RAHASIA YANG TERSEBAR
Pagi yang cerah, matahari mulai mekar di ufuk timur. Langit berona biru di hari rabu. Suasana kian merdu berkat pengamen jalanan yang bernyanyi lagu rindu. Sepagi ini dia mulai mengembara? Ah, mungkin aku orang yang tak mengerti kesibukan orang. Semua orang dengan sibuknya masing-masing. Para pejalan kaki dan pengendara yang mengisi nadi jalan besar. Para pelapak telah mengelar nasibnya. Seakan alam telah memberi sabda dimulainya hidup setelah semalam mimpi-mimpi telah mengambil sebagian tubuh.
Selebihnya ini adalah hari yang tak kusukai. Pelajaran olahraga dan harus bermain bola!. Sejak lahir aku tak suka sepak bola. Ada yang bilang jika tak suka sepak bola bukan laki-laki namanya. Aku tak tahu sejak kapan selera seseorang bisa mempengaruhi gender seseorang.
Untuk ukuran langkah kaki, lapangan sepak bola berada lumayan jauh dari sekolah. Harus berjalan kurang lebih lima belas menit. Setelah sampai, tak ketinggalan kita berpanasan sambil berpanas-panasan. Saat dirasa cukup mulailah permainan.
“Buat yang laki, kita buat 2 tim,” ujar Pak Tito guru olahraga kami. Saat pelajaran olahraga, memang kelas IPA dan IPS disatukan.
“Berarti tiap tim cuma ada 6 pemain, Pak?” salah satu dari kita bertanya.
“Ya.”
Akhirnya kita bermain. Semua di posisi masing-masing. Bola liar mulai dimainkan. Tapi aku lebih banyak diam ketimbang berlari. Tak biasa dan tak bisa bermain. Dan yang paling tak bisa kuimbangi adalah, aku masuk tim bersama Agus.
“Ayo, Pri. Kejar, rebut bolanya!” teriak Pak Tito.