Sehelai Jiwa Sepi

Suyat Aslah
Chapter #15

BAB 15

PEKERJAAN BARU


Aku pulang dengan lungkrah. Masih jam tiga pagi. Pintu kuketuk dengan sisa tenaga. Tak lama berselang, Ibu membukakan pintu. Kerjap matanya berusaha menembus kegelapan. Memperhatikanku secermat ilmuan yang meneliti obyek rumit. Memperhatikanku dari muka sampai kaki. Sementara Lik Warti sudah masuk ke rumahnya, berada di sebelah.

“Ha-yok! Ma-suk.”

Aku mengangguk tanpa kata, dengan langkah yang kurasa kikuk. Rupanya Ibu tidur di ruang depan. Di kursi panjang ruang tamu ada sebuah bantal. Kudengar juga suara dengkuran panjang.

“Abis lembur ya, Bu, Mbak Ayu?”

“Iya ba-ru ti-dur di-a.”

“Maaf ya, Bu. Aku nggak betah di sana.” Suasana masih sangat hening, hingga Ibu bisa mendengar suaraku lebih jelas.

“Nggak pa-pa. Ka-lo di-teru-sin ju-ga nggak bag-us. Dua ming-gu su-dah se-kurus ini,” kata Ibu sambil meremas-remas tengkukku. Tersenyum memang, tapi kulihat senyumannya berubah. Mata Ibu mengembun, terdengar desahan berat lalu mendekapku.

“Maaf, Bu,” rintihku dalam hati.

Seperti ada tombak yang menusuk hingga relung terdalamku. Sungguh, waktu-waktu panjang yang Tuhan beri selama ini, aku biarkan hilang tak berkesan. Aku habiskan sendirian, tak melihat efek di masa depan. Sebenarnya ada ketakutan sejak dulu. Namun sebatas ketakutan. Yang justru membatasiku.

“Ya u-dah, isti-ra-hat gih,” ujar Ibu. Aku mengangguk.

Karena letih yang teramat. Aku hempaskan tubuhku pada tempat tidurku, aku menyerah pada rasa kantuk. Baru berbaring saja hampir memasuki batas mimpi. Melayang ringan di bawah seratuspersen kesadaran. Namun seperti benar-benar nyata.

***

Aku tersentak! Wajahnya ia pasang tepat di depan mataku. Saat kesadaran belum sepenuhnya milikku.

“Hayo! Hwahaha….” Dia ketawa meledak melihat ekspresiku.

Kututup wajahku dengan bantal, namun ditarik Mbak Ayu. Kupikir baru tidur beberapa menit yang lalu. 

“Noh, ayam-ayammu udah teriak-teriak, pengen keluar mereka.” Aku masih terlalu malas menanggapi omongannya. Masih ngantuk iya.

“Eh, ada lowongan kerja mau nggak?”

“Di mana?” aku menjawab sedikit enggan setelah beberapa jenak.

“Di rumah makan. Temen Mbak dulu yang kerja di retail perbelanjaan ngasih tahu kalo rumah makan di sebelahnya, ada lowongan. Mau nggak?” dulu Mbak memang pernah keja di konfeksi dekat retail, sebelum pindah di rumah makan tak jauh dari rumah.

“Boleh,” jawabku tak berpikir lebih dulu.

“Seriusan?”

“Iya.”

“Ok. Aku telpon pemilik rumah makan itu. Mbak sudah akrab banget, sering makan di situ. Bu Darmi namanya.”

Sekitar lima menitan mereka bercakap. Mbak sempat juga tebahak-bahak entah sebab. Seperti orang gila yang kesurupan. Bahkan hanya menyinggung sedikit tentang lowongan. Selebihnya omongan kosong belaka.           

“Udah, nanti sore kita ke sana langsung. Eh, kamu kurus banget. Sekarang udah tahu rasanya nyari duit, kan?”

Aku nyengir saja. Lalu Mbak Ayu melempar bantal ke wajahku.

“Udah, cepet bangun!” tegasnya sambil keluar kamarku.

***

Ayam-ayamku menatapku sambil memicingkan matanya, terlihat bingung. Sebelumnya dia begitu jinak padaku dan liar pada orang lain. Saat kuangkat tanganku mendatar dan kurendahkan, beberapa langsung lompat dan nangkring di tanganku. Saat aku jongkok memberinya makan, ada yang beterbangan di punggungku. Dua minggu aku tinggal, tak sejinak sebelumnya. Juga terlihat berbeda ukuran tubuhnya, sedikit lebih blongsor. Maklum aku tak bisa mengukur pertumbuhannya setiap hari.

“Pi, nanti disembelih satu ya? Katanya Ibu pengen ayam masak kecap,” kata Mbak dengan sebilah soled di tangannya.

“Kata Ibu apa Mbak? Ha?”

Dia nyengir-nyengir sambil ngeloyor ke dapur. Aku berusaha meraih salah satu ayam jantan yang masih muda, berukuran dua kepalan tangan orang dewasa, akhirnya ketangkep juga setelah berusaha menghindar takut padaku.

“Buat hidangan perpisahan gitu. Setelah itu kan kamu jarang ada di rumah, ngahaha….“

“Bukannya lagi masak ayam?”

“Ayam apaan. Tempe bacem ini.”

 

Matahari terlalu cepat melangkah. Aku menatap wajahku pada cermin. Kulihat diri yang lebih kurus dan sedikit lebih dekil dari sebelumnya. Aku tak tahu takdirku selanjutnya. Aku kembali terdiam dan memahami, meski aku tetap tak mengerti. Kupandangi gelang warisan Bapak yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Kutarik napas dalam dan kuembuskan semua, terasa berat di dada.

Ibu masuk ke kamarku sambil tersenyum sumringah. “Ud-ah si-ap, Pi?” tanyanya sambil mengusap kepalaku.

“Udah, Bu.”

“Hayok, Pi!” Mbak Ayu teriak dari luar rumah, sudah siap dengan sepedanya.

“Bu, aku mau pamit ya, mohon do’anya, Bu.”

“Iya,” desah Ibu pelan sambil mengangguk lembut dan mengusap kepalaku lagi.

Sepeda melaju ditenagai jejakan kaki Mbak Ayu. Tak peduli jalanan yang berbatu. Sesekali menyapa para tetangga yang berada di pinggiran jalan, dengan aktivitas sorenya. Sesuatu yang tak bisa kulakukan selama ini. Menyapa orang lain adalah sesuatu yang sulit aku lakukan.

“Mau dibawa kemana itu, Yu?” Tanya Wak Sanem.

“Jalan-jalan,” kata Mbak ngasal.

“Jadi kurus banget si Upi,” gumam Wak Sanem lirih. Tapi aku mendengarnya.

“Mbak cuma bisa nganter ke rumah temen Mbak. Nanti kamu mbonceng dia ya. Kebetulan dia kerja shift sore. Eka namanya,” ujarnya padaku.

“Perempuan?“

“Iya, nanti jangan grogi lho… hik… hik.”

“Ah, apaan.”

“Dia manis lho.” Dia terus menggodaku.

“Eh, surat yang dari orang misterius, dulu itu siapa Mbak?” aku balik menggoda.

Lihat selengkapnya