TATAPAN
Kadang kurasa ada banyak tatapan pasang mata entah mengawasiku. Memandangiku tanpa kumengerti apa yang mereka pandang dan pikirkan tentangku. Langkahku kian ragu. Gerakku makin kaku. Memang, aku belum melihat langsung wajah mereka. Atau mungkin sebenarnya mereka tak melihatku seperti itu, atau bahkan sama sekali tak melihatku. Seperti hanya perasaanku saja yang menyangka hal itu. Entahlah, yang jelas itu sudah jadi kebiasaanku.
Terkadang aku merasa risih dengan tatapan mata. Tatapan yang seakan menerka-nerka tentangku. Mereka seperti bicara melalui tatapan matanya. Pembicaraan yang entah. Seperti berpikir bahwa aku orang asing yang aneh. Mata-mata mereka berkeliaran meraba-raba setiap inch wajahku. Mengikuti tiap gerak langkahku. Entah apa yang mereka cari dariku.
Sebab itu aku lebih suka warna malam. Malam yang sedikit bisa mentabiriku dari berpasang-pasang mata yang melihatku. Tak ada yang bisa melihatku secara gamblang dalam pekatnya malam. Mata mereka takkan bisa menangkapku sejelas saat matahari membuka matanya. Bahkan sinar purnama takkan mampu menyibak sepenuhnya diriku dalam timbunan butiran malam.
Tapi hari ini bukanlah malam. Matahari melotot di atas atap sekolahku. Ada banyak yang bermata di sini. Aku tahu, Dian diam-diam mencuri wajahku melalui kamera HP-nya. Sengaja aku pura-pura tak tahu. Hanya sedikit kuubah posisi berdiriku. Biar bagaimanapun aku tak tahan dengan apa pun itu yang dalam sadarku kurasakan ada yang memata-mataiku. Sesuatu yang mampu mengendalikanku dalam situasi gelisah tanpa sebab. Tapi kali ini berbeda. Aku diperhatikan oleh seseorang yang begitu perhatian padaku. Ada sehirup angin segar menyelusup ruang dada. Mendesirkan gelombang yang kurindukan. Membangkitkan gairah dengan sensasi yang langka. Sampai-sampai aku senyum-senyum sendiri karenanya. Dian pun tersenyum memandangi hasil jepretannya. Lalu pergi bergitu saja, sambil memegangi ponsel dua megapixels miliknya di bawah dagunya. Aku terus tersenyum sendirian.
Tiba-tiba kapur tulis menghantam kepalaku. “Woy! Gila lu. Senyam-senyum sendiri,” teriak Agus sambil mematahkan kapur batangan lalu melemparkannya lagi ke arahku. Aku langsung masuk kelas tanpa harga diri.
Siang hari merayap cepat bersama keriangan kelas. Hanya ada bunyi bel masuk setelah istirahat kedua, namun tak ada guru yang masuk mengisi pelajaran. Tak ada aktifitas belajar. Hanya kegembiraan yang membisingi kelas. Seakan kebebasan telah mengusir waktu lebih cepat. Tak terasa sudah jam hampir pulang.
Semua buku pelajaran kembali masuk tas. Tak tersinggung sedikit pun. Semua tawa pun masih lepas. Sampai bunyi bel pulang berdering, semua makin kegirangan. Bahkan beberapa teman berani keluar kelas dengan menggendong tas.
“Hey, hayok! kelas yang lain dah pada pulang,” teriak salah satu.
Karena tak ada tanda-tanda kedatangan guru ke kelas, akhirnya pulang sendiri meski guru tidak kabar-kabari. Sampai di bawah, di depan kantor, Aisyah berujar, “Kita tanya dulu ke Bu Guru, udah boleh pulang belum?” hampir semua mengamini, kecuali Bayu yang ngiprit duluan bareng kelas IPS. Sementara Bu Guru mengizinkan kita pulang.
“Hey! Ada rencana hari ini?” Dian berlonjak mengiringi langkahku.
“Ada,” jawabku singkat.
“Apa? Kemana? Mau apa?”
“Ngambil sepeda, ke penitipan sepeda, mau pulang.”
“Sekali-kali dong kita jalan-jalan, yuk.” Sambil memainkan alisnya naik-turun, “Berdua,” sambungnya sambil menunjukkan kedua jarinya membentuk huruf v. Dari gerakannya itu terlihat lucu dan membuatku kembali diserang demam.
“Kemana?”
“Kalo ke mananya kita putuskan di perjalanan, jarang-jarang kan kamu main?” tatapannya meminta jawaban. “Udahlah, yuk kita ambil sepedamu.” Dengan sebat tangannya meraih tanganku tanpa memberiku kesempatan menjawab. Entah kenapa aku tak bisa menolak atau memberinya alasan. Malah kunikmati demam itu. Hatiku menginginkan ini. Tapi tiba-tiba kurasakan kembali ada mata yang memperhatikan kita. Kulirik ke arah embusan angin. Kudapati seseorang menatapku lunak, namun sejatinya tajam. Dian masih menggenggam tanganku. Aku hanya tertunduk ragu. Bibir bergetar sulit berucap sesuatu.
“Dian! Mau kemana?” akhirnya dia bersuara. Dari arah angin berembus.
“Ehm, nggak kemana-mana.” Dian mencoba beralasan.
Aisyah terdiam melihat tangan kita yang berkaitan. Pembicaraan istirahat satu jenak. Hanya saling pandang satu dengan yang lain. Seakan habis kata dihisap embusan angin. Aku ingin melepas genggaman, tapi Dian malah mengeratkan.
“Ehm, udah dulu ya. Kita duluan.” Dian memutus pembicaraan.
“Pada lagi kenapa sih?” ada rasa ingin tahu dari tatapan mata Aisyah, tatapannya juga mengikuti kemana kita pergi.
“Nggak ada apa-apa kok. Cuma ada urusan berdua.” Dian kembali mengimbangi.
Setelah beberapa jauh dari Aisyah, akhirnya dilepas juga genggamannya.
“Kenapa tadi kamu mau lepas tanganku?” desahnya padaku.
“Kenapa kamu tak mau melepas tanganku?” pertanyaan balikku membuatnya diam.
“Ehm, sudahlah. Kita ambil sepedanya.” Dia mengalihkan pembicaraan. Sempat juga mengirim tatapan ragu ke mataku.
“Ayok!” Kugamit tangannya.
“Kamu juga tuh, pegang-pegang tanganku,” katanya membalas.
“Tapi kuharap kamu menepisnya,” jawabku sambil melepas pegangan.
“Bahkan kau mengharap rasa sakit?”
Aku tak pedulikan suaranya yang dilantangkan. Aku tetap jalan duluan. Saat aku kembali membawa sepeda, dia langsung menghempaskan duduknya ke boncengan dengan sedikit brutal.
“Cara dudukmu kurang elegan.”
“Layaknya istri pejabat? Yang duduk dan berjalan dengan track yang diatur. Dengan sandal yang membuat nyeri tumit. Duduk dengan posisi yang serba kaku. Ah, itu menyiksa.” Berhenti sebentar lalu menyambungnya, “Apa kau tak suka polaku yang seperti ini?”
“Tentu lebih suka dirimu tanpa polesan unsur palsu.”
“Jadi, kau suka aku yang seperti ini?”
“Ehm, kita mau kemana?” tanyaku mengalihkan.
“Ke pertanyaan tadi.”
“Sudah kujawab sebelum kau bertanya.”
Matahari membakar ubun-ubun. Menyengat pori-pori hingga keluar keringat body. Juga keringnya kerongkongan tak bisa dihindari.
“Lelahmu akan terobati nanti,” katanya seperti pembaca pikiran. “Kita berhenti di antara Mie ayam ceker dan Bubur ayam.”
“Es Ketan merah?” pikirku. Mbak Ayu sangat suka Es Ketan merah. Saat pulang kerja, terutama saat jadwal kerja dari pagi sampai siang. Sering kali membawa pulang tiga bungkus untuk bertiga.
“Ugh. Seger tahu. Aku traktir,” katanya.