Sehelai Jiwa Sepi

Suyat Aslah
Chapter #12

BAB 12

SEDIKIT MEMBENCI


Inilah aku yang ingin kembali dingin dan tawar dalam situasi. Posisi yang tak banyak orang sukai. Tanpa rasa khusus dan tak pernah dicari-cari. Kini ku berada di punggung luka. Hanya bisa merasakan kepedihan yang tak terindra letaknya. Membuat tubuh tak karuan saja. Kuharap aku bertemu dengan sang pemberi luka. Seseorang yang telah melukaiku dengan cinta. Di manakah kau sang putri yang membuatku malu? Selama ini durimu melindungiku. Tapi kupelajari satu hal, bermain-main denganmu dalam jarak dekat justru bisa melukaiku.

Sudah jam tujuh pagi, yang kupikirkan hanya satu, Dian. Pelajaran tak masuk benak yang sesak bayangan dan pertanyaan. Aku melupakan Aisyah yang mengagumkan dengan penampilan barunya yang berkacamata. Setidaknya itu menjadi perhatian penuh dari teman satu kelas, terutama perempuan, banyak yang memuji penampilan barunya. Kebisingan di kelas hanya menguap sebelum sampai di telinga. Hanya sehamparan hening yang merubung jiwa. Di atas tanah luka aku membara. Dalam gelap yang tak bisa ditembus mata. Hingga teriakan lara merobek semesta raga.

Kulihat Fitri masuk tepat saat bel masuk berbunyi. Membawa sebuah amplop putih yang diangsurkan sambil bersuara rendah pada Aisyah. Lalu bergegas pergi lagi menuju kelasnya.

“Surat izin. Dian nggak masuuk,” ucap Aisyah sambil merengek namun dibuat-buat.

“Kenapa katanya?” tanya yang lain.

“Sakit. Tadi malem aku sms nggak dibales,” jawabnya.

Ah, rupanya ada yang senasib denganku. Pesan tak terbalas oleh orang yang sama. Kucoba meluruskan pikiran. Mungkin ada sebab tak terhindarkan. Kekecewaan dan kebencian tiba-tiba menjelma kebimbangan. Rasa bersalah juga penyesalan. Bayang-bayang membuatku takut. Aku yang berkoar-koar bahwa akulah pemegang rahasia terhebat. Tapi aku sendiri yang membocorkan rahasia itu pada Dian. Setelah aku memikirkannya, kesalahan paling awal ada padaku.

Ini hari masih pagi. Namun suasana menjadi tak berarti tanpa Dian. Yang selalu mengajakku berbincang akrab, meluapi kekosonganku dengan tawa renyah dan wajah bungah. Tak ada yang mampu mewakilinya sebagai penggembira. Pembela yang tak ingin aku luka. Bahkan waktu istirahat masih meronggakan kekosongan di dada.

Aisyah tak seperhatian kemarin. Hanya sesekali melirikku, sebentar saja. Bahkan dari rautnya tak membatin apa-apa. Pun sama dengan teman yang lain. Hanya sendiri aku menghirupi dunia saat istirahat. Hanya cari angin di depan kelas. Kembali aku merasa terlupakan.

“Widih… kacamatanya lho, hehe.” Anton datang dari arah tak terduga. Aisyah hanya tersungging sambil menyentuh kacamatanya dan menggoyangnya sedikit. Seperti gerakan membenarkan posisi.

Satu ucapan dan reaksi yang mengerat jantung. Menghunjamkan dalam ke dada sunyi. Kata-katanya biasa saja memang. Namun menjadi tak biasa saat aku melihat ekspresi yang berkelebat aneh dari keduanya. Dan aku tak bisa seakrab itu dengan Aisyah.

***

“Maaf, kemarin agen FBI kena migrain. Terkait laporan anda kemarin baru bisa ditanggapi hari ini. Jadi, dari mana kita mulai?” akhirnya Dian membalas pesanku.

“Baik jika keadanmu sudah membaik. Kita mulai pembicaraan kita terkait rahasia itu. Di mana hatimu berpijak saat itu? apa kau menganggap itu benar adanya?”

“Aku berpijak di antara –ku dan –mu. Berdasarkan reverensiku juga informasi darimu. Aku yakin itu valid benar adanya.”

“Kamu satu-satunya yang terlibat pembicaraan itu. Sekarang kamulah yang tertuduh atas penyebaran berita itu tanpa izin empunya rahasia.”

“Maafkan aku. Aku tak bermaksud jadi penebar rahasia orang. Aku menyampaikan hanya pada Aisyah. Kau tahu sebagai temanmu aku senang bisa berbuat yang tak bisa orang lain perbuat. Mendekatimu, berbincang hangat, berbagi cerita dalam keabstrakan bahasa. Itu pun kusampaikan dengan tak serius. Sedikit aroma canda.”

“Tapi ini masalah amat sensitif yang tak seharusnya tersebar. Aku mau membuka mulut karena kita teman akrab dan kupikir kita saling percaya. Penerimaan orang pun berbeda. Lagi pula percakapan kita kemarin masuk ke wilayah kelakar bukan?”

“Kuharap kau tak marah dan bertindak layaknya psikopat padaku,” ujarnya.

“Apa tampangku seperti psikopat?”

“Kali aja. Suara kecipak keras air tak menunjukkan air yang dalam bukan?”

“Apa itu kiasan yang tepat?"

Lihat selengkapnya