KISAH PAHIT DI PERANTAUAN
Aku adalah puisi yang tercipta dari hati yang patah diam-diam
Aku untukmu
Tapi kau salah jika mengira aku tercipta untuk mati
Untukku, sang pencerita telah memanggilkan ruhnya dari dada yang sunyi
Dia hanya ingin mengabarimu
Bahwa kau berhasil membunuhnya dengan rindu yang kau cipta bersama waktu(*)
Selepas SMA, entah kau ada di belahan kolong langit mana. Pun tak pernah tahu seberapa cepatkah wajahmu berevolusi. Mungkin rasaku berevolusi lebih cepat dari perubahan itu. Sesuatu yang terpendam telah bermetamorfose jadi formulasi hebat bernama rindu. Kabarnya rindu adalah pembunuh bagi kaum yang mabuk cinta. Namun yang kutahu, kerinduan takkan bisa ditimbang berbanding terbalik dengan berapa tempuh waktu di belakang, namun berbanding lurus. Akan bertambah kala demi kala.
Ada kalanya aku merasa terbunuh oleh sesuatu yang tercipta bersama waktu. Virus yang menjangkit sebagian besar penduduk bumi. Menjalar di sanubari. Merambati nadi. Bahkan mengalihkan syaraf imajinasi. Itu yang membuatku senyum-senyum sendiri.
Hati tak selamanya jadi tempat terbaik menyimpan rasa bukan? Sesuatu yang tak bisa terulas dalam wujud nyata. Rahasia yang tak terlihat mata. Mengubahnya mungkin bisa jadi hal yang menakjubkan. Aku selalu memimpikannya, imajinasi bisa mengubah takdirku. Maka, kucoba menyimpannya dalam bentuk lain. Dalam wadah bernama bahasa. Dalam bentuk indah berlekuk aksara. Sesuatu yang multi tafsir memang. Aku ingin seseorang menafsirkan itu.
Meski aku tak yakin ada membacanya. Apalagi Dian yang tak begitu gemar membaca. Aisyah yang gemar membaca pun hampir tak mungkin membaca tulisanku. Semua dengan dunianya sendiri. Di mana seseorang yang baru hadir dalam kehidupannya. Sangat mungkin melupakan seseorang di masa lalu. Apalagi pecundang sepertiku.
Aku ingin melupakannya sejenak. Setidaknya untuk masa depanku. Semua dengan jalannya sendiri. Sementara jalanku belum berubah.
Perpisahan telah mewariskan kenangan. Aku seperti hanya hidup dalam dunia imaji. Semua yang kutakutkan kini hadir bersamaku. Tak lagi ada nilai. Tak ada yang bisa membuat Ibuku bangga. Aku kehilangan arah. Aku anggap cita-cita sudah tak penting lagi. Terlalu takut dan makin menarik diri dari kehidupan. Sementara hidupku terus berjalan.
Satu tahun lulus SMA masih menganggur. Sudah satu tahun juga aku mengirimi cerpen ke beberapa Koran Nasional, dan tak ada kabar satu pun. Nilai sudah tak jadi tujuanku sekarang. Terakhir kali mencari nilai saat mencoba ikut seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri. Tepat setelah lulus SMA. Aku terlanjur menyerah saat membuka soal. Bayangan tak lolos sudah menetap di benak. Benar saja, aku tak lolos. Kubuang mimpiku untuk kuliah.
Kesulitanku bergaul benar-benar menyiksaku pelan. Aku menyesal, membiarkan keangkuhan tercipta dan berkembang dalam tubuhku. Ya, sekarang aku menganggap itu sebuah keangkuhan, juga kebodohan. Harusnya aku membuangnya saat masih dapat lebih banyak pemakluman dari orang-orang, saat masih kecil.
Aku baru merasakan susahnya jadi orang sepertiku mencari kerja, apalagi mendapatkan kerja. Akhirnya ada saudara yang menyarankan ikut seleksi Patigat. Beasiswa D3 dalam naungan perusahaan ban di Tangerang yang cukup terkemuka di Indonesia. Ada enam tahap seleksi, namun gagal di tahap ke tiga. Tes fisik dan kesamaptaan. Lagi-lagi fisik dan mental jadi kelemahan. Kucoba juga mendaftar di sebuah retail perbelanjaan. Namun hasilnya tetap sama.
Aku makin frustasi. Menulis jadi jalan untukku kembali. Kukumpulkan kembali cerpen yang ditolak koran selama hampir satu tahunan. Tak banyak memang, hanya beberapa yang kurasa patut kuperjuangkan dan perlu direvisi, juga penambahan cerpen-cerpen baru untuk memenuhi syarat minimum jumlah halaman naskah. Waktuku banyak tersita untuk penerbitan buku pertamaku ini di Penerbit Self Publishing. Pun menguras tabunganku untuk membayar orang mendesain cover dan pengetikan naskah. Aku sendiri belum mampu untuk itu. Bahkan aku sedikit memberanikan diri meminjam uang Mbak Ayu untuk biaya cetak buku. Uang yang cukup besar bagi pengangguran sepertiku. Dan akan aku kembalikan setelah buku itu laku, itu rencanaku.
Sebelum buku itu benar-benar terbit, Ada lowongan kerja. Justru yang sibuk mencarikan kerja adalah Mbak Ayu. Sementara aku terus berkutat pada imajinasi yang aku sendiri pun belum benar-benar yakin bisa mengubah hidupku.
Karena Self Publishing, tak butuh waktu lama untuk terbit. Terbit sebelum aku memutuskan untuk mengambil lowongan kerja itu. Tapi yang kuhadapi adalah kebingungan maha ngungun. Aku tak bisa memasarkan buku itu. Kurang pede iya. Ditambah kesulitan mencari pasar.
***
Berat rasanya memang, dari pengangguran lama memulai untuk bekerja. Ini adalah yang pertama kali ruhku akan mengembara, sejauh ini. Ruang yang tak pernah ada dalam imajinasiku. Terlalu banyak bayangan indah selama ini. Bus menderu, bersamaan degup jantungku. Keberangkatan yang menggetarkan sekaligus pembebasan ruang dunia sepiku. Muka dunia membuatku tersesat. Beragam model wajah tak kutemui dalam duniaku sebelumnya.
Ah, kemana saja aku ini? Berkubang dalam kesepian membuatku sulit berkembang lebih dewasa. Hanya ketenangan yang kudapat. Selebihnya aku tersiksa. Makin tak berarti dan tersingkir di tepian hari.
“Ini bakal jadi pengalaman buat kamu, Pi,” kata Lik Warti membuyarkan lamunanku. Dia yang mengajak dan yang akan bekerja bersamaku nanti. Dia adalah adik dari Bapakku “Tak usah malu-malu, harus tatag jika hidup di perantauan,” sambungnya lagi.
“Ya.” Aku tak mampu menjawab lebih dari ya, aku gugup dengan kata perantauan.
“Mumpung belum punya tanggung jawab yang banyak. Semakin besar umurmu kebutuhan semakin banyak,” katanya lagi.
Dia juga sedikit bercerita tentang pengalamannya bekerja di Malaysia, juga di tempat pemilahan plastik yang tak terpakai. Semacam botol atau gelas air mineral, plastik sisa buangan dari pabrik, semua dipilah berdasarkan jenisnya. Semua akan diproses ulang jadi biji plastik. Dan tugas kita nantinya hanya memilah.
Aku membayangkan, mungkin tak terlalu sulit jika hanya memilah. Tidak memerlukan tenaga besar. Ah, mungkin selama ini otakku terlanjur melabeli diri sendiri lemah yang justru makin melemahkanku, pikirku lagi. Sering kali aku punya dua bahkan lebih pemikiran di waktu yang besamaan.
Cilacap-Bogor, perjalanan menuju petempuran besar yang penuh getaran rasa takut memenuhi dada. Kudengar kekejaman dan kebisingan kota, bahkan aku pernah melihatnya sendiri beberapa kali. Saat SMA liburan ke Ancol, juga saat mendaftar Patigat, dulu menginap di kontrakan Mbokde di Cengkareng. Kulihat banyak pertempuran di jalanan. Melawan kemiskinan, rasa lelah, bahkan rasa malu. Para pekerja kasar yang mencari sesuap nasi bersesakkan di jalanan. Kesadaranku mulai terbangun. Hidup harus dijalani, bukan hanya mendekamkan mimpi-mimpi dalam pikiran.
Sepertinya aku selalu tidak siap akan tantangan. Dunia sepi benar-benar membuatku lunak. Dunia ramai mematikan langkahku. Sementara kakiku belum mampu berpijak di dua dunia sekaligus. Belum berani bersikap keras pada diri sendiri.
Setelah perjalanan hampir 12 jam. Ditambah dingin ac bus dan hawa hujan yang menusuki jaket yang kupakai selama perjalanan. Sedikit membuat perut mual dan pening kepala yang kurang tidur. Sampai di terminal kota Cileungsi saat pagi menjelang, pun di sana juga gerimis. Memaksa kita meneduh di balai-balai yang berjajar kursi-kursi tunggu. Hanya ada beberapa orang saja, kita berdua, petugas loket dan tiga orang yang sedang berbincang dengan bahasa entah. Terlalu cepat pengucapannya, bahkan aku tak bisa menerka bahasa sunda atau bukan.
Tak berapa lama ada beberapa orang datang lagi dan lagi. Bus-bus besar berlorek orange berulang kali berhenti dan membawa penumpang menuju bandara Soekarno Hatta. Itu yang kubaca dari tulisan di badan bus, juga kudengar percakapan petugas loket.
Lik Warti berusaha menghubungi Pak Sugeng, yang akan menjemput kita. Orang yang menyediakan tempat untuk kita tinggal dan bekerja. Soal plastik yang akan dipilah, ada sendiri orang yang memasok. Tentu antara Pak Sugeng dan pemasok kemungkinan sudah ada kesepakatan tentang penyediaan tempat sekaligus pemberian makan dua kali sehari. Atau bukan kerja bebas. Upah yang kita dapat dipengaruhi itu.
Hingga tersisa serepihan gelap yang perlahan tersapu pendar matahari pagi. Gerimis tak lagi setia menemani. Aktivitas mulai ramai. Lampu-lampu di pinggir jalan satu per satu mati seakan tak berarti lagi. Bunyi klakson kendaraan yang menggerung-gerung dan para pejalan kaki pelan-pelan meruah di jalanan. Ruko dan lapak pinggir jalan mulai melek. Dua jam lebih duduk dan belum juga ada kabar dari Pak Sugeng.
Akhirnya bisa dihubungi sebelum HP Lik Warti mati kehabisan daya. Tapi harus menunggu lagi. Lumayan jauh dari terminal kota Cileungsi, katanya. Aku merasa linglung dalam suasana baru yang ramai.
“Mas Fahri dulu pernah bekerja di tempat Pak Sugeng, Pi. Aku kesini itu tanpa sepengetahuan mas Fahri, kalo sampai tahu dia mungkin marah.”
“Apa sebab?”
“Ya takutnya dikira main sama orang yang gak jelas."
“Bukannya justru kalo jujur jadi tak salah kira, Lik?”
“Kamu belum tahu tentang keluarga, Pi. Bisa juga malah penangkapannya beda, Pi. Mungkin bakal berpikir kalo dianggapnya suami gak becus menafkahi keluaraga. Sampai sampai ninggalin anak buat cari tambahan. Padahal di sini aku bekerja buat kita, keluarga.”
“Sekarang masih melaut?”
“Ya. Di Bali.”
Aku masih terlalu payah tentang masalah keluarga. Meski aku sendiri sudah masuk dunia keluaraga, hanya saja sebagai anak. Semua bakal berubah jika ada Bapak. Anganku melayang lagi.
Tak lama, perhatian Lik Warti melongak-longok menggerakkan kepalanya “Apa mungkin itu ya, Pi?” tanyanya, mataku mencoba menangkap sosok yang dimaksud.
Lalu Lik Warti beranjak untuk melihatnya lebih dekat, laki-laki berumur sekitar setengah abad. Memang berulang kali dia terlihat melihati layar HP-nya dan sesekali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru mata angin. Seperti mencari seseorang. Lik Warti memang belum pernah melihat seperti apa orangnya, hanya sms-an layaknya saudara sendiri, karena mas Fahri pernah bekerja untuknya. Sebelum akhirnya pergi melaut.
Lik Warti melambaikan tangan. Akhirnya dia melihat ke arah kami “Hayok, Pi! Mungkin dia benar orangnya,” ajaknya sambil membawa tas miliknya. Aku mengikuti di belakangnya.
“Pak Sugeng ya?” Tanya Lik Warti sambil mengarahkan telunjuknya ke arah laki-laki itu.
“Ya.” Dia mengangguk.
“Lha kok nggak pake mobil jemputnya?” kelakar Lik Warti.