Sehelai Jiwa Sepi

Suyat Aslah
Chapter #19

BAB 19

 HIDUPKU YANG BARU


Hari ini kembali. Berkumpul lagi dalam rumah yang sama sekali tak ada bekas renovasi. Aku jadi pengangguran lagi. Mbak masih setia dengan mesin berkarat yang belum juga menyingkirkan melarat. Hari yang biasa berat. Tiap napas menarik perih. Tak ada yang serba lebih. Pun tak ada isyarat tentang masa depan.

Bedanya, aku mulai berpikir waras sekarang. Usia yang sudah 23 tahun lebih, baru kutemukan gairah hidup yang baru. Pandanganku lebih luas tentang makna kehidupan. Kurasakan bentang dunia yang tak sebatas khayalanku. Lebih luas dari duniaku sebelumnya yang terbatas. Baru kusadari juga, dunia bebas adalah penjara yang lebih besar dari diriku sendiri! Inilah saat dimana jiwa baja dibutuhkan untuk menghadapi kebengisan dunia yang merimba.

Mencari kerja sama sulitnya mencari keberuntungan. Dimana keajaiban dibutuhkan untuk mengambil peran. Semua bisa terjadi tanpa memandang seberapa besar harapan. Inilah dunia yang kupandang sekarang. Kugenggam harapan dalam kepalan. Kuberanikan diri melintasi zaman yang kian menantang.

“Jadi kamu mau kerja apa?” tanya Mbak Ayu.

“Belum tahu.” Aku menjawab lemah.

“Setidaknya udah Mbak kasih pilihan, untuk belajar menjahit.”

“Ibu pun sama, memberiku pilihan.”

“Untuk?”

“Aku belum siap untuk itu.”

“Ya pada akhirnya ada padamu. Di saat kau bisa memilih dan berani mengambil kesempatan, sementara resiko juga ada di dalamnya, baru kau akan merasakan kehidupan yang sebenarnya,” ujarnya. Sebelum melanjutkan, matanya seperti menerawang ke masa entah. “Kau beruntung. Hidup dari orang yang memberimu pilihan untuk hidup,” katanya lagi.

“Sama, kan?” ujarku. Pembicaraan kita melambat tiba-tiba.

“Tidak. Mbak tak seberuntung dirimu. Seseorang tak memberi Mbak kesempatan memilih. Bahkan sebelum bisa memilih. Hingga sampai pada batas mulai bisa berpikir. Di titik itulah Mbak merasa benar-benar terbuang.” Pijar matanya menggambarkan sesak di dada.

“Seseorang?” tanyaku memperjelas.

“Ya. Seseorang yang tak pernah masuk di bilik ingatan.”

“Bisa diperjelas lagi.” Aku mulai penasaran.

“Mungkin kau sudah seharusnya tahu, Pi. Harusnya sejak dulu.” Dia menarik napas dan menghembuskannya lebih dulu sebelum melanjutkan, “Andai kaupandai bergaul sejak kecil, mungkin kau tahu tanpa Mbak memberi tahu. Akan tahu dari orang-orang. Kau ingat ujaran tentang ‘anak yang kurang jelas asal-usulnya’?”

Aku kembali membuka bilik ingatan. Kutemukan, dulu waktu Ibu Andri memarahiku dan Ibu habis-habisan. Itu adalah waktu pertamakali mendengar ujaran seperti itu.

“Kau tahu anak yang dimaksud itu siapa?” tanyanya sedikit tersekat di tenggorokan. Itu adalah pertanyaan yang sudah lama mendekam di kepala dan batinku. Mengganjal di sepanjang syaraf sadarku. Sejak dulu belum ada keberanian untuk bertanya. Sejak itu juga malah merasa akulah anak yang dimaksud.

“Itu adalah Mbak, Pi. Mbak tak jelas asal-usulnya.” Air bening melintas cepat di pipinya, namun tak sampai sesenggukan. Hanya kata yang terucap bergetar. Sungguh aku tak menyangka. Sesuatu yang tak pernah ada dalam benakku.

“Benar yang Ibu Andri bilang, Mbak tak jelas asal-usulnya.” Dia terus menjelaskan.

“Apa ini lelucon?” aku menyelanya segera.

“Inilah kenyataannya! Aku dipungut Ibu dan Bapakmu, sebelum kamu lahir.” Dengan cepat pula dia menjawab.

“Kaulihat. Kita benar-benar berbeda. Wajahmu mirip Bapakmu. Matamu sepenuhnya turunan Ibumu. Sementara aku tak mirip siapa-siapa. Hanya anak yang tak tahu lahir dari persilangan siapa?”

“Mbak percaya omongan orang? Mungkin saja….”

“Kamu belum pernah merasa seterbuang Mbak, Pi,” sela Mbak memotong kataku yang belum selesai.

“Ehm, semua pernah merasakan sakit, dengan cara yang berbeda. Aku pun tak pernah tahu seperti apa sosok Bapak. Dan aku terpisahkan dengan jalan teramat menyakitkan. Kematian dan kelahiran di hari yang sama.” Aku sedikit berhati-hati dalam ucap.

“Setidaknya ada yang menyayangimu setelah hari itu.”

Lihat selengkapnya