Sehelai Jiwa Sepi

Suyat Aslah
Chapter #16

BAB 16

 MENCOBA BERTAHAN


Bahagiaku diikuti rasa takut. Hari pertamaku bekerja, gerakku masih gamang. Bahkan tak tahu apa yang harus dikerjakan. Berbeda dengan temanku yang sudah tak perlu diperintah lagi, menjalankan tugasnya masing-masing. Gerakannya pun gesit dan lihai. Membuatku makin tak percaya diri. Aku masih kebingungan di sini. Di antara kamar mandi dan dapur.

“Pri! Sini… di situ banyak nyamuk,” panggil Bu Darmi yang sedang mengawasi karyawannya bekerja.

“Sudah kenalan sama karyawan lain, kan?”

“Sudah, Bu.” Aku menjawabnya dengan ragu.

Menu utama yang ada adalah nasi goreng. Kebetulan dapurnya berada di depan, hingga semua pembeli bisa melihat suasana memasak. Yang kudengar Rumak makannya ini adalah warisan suaminya yang meninggal empat tahun lalu karena serangan jantung. Bu Darmi adalah yang memegang penuh kepemilikannya. Sementara dari pernikahannya dikaruniai anak satu, perempuan, berusia seumuranku.

“Duduk aja di situ dulu, kamu amati semua yang ada di sini ya,” ujarnya.

Aku mengikuti arahannya. Kulihat suasana telah ramai pembeli. Sigit dengan gerakan cepat menata kertas bungkus yang dibentuk dengan piring lalu menjajarkannya di atas meja. Kuhitung ada sekitar sepuluh kertas bungkus yang tertata. Sementara Arif menakar nasi yang akan dimasak Darto, koki satu-satunya sekaligus keponakan Bu Darmi. Darto mengoseng-oseng telor yang dicampuri bumbu entah hingga menguarkan bau harum menggelitik hidung. Membuatku ingin bersin-bersin. Tapi aku berusaha menahannya. Sebaliknya, aku mendengar kor bersin dari pembeli yang duduk dan ada juga yang berdiri karena tak dapat kursi tunggu.

Aku semakin gamang karena hanya diam saja. Bahkan ada beberapa pembeli melihatku dengan tatapan yang makin membuatku panik dan salah tingkah. “Eh, itu karyawan baru ya?” tanya salah satunya pada Sigit sambil menunjuk ke arahku. Di jawabnya hanya dengan anggukan oleh Sigit.

Aku mencoba mengarahkan perhatianku pada yang lain. Kulihat Darto menggebuk-gebuk wajan yang telah berisi nasi yang ditakar Arif. Entah kenapa harus digebuk seperti itu. Gerakan tangannya sudah mahir, lalu memberinya luluran kecap sedikit demi sedikit.

“Yang nggak pedes tadi satu ya, Rif?” Tanya Darto.

“Ya.” Arif menjawab, Darto mengangguk.

Setelah diolah dan digebuki, Darto meminta pembungkus satu untuk diletakan di dekatnya. Lalu menyendok nasi goreng dalam wajan dengan satu serokan, aku baru pertamakali melihat spatula sebesar itu.

Arif langsung mengamankan, menaburi sedikit bawang goreng, menambahkan buah timun yang telah dipotong-potong, dan beberapa biji cabe gigit. Lalu membungkusnya dengan gerakan membingungkan dan cepat, namun hasilnya sungguh rapi terlipat.

“Git, itu!” ucap Darto sambil menunjuk. Aku masih asing dengan benda yang ditunjuknya. Dengan sigap sigit menggeret benda beroda dengan besi melingkar di bagian atasnya untuk meletakan wajan berisi nasi goreng yang sudah matang. Lalu mendorong benda itu ke dekat kertas bungkus yang tertata rapi, membaginya pada tiap bungkusan hingga terisi semua. Lalu Arif memanggilku. Aku langsung beranjak. Rupanya untuk diajari cara membungkus.

Tanganku masih terlalu kaku untuk lipat sana lipat sini, bahkan saat Sigit mengajariku tanganku tetap gamang bergerak. Hasilnya pun kurang rapi. Aku malu benar, apalagi ada pembeli yang sengaja melihat-lihat saat kita membungkus.

“Satu bulan di sini, pasti pintar membungkus nanti,” kata Bu Darmi yang juga melihat aku membungkus, aku tersenyum tercampuri malu.

“Pokoknya amati saja cara kerjanya, termasuk bagaimana melayani pembeli, pasti cepet bisa,” sambungnya

Lihat selengkapnya