PERTEMUAN PALING MENGGETARKAN
Dan aku merasakannya dalam nyata. Waktu seakan terlalu angkuh untuk mengucap permisi. Sudah hampir dua tahun aku merantau. Di tempat yang tak penah kuduga sebelumnya. Teramat kagumi rencana besar Tuhan mendesain setiap mahluk dengan cerita yang berbeda dengan tokoh yang datang silih berganti, tapi aku terlambat memahami.
Sekarang aku tahu bagaimana rasanya mencari kehidupan, bukan kekosongan di hati. Semenjak aku keluar dari duniaku, aku merasa ada yang berbeda. Begitu pun menurut Mbak Ayu dan Ibu. Lebih percaya diri, murah sapa dan senyum. Banyak orang yang suka dengan pribadiku yang sekarang. Aku pernah mendengar ‘bahkan sebuah senyuman bisa mengubah dunia,’ ya, kurasakan duniaku berubah sekarang. Dan aku suka dengan duniaku sekarang.
Meski begitu, panggilan jiwaku masih sama. Menulis adalah caraku bicara. Tiap kalimat adalah tali jiwa yang memanjang, mengikat segala luka, harapan maupun do’a. Di sanalah ruhku berada. Dunia imajiner ciptaanku, yang kuharap juga bisa mengubah dunia yang lain.
Setidaknya aku sedikit bisa memberi sesuatu pada Ibu, tak banyak memang. Meski Ibu selalu menolaknya, tapi aku memaksa Ibu menerimanya. Aku pun bisa melunasi hutangku pada Mbak Ayu. Meski Mbak tak pernah menagihku, atau berharap aku segera melunasinya. Bahkan Mbak Ayu mendorongku untuk bekerja, hanya demi kehidupanku di masa depan. Sekarang aku tahu susahnya Mbak Ayu mengumpulkan uang yang dulu aku pinjam itu. Tapi mbak tak mau menerima uang yang kukembalikan itu. Tapi aku pun memaksa Mbak Ayu menerima uang itu.
Dari penghasilanku yang tak banyak, sedikit puas rasanya bisa membeli barang dari hasil tetesan keringat sendiri. Laptop bekas telah kumiliki. Butuh waktu tiga bulan aku menabung. Menyingkirkan sementara kebutuhan yang lain. Demi memudahkan menyelesaikan proyek novel yang mangkrak hampir dua tahun lamanya. Meski sangat sulit membagi waktu, karena jam kerja siang malam. Saat selesai kerja, tinggal lelah yang kurasa. Dan biasanya penyakit malasku kambuh. Akhirnya proyek pun tertunda berkalik-kali. Belum lagi writerblock yang selalu menggelayut di kepalaku.
Tapi nasib bersuara lain. Rumah makan Bu Darmi akan tutup empat bulan lagi. Ada perubahan kenaikan biaya sewa ruko, katanya. Dan Bu Darmi tak lagi sanggup membayarnya. Awalnya hanya 10 juta pertahun, dan sudah dia kontrak selama 10 tahun. Pernah juga naik jadi 13 juta pertahun. Dan sekarang akan dinaikkan lagi jadi 15 juta. Sementara pembeli tak se-ramai dulu. Sudah banyak sekali penjual nasi goreng sekarang, baik penjual keliling maupun pangkalan.
Tapi Bu Darmi memahami itu, karena itu tarif bertahun-tahun lalu, sekarang wajar berbeda. Dan dia akan kembali ke kampung halamannya, Tegal, membuka kehidupan baru, menggarap sawah dan kebun hasil dirinya menabung selama membuka rumah makan di kotaku, Cilacap.
Dan aku punya keinginan, buku keduaku terbit sebelum aku keluar. Sebelum menganggur kembali. Aku masih kebingungan mencari pekerjaan setelah ini. Setidaknya setelah bukuku terbit, bisa jadi kesibukan sementara, sambil melirik lowongan kerja di sekitarku saja. Setidaknya itu rencana ke depanku.
Sempat aku merasa tak sanggup melanjutkan menulis. Masalah waktu pekerjaaan membuatku berpikir berlipat-lipat. Aku tak tahu lagi harus bekerja yang seperti apa. Bahkan aku sering sakit, karena kupaksa tubuhku kurang istirahat. Tidur hanya kurang dari enam jam sehari. Agar bisa menyelesaikan proyek novelku.
Jika memang harus terbit sebelum aku keluar, maka penerbit mayor tak masuk dalam tujuan aku mengirim naskah. Meski dalam hatiku ingin tembus penerbit mainstream. Tapi ada alasan lain yang jadi dasar penyebab aku lebih memilih self publishing. Bukan hanya ingin cepat terbit dalam hitungan satu minggu. Aku tak begitu percaya diri dengan karya sendiri, masih menganggapnya sampah. Sekelas recehan yang terlalu mudah dilupakan nominalnya.
Entah kenapa juga aku tak suka menulis cerita yang happy ending. Sad ending adalah cerita dengan keromantisan paling zenith jika menyangkut tentang cinta. Seakan jadi alur paling seksi bagi pengembaraan jiwa yang dimabuk cinta. Dan mereka berdua tetap dalam imajinasiku. Dua sahabat paling seksi dalam pandanganku. Dian dan Aisyah. Di manakah ruhmu mengembara?
Di sinilah aku sekarang. Melamunkanmu dalam geming dijamah sepi. Dunia maya yang selalu ingin kutelusuri. Tapi rasaku kian tak pasti. Untuk sekarang aku bukanlah orang yang berhasil dalam materi.
Tiba-tiba pesan masuk ke ponselku, dari Mbak Eka. Sekedar pesan pendek dan hanya menanyakan kabar. Lalu pada akhirnya pembicaraan lewat pesan singkat perlahan sedikit melupakan sejenak pergulatan batin yang kurasa. Lebih ke topik nasibku setelah benar-benar keluar dari bekerja. Beberapa hari ini memang dia begitu perhatian padaku. Bahkan mungkin sejak awal aku berinteraksi dengannya. Dia selalu dengan senang hati mau menerima pembicaraanku jika aku ingin bicara. Sekedar bicara, bukan curhat. Aku adalah tipe orang yang suka memendamkan masalahku sendiri. Termasuk rasaku.
Entah benar atau tidak, Mbak Ayu penah bilang dalam candanya.“Mbak sering kontak dengan dia, seperti ingin tahu dirimu lebih dalam. Mungkin dia suka kamu, Pi,” katanya.
“Tentang?” tanyaku.
“Semua tentangmu. Bahkan yang remeh temeh sekalipun.”
Aku kembali bermain tafsir. Apa mungkin semua perhatiannya padaku memang ada sebuah kecenderungan perasaan. Aku masih tak mengerti.
***
Akhirnya aku menyelesaikan bukuku, terbit dua bulan sebelum habis masa kerjaku di Rumah makan Bu Darmi. Cover dan naskah telah aku kirim beserta formulir yang kuisi lengkap. Harga buku telah aku tentukan sendiri. Sedikit belajar dari sebelumnya, buku pertama yang terbit prematur. Kali ini aku lebih berusaha teliti dalam pengetikan, kuharap tak banyak typo lagi. Dan sedikit belajar mendesain sampul sendiri.
Hanya butuh waktu beberapa hari setelah pengiriman naskah dan kelengkapannya, buku telah terbit dan bisa dibeli secara umum dengan system PoD. Aku pun segera mengumumkannya pada teman maya. Sebelum ini pun sudah memberi aba-aba bahwa akan segera terbit buku keduaku.
Sekarang aku telah resmi tak lagi jadi karyawan Bu Darmi. Aku pulang, seperti biasa aku menunggu di halte Blue moon yang beratapkan rimbunnya pohon entah. Kali ini aku hanya sendirian saat hujan menunggu tumpahnya. Awan serupa begawan mengangkangi dunia. Suara gerimis perlahan berdentaman menghantam dedaunan dan jatuh ke dedaunan yang lain. Beberapa lolos ke wajahku. Hampir 15 menitan, sebuah bus mendengus di depanku.
“Maos-Sampang… Maos-Sampang,” teriak Kernet. Itu adalah jurusan bus yang kutunggu.
Kuanggap ini hari yang biasa. Wajah si Kernet pun tak asing lagi. Pulang di jam pagi begini biasanya sesak anak sekolahan, tapi hari ini hari minggu. Aku yakin tak sesesak hari biasa, karena tak ada anak sekolahan.
Benar saja setelah aku naik lewat pintu depan, masih banyak ruang duduk yang kosong. Aku mengedarkan pandanganku, tempat duduk favoritku adalah di kursi paling belakang, di pojok kanan. Dan kebetulan belum ada yang menempati. Langkahku sambil menjaga keseimbangan. Tanganku berpegangan pada kursi-kursi. Sebelum aku sampai, kulihat tepat di depan kursi yang akan kududuki. Ada seseorang yang seperti aku kenal namun belum begitu jelas, masih terhalang kursi di depannya. Seakan petir menyambar di atas kepalaku. Mataku menangkap sosok dari masa lalu, Aisyah, yang sedang mengandung. Di sebelahnya duduk seorang muda, seumuranku. Memakai kacamata dengan gaya rambut rapi berbelah kiri. Aku menduga dia adalah suaminya. Namun yang pasti, bukan Anton.
Tapi Aisyah belum menyadari kehadiranku. Sedang sibuk membaca sebuah buku. Bahkan buku yang dipegangnya juga merebut perhatianku. Itu adalah buku aku yang baru terbit. Entah dia tahu dari mana atau memang ini hanya sebuah kebetulan, karena aku menggunakan nama pena bukan nama asli.
Bahkan saat aku lewat di sampingnya, dia masih sibuk dengan bukunya. Kulihat dia tersenyum menyungging sendiri sambil tetap suntuk pada buku. Sementara aku tak punya keberanian untuk menyapa. Malah kuharap jangan sampai tahu kehadiranku. Langsung aku duduk tepat di belakangnya.
Ada semacam gejolak yang sulit kuredam. Menggelombang dengan ritme tak jelas. Mengikis tiap sendi kekuatan tubuhku, seakan hanya ragawi yang kupunya sekarang. Mati-matian aku merendamnya dalam diam.
“Jam berapa sekarang, Yang?” Panggilan spesial itu menusuk telingaku. Aku sudah pasti, dialah suaminya. Tapi Aisyah masih terdiam. Mungkin tak mendengar. “Yang, jam berapa sekarang?” ulangnya
“Owh, ehm… jam delapan,” jawabnya.
“Buku yang memikat?” ucapnya seraya mendekatkan tubuhnya.
“Iya, kata-kata yang mengalur indah, malah ada bagian yang seperti hidupku.”
“Ah, mungkin itu bagian dari ilusi ciptaan si penulis. Dan kau telah diperdaya olehnya.”
“Mungkin.”
“Siapa penulisnya?”
“Nama yang aneh, aku yakin ini adalah nama pena. Di bagian belakang juga tak ada riwayat tentang penulis. Mungkin dia gila misteri.”
Laki-laki itu mengangguk-angguk. Entah hatiku sedang diserbu perasaan entah. Seperti sulit untuk bertahan apalagi menahan.