SUARA YANG HILANG
Di mana suara-suara itu? sudah dijarah sunyi dalam lembah luka, kah? Semua tak terbentuk lagi. Tak ada yang memekaki telinga. Menepuki pundakku sambil tertawa tak habis-habisnya. Mencandaiku dengan kekonyolan tak terduga. Terkadang juga berdebat denganku dengan suara tak terbantahkan. Kadang juga jadi yang melindungiku dari sejurus kemungkinan yang melukai. Rumah hanya tempat bagi kesunyian yang meraja saat ini. Meronggakan maha keheningan di dalamnya yang tak jua punah. Hari yang tak biasa.
“A-da ka-bar da-ri A-gus?” Ibu mendekati Mbak yang termenung.
“Nggak ada, Bu,”jawabnya lemah.
“Ka-mu ma-sih ber-ha-rap?”
Tak ada jawaban. Hanya diam dan menatap kosong. Tatapannya tetap di titik yang sama. Perlahan air matanya menggenangi cerukan matanya. Karena sesenggukan yang tiba-tiba mengguncang tubuhnya, air mata itu menderai di pipinya. Buru-buru Ibu memeluknya dengan sayang. Tapi tangis Mbak makin pecah. Baru kali ini melihat Mbak menangis. Sangat kontras dengan pribadinya yang tomboy. Di saat suasana yang makin menyedihan saja, datang seseorang yang mengetuk pintu keras-keras. Buru-buru kubuka pintu. Kudapati Wak Sanem merentangkan tangannya di depanku mengenakan baju dua lapis, lapisan terluar adalah baju yang baru dijahit kemarin. Mungkin ingin menunjukan padaku kondisi baju yang kedodoran.
“Ayu mana? Ini malah kegedean gini,” ujarnya.
“Ehm, Mbak Ayu lagi…“ belum selesai aku menjawab, kulihat Mbak menghapus air matanya dengan cepat. Kupikir dia siap menerima tamu. “Iya, itu ada di dalam,” kataku akhirnya.
“Ayu, kok bisa kedodoran, pasti salah ngukur,” ujar Wak sambil melepas baju itu untuk ditunjukkan pada Mbak.
“Enggak Wak, itu udah aku samain dengan baju yang Wak bawa buat contoh kemarin.” Masih dengan suara beraksen sedih.
“Udah sama tapi kok nggak pas di badan.”
“Kemarin kan aku Ayu udah bilang, Wak! Baju kemarin yang buat contoh itu katanya terakhir dipakai dua tahun lalu. Kalo bajunya yang membesar kayaknya nggak mungkin. Kemungkinan badan Wak yang mengecil. Kan Wak sendiri yang bersikeras supaya baju itu buat contoh.” Sedikit dipengaruhi emosi.
“Lha! Ngmong sama orang tua kok gitu!”
“Kemarin kan aku udah ngasih saran buat ngukur badan aja,” kata Mbak Ayu lagi.
“Ssssts,” desis Ibu lembut pada Mbak.
“Ya udah, besok-besok nggak bakal njahit ke sini lagi. Nggak sopan!” Wak Sanem beringsut pergi.
Ibu ingin mengucap sesuatu tapi Wak Sanem keburu pergi dengan langkah marahnya. Mengumpat sepanjang langkah. Ibu memberiku isyarat untuk menyusul Wak Sanem.
“Wak!” Wak sanem berhenti, menoleh ke arahku. “Anu, maafin Mbakku, lagi ada sedikit masalah.” Suaranya aku pelankan. Berharap tak ada orang lain yang mendengar.
“Bilangin tuh Mbakmu. Biar tahu sopan santun,” ujarnya.
“Ya, Wak. Mbok mau dikecilin lagi bajunya, nanti Ibu yang jahit.”
“Nggak bayar lagi, kan?” katanya mulai melunak.
“Enggak. Dikecilin berapa senti?”