipakai aja ya.” Bu Ninik sendiri yang membagikannya satu per satu. “Bisa pakainya nggak?”

“Enggak, Bu.” Yang di pojokan bersuara.

“Aku juga enggak,” imbuh yang lain.

“Bu guru bisa nggak, Bu?” tanya Aisyah.

“Enggak. hik hik….”

“Lhaa….” Suara berpendar ke seantero kelas.

“Aku bisa!” Dian mengangkat tangan.

“Beneran bisa?” Fadilah yang kini jadi teman sebangku Dian meyakinkan.

“Lihat nih,” dalam waktu kurang dari 30 detik, dasi telah terpasang cantik di bawah kerahnya.

“Tepuk tangan untuk Dian!” kelakar Bu Ninik. Dian berdiri dan mengangguk hormat. Suara tepukan tangan berpendar.

“Nanti minta diajarin Dian ya, Bu guru mau ke kantor dulu. Kalian bersih-bersih kelas aja dulu.”

“Berarti pelajaran kosong, Bu?”

Bu Ning menjawab dengan senyuman.

“Yeay!” Semua senang.

Sebelum bersih-bersih, semua mengerubungi Dian. Sementara aku berusaha mengintip dari celah paling belakang. Ada beberapa yang berhasil memakai dasi sendiri. Tapi lebih banyak yang gagal, termasuk aku. Kulihat Dian berusaha mengangkat kepalanya lebih tinggi. Melongok ke arahku.

“Kamu dah bisa belum, Pri?” aku geleng-geleng.

“Sini aku ajarin.” semua teman membukakan jalan. Aku mendekat. Dua langkah saja sudah berhadapan langsung dengan Dian hampir tak ada jarak. Aku bisa melihat dengan jelas lekuk wajahnya hingga pori-pori. Hidung yang tak terlalu mancung. Kulit yang sama warna dengan Aisyah. Ah, seperti ada yang kulewatkan selama ini. Mata dengan pendaran tak biasa itu telah menarik mata juga perhatianku.

“Dah jadi!” aku tergagap karena tak memperhatikan gerak tangannya.

“Sekarang udah bisa kan?” aku mengangguk namun tak mengerti. Masih sempat Dian membenarkan kerah bajuku.

“Gantengnya….” Dian menggodaku.

***

Matahari perlahan membuka hari. Namun embun-embun masih enggan beranjak dari dedaunan. Burung Peking berkicau riang di antara dahan-dahan tinggi pohon Laban. Segala aktivitas mulai terlihat. Bapak-bapak yang akan pergi ke sawah. Ibu yang bersepeda mengantarkan anaknya sekolah juga pedagang sayur yang teriak-teriak menawarkan dagangannya.

“Kamu kan udah naik kelas dua, Pi. Kudu serius jangan pacar-pacaran dulu.” Mbak menasehatiku.

“Ah, masa aku gitu.”

“Ya kali aja, kamu masih normal kan?”

“Ehe…, normal laah, udahlah aku mau berangkat.”

“Udah sarapan?”

“Udah.”

Karena kesiangan, buru-buru aku menunggangi sepeda dan kukayuh dengan tenaga penuh. Sampai di pertigaan sebelum aku belok. Dian melintas dibonceng Fitri yang kini di kelas IPS.

“Hayok, Pri! Barengan….” Dian berteriak.

Lihat selengkapnya