Sejernih Kacamata Daun Belimbing

TulisZa
Chapter #1

Tanda

“Anying… oh anying… hahaha”.

Kalimat itu lagi-lagi terngiang setelah beberapa saat ia tersadar dari bangun tidurnya bahwa hari ini adalah hari Senin. Itu artinya, ia harus kembali mendengar suara itu lagi setelah sehari penuh ia berhasil menyembunyikan diri agar telinganya tak lagi mendengar suara itu barang sehari saja.

Suara melengking itu tak ubahnya adalah sebuah sapaan penuh ejekan yang dilontarkan padanya. Ia akan kesal kepada orang tuanya yang telah memberinya nama aneh tak seperti teman-temannya. Beberapa kali ia menanyakan pada ayahnya mengapa ia diberi nama tak biasa seperti itu. Nama sebuah sayur yang biasa tumbuh di sawah?. Tidak adakah nama yang lebih bagus yang terngiang di benak orang tuanya untuk disematkan di akta kelahirannya?, Ariel misalnya, Zayn yang lebih kearab-araban, atau mungkin Harry seperti nama Pangeran Inggris. Siapa tahu besar nanti ia akan menjadi terkenal seperti mereka, menjadi penyanyi kenamaan tanah air, batinnya. Alih-alih menjawab pertanyaan anaknya, ayah malah menyuruhnya bertanya pada Ibu. Sudah tahu pasti ia bahwa Ibu akan menjawab, “Bukan sayuran yang Ibu maksud, Nyung. Pokoknya Lembayung memiliki makna yang bagus!”.

Ya, namanya Lembayung, tetapi ia kerap disapa Anyung. Kalau menurut ibunya, sapaan Anyung terdengar lebih menggemaskan, meskipun Ibu juga tidak tahu persis apa arti nama Anyung. Yang jelas, Anyung adalah versi sederhana dari Lembayung, adalah versi lebih manis dari Lembayung, versi nama yang lahir tak terlepas dari proses belajar sang pemilik nama ketika berlatih bicara. Sebagaimana balita yang mulai belajar untuk mengeja namanya,

Lembayung kecil pun demikian, ia berusaha mengeja namanya dan keluarlah nama Anyung yang berarti Lembayung. Begitulah Ibu bercerita kepada Anyung mengapa orang-orang memanggilnya Anyung, menggantikan panggilan Bayu sebelumnya.

Dari sanalah asal muasal ejekan nama mulai diterimanya. Suatu ketika ia sedang menggunakan telepon genggam ibunya. Di dalam grup wali murid, Wali Kelas yang baru meminta masing-masing wali murid memperkenalkan diri sebagai wali dari siswa yang mana.

Anyung pun berniat memperkenalkan ibunya sebagai wali dirinya, dalam perkenalannya di grup kelas, ia salah mengetikkan namanya. Tahu kan, kalau huruf “u” bersebelahan dengan “i” di papan ketik. Ia salah mengetikkan nama Anyung malah menjadi Anying. Ia lantas menjadi bahan olok-olokan di sekolah keesokan harinya, sampai hari ini.

Lalu Anyung akan merengek meminta dijelaskan apa kiranya makna dari nama Lembayung selain seuntai sayuran yang ia kira biasa tumbuh dengan sendirinya pada tanah bekas padi yang ditanam para petani. Sayuran yang tak benar-benar sengaja ditanam tetapi ada memenuhi sepetak lahan untuk padi. Tetapi, jawaban Ibu masih dan mungkin akan tetap sama.

“Lembayung itu memiliki makna yang bagus, keunguan, bukan sayuran!”.

Pikirannya mulai liar seliar rerumputan yang tumbuh di sela-sela padi. Ia bepikirmungkinkah seperti namanya, ia ada karena juga tak pernah sengaja diadakan ke bumi?.

Maksudnya, apakah ia anak yang tak pernah diminta untuk dilahirkan ke dunia ini. Bagaimana menjelaskannya, usianya masih terlalu muda untuk memikirkan hal semacam itu.Tetapi ia juga tak betah lama-lama menyimpan dugaannya sendiri. Bukankah biasanya anak-anak yang masih begitu muda memang senang mempertanyakan hal macam-macam?.

Lantas ia tanyakan saja pada Ibu suatu pagi ketika ia sarapan dengan sayur kangkung. Menyebalkan sekali baginya, setiap kali melihat sayuran hijau berbentuk dedaunan, ia akan teringat namanya, lalu teringat suara-suara yang mengejek namanya. Perasaan marahnya kembali naik, apa yang disimpannya dalam-dalam dimunculkannya ke permukaan, termasuk dugaannya tentang dirinya merupakan anak yang tak pernah disengaja untuk diadakan.

“Ibu, apakah aku ini benar-benar anak Ibu?”, tanyanya tiba-tiba di meja makan.

“Jika bukan anak Ibu, kamu berharap kamu ini anak siapa?. Ya jelas kamu ini anak Ibu. Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?”.

“Kalau memang benar, tapi kenapa ibu tidak bisa menjelaskan arti nama yang Ibu beri untukku?”, ia mendesak penjelasan Ibunya.

Ibu menghela napasnya pelan, diletakkannya sendok yang digunakan makan, digumamkannya kalimat yang masih bisa didengar oleh putranya. “Ah itu lagi”.

“Kenapa kalau soal nama itu lagi, Bu?. Apakah Ibu tidak suka jika Ibu membicarakan hal itu?”.

“Bukan begitu, Nyung”. Ditunjuknya jam dinding di ruang makan mereka “Lihat, sudah setengah tujuh, kamu harus segera siap-siap. kamu tak ingin terlambat bukan?.

Selesaikan makanmu, dan bersiaplah, ya?”. Alih-alih memberi penjelasan, Ibu malah mencari alibi untuk tak menjelaskan.

Dugaan Anyung bertambah kuat. Ia mengayuh sepeda ke sekolah dengan berbagai pertanyaan tentang namanya sendiri, tentang asal usulnya. Lembayung. Bukan sayuran.

Keunguan. Ia kembali berteori. Ada dua kemungkinan yang Anyung coba telisik tentang namanya. Pertama, Ibu terinspirasi dari sayuran lembayung yang—menurut Anyung—tumbuh tanpa sengaja ditanam dan diinginkan petani. Tetapi, karena lembayung memiliki daya manfaat untuk dimakan dan menghasilkan uang jika dijual, maka petani pun membiarkannya tumbuh di ladangnya. Itu artinya dirinya juga lahir tanpa unsur kesengajaan dan keinginan dari orang tuanya—entah itu karena paksaan atau lebih buruknya ia tak dilahirkan sendiri oleh Ibunya, dalam artian, ia bukan anak orang tuanya. Karena mereka menyadari ternyata ia memiliki daya pikat yang imut dan lucu sebagaimana bayi-bayi mungil lainnya, mereka membiarkan Anyung tumbuh lalu merawatnya.

Atau yang kedua, ibunya memang benar. Lembayung yang dimaksud adalah warna keunguan. Tetapi mengapa harus ungu?. Mengapa ibunya tak memberinya suatu nama yang berarti merah dengan filosofi berani, atau putih yang berarti suci, atau warna-warna lain yang memiliki arti lebih baik dibandingkan ungu yang diidentikkan dengan janda?. Oh tidak, apakah ibunya menginginkan anaknya menjanda?. Tetapi dirinya bukan perempuan. Kalau begitu, apakah ibunya menginginkan anaknya menduda.

Menurutnya, teori yang kedua sangatlah lemah, karena ia sendiri tak yakin dengan makna keunguan yang dimaksud. Ia menolak orang tuanya menginginkan ia menjadi duda suatu hari nanti ketika ia mendewasa. Tetapi ia juga tak tahu persis makna keunguan yang dimaksudkan Ibu. “Ah, mengapa Ibu hanya menjelaskan sepotong tentang arti namaku?”, akhirnya ia menyerah dengan dugaannya ketika ia menyadari bahwa gerbang sekolah telah dekat dan ia harus siap dengan sapaan itu lagi. Dan arti namanya masih menjadi teka-teki.

“Anyuuung. Bangun. Bangun, sudah jam 6, Nyung”.

Suara Ibu dari dapur membuat Anyung ingin kembali membenamkan dirinya di balik selimutnya. Mengapa dirinya begitu enggan bangun ketika hari-hari kerja, padahal ia harus bersiap-siap berangkat sekolah. Berbanding terbalik dengan hari libur, ia malah semangat bangun pagi-pagi, lalu nonton kartun televisi atau naik sepeda di sekitar rumah. Mungkin otaknya telah mengatur setelan bahwa hari kerja membosankan dan hari libur menyenangkan.

Tapi bagaimana cara menyetel ulang agar setidaknya ia bisa melihat bahwa hari kerja tak sepenuhnya membosankan—meski kenyataannya memang membosankan.

“Anyuuung”, panggil Ibu lebih keras. Ternyata Ibu sudah berdiri di dekat pintu dan memandangi dirinya sedang meringkuk di bawah selimut. Bergegas ia kibaskan selimutnya dan memposisikan diri dalam keadaan duduk.

Tak ada wajah ceria yang dipasang Anyung ketika ia memasuki dapur untuk makan. Ayah sudah selesai makan ketika Ibu masih sibuk membereskan meja makan. Ayah bergegas berpamitan pada Ibu untuk berangkat kerja bahkan ketika Anyung belum menyentuh meja makan sama sekali. Ayah yang pekerja keras, bahkan ucapan salam dan selamat pagi untuknya pun tak ada, pikirnya.

Ibu melihat kemurungan Anyung. Ia sebenarnya tidak ingin menjawab pertanyaan Ibunya karena ia yakin betul dengan apa yang akan dikatakan ibunya seandainya ia menjawab pertanyaan itu tentang alasan kemurungan pada wajahnya. Ibunya pasti akan menjawab,

“Panggilan seperti itu memang sudah ada sejak dulu, sejak masa Ibu dan ayah sekolah pun teman-teman sering memberi nama panggilan yang aneh-aneh untuk teman lainnya. Jadi tak perlu lah kamu sampai sebegitu takut dengan panggilan yang mereka buat untukmu”.

Biasanya Ibu akan menjawab seperti itu. Tetapi lain halnya kali ini. Mungkin karena sudah bosan dengan keluhan Anyung, Ibu pun berbicara lebih panjang dari biasanya. “Lagi pula kamu sendiri yang pertama kali mengetik panggilan itu, bukan?”.

Anyung kaget betul dengan apa yang dikatakan Ibunya barusan. Apakah itu berarti ibu berada di pihak teman-teman yang telah mengejek dengan nama panggilannya dengan menyalahkan dirinya bahwa mereka tidak akan memanggilnya demikian jika ia tak salah mengetik huruf “i” yang seharusnya huruf “u”.

“Maksud Ibu ini semua salah Anyung karena Anyung yang salah mengetik nama?”, Anyung mulai kesal dengan Ibu.

“Bukan. Bukan seperti itu maksud Ibu”. Ibu diam, mencari-cari kata yang tepat untuk dirangkai agar dapat diterima anaknya.

Anyung yang tak sabar menunggu langsung mengutarakan kekesalannya pada Ibu.

“Kalau ini salah Anyung, salah ibu juga kenapa memberi nama semacam itu”.

Ibu terbelalak tak terima disalahkan oleh putranya. “Enak saja salah Ibu. Ibu memberimu nama Lembayung, bukan Anyung”. Suara Ibu terdengar lebih tinggi. “Lagi pula, kamu sendiri juga yang pertama kali mengeja namamu seperti itu saat kamu masih kecil. Sama seperti kamu sendiri yang mengetik nama Anying saat berkenalan di grup kelas”.

“Jadi memang maksud Ibu, ini salah Anyung?”.

“Anyung, kalau kamu tidak menunjukkan panggilan itu, maka orang-orang juga tidak memanggilmu dengan nama itu. Ingat hubungan sebab dan akibat”.

Anyung semakin kesal dengan jawaban Ibu, lebih kesal lagi kenapa Ibu sampai menyebut nama Anying padahal Ibu tahu bahwa ia sama sekali tak suka dipanggil seperti itu. Ia lantas meraih ransel yang diletakkan di meja dan meninggalkan ibunya sendiri yang melihat dirinya seperti tak percaya dengan apa yang barusan terjadi.

Baiklah katakanlah bahwa ini bermula dari kesalahannya mengetikkan nama panggilannya sendiri. Tetapi mengapa teman-temannya tidak meluruskan kesalahannya padahal mereka sudah tahu bahwa nama panggilannya menggunakan huruf “u bukan “i”. Lebih mengherankannya, kenapa teman-temannya begitu tertarik dengan kesalahan yang hanya dibuatnya sekali saja?. Mereka senang mengulang-ulang kesalahan itu meski mereka tahu itu adalah sebuah kesalahan, bahkan ketika kesalahan itu sudah tak lagi pernah dilakukan. “Ibu, aku hanya melakukan kesalahan sekali. Tetapi mereka mengulanginya berkali-kali”, protesnya dalam hati.

Ia sampai di halaman depan rumah ketika menyadari bahwa menurutnya Ibu juga menyalahkan dirinya atas panggilan Anyung. “Kalau saat itu aku salah mengeja namaku, itu karena dahulu aku belum sanggup melafalkan namaku dengan fasih seperti orang dewasa. Jika itu salah, kenapa Ibu malah mengikutiku?”, protesnya lagi.

Sebentar. Ia menyadari sesuatu. Terciptanya nama yang ia ketikkan dan nama yang ia lafalkan ketika ia masih kecil dahulu memiliki satu kesamaan, yaitu sama-sama melalui proses yang tak disengaja untuk dilakukan. Ia tak sengaja mengetik nama itu, dan ia pula tak menginginkan bahwa ia tak bisa mengeja nama Lembayung sehingga keluarlah dari mulutnya nama Anyung. Bukankah sama seperti bagaimana sayuran lembayung muncul di ladang?.

Pikirnya.Mengapa kebetulan sekali demikian?.

Ia marah, pada dirinya, pada ibunya dan pada orang-orang yang mengejeknya dengan nama itu. Langkahnya berat ketika ia mengetahui bahwa kakinya akan menuntunnya pada sebuah tempat di mana ia tak ingin dipanggil dengan nama ejekan. Ia bukan tak menyukai tempat itu, ia hanya tak menyukai orang-orang yang mengejeknya dan situasi yang mereka buat. Tetapi ia tahu, bahwa ia tak dapat memisahkan mereka dari tempat itu. Maka, ia saja yang akan memisahkan diri dari mereka, artinya ia akan memisahkan diri dari tempat itu, dari sekolahnya. “Biarlah aku yang menentukan ke mana kakiku melangkah, bukan aku yang mengikuti ke manapun kaki ini pergi”, pikirnya.

Ia lantas membalikkan badan, menghentikan kakinya melangkah lebih jauh mendekati orang-orang yang tak ia sukai. Tetapi, ke mana ia hendak pergi. Tak mungkin ia kembali ke rumah jika ia ia tak mau kena marah Ibu.

Anyung berjalan mengendap di halaman ketika melewati pintu rumah, berjaga-jaga kalau ibu ada di dalam dan melihatnya ke arah yang bukan menuju sekolah. Setelah dirasa aman, ia lari secepat yang ia bisa tanpa menimbulkan suara yang dapat mengundang penasaran ibunya. Akhirnya ia bisa menyeberangi pintu depan.

Awalnya, ia berencana masuk melalui jendela kamarnya. Tetapi ia ingat bahwa jendela kamarnya selalu ia kunci dari dalam ketika ia meninggalkan kamar. Ibu selalu memesannya demikian. Ibu akan marah jika ia lupa tak mengunci kamar saat ia pergi ke luar.

Anyung bingung, ke mana ia harus melarikan diri. Ada rasa ingin kembali berjalan menuju sekolah, tetapi ia terlanjur menuju samping rumah. Ia berpikir, seandainya kemarin rantai sepedanya tak putus, tentu saja hari ini ia sudah melesat bersama sepedanya ke tempat yang lebih jauh, ke lapangan misalnya, tempat ia biasa bermain sepak bola dan layang-layang. Tetapi tempat itu kini menjadi berbeda, setelah ia mendapat nama panggilan itu.

Ia melihat kebun samping rumahnya. Pandangannya berhenti pada pohon belimbing yang cukup tinggi di kebun yang agak belakang. Jika ditarik lurus ke samping, pohon itu sejajar dengan dapur rumahnya, sejajar dengan kompor yang digunakan ibu memasak. Baiklah ia memutuskan naik ke atas pohon. Ia akan membawa pertanyaan-pertanyaan dan pikirannya ke atas pohon belimbing.

Sebenarnya, kejadian barusan begitu singkat. Adegannya hanyalah Anyung berjalan dari halaman depan rumah menuju kebun samping rumah, melihat pohon belimbing lalu memanjatnya. Tetapi, pikirannya yang berbelit-belit membuat adegan itu tampak lama.

Mungkin memang benar barangkali pikiran manusia sendirilah yang menjadikan realitas yang begitu sederhana seakan panjang dan berbelit-belit.

Sesampainya di atas pohon, ia mengamati rumahnya yang tampak dari atas. Segalanya berbeda, sangat berbeda dari penampakan yang biasa ia lihat di bawah sana. Tiba-tiba ia membatin, apakah seperti ini gambaran penduduk langit ketika melihat ke bumi?.

Ketika ia sedang memikirkan pemandangan yang jauh berbeda, ia terkejut bukan main mendapati seperti ada yang menepuk bahunya. Ia sampai tak mau bergerak saking tidak percayanya pada apa yang dirasakannya. Apakah itu tangan manusia?. Tapi siapa yang naik keatas pohon pagi-pagi begini selain dirinya, anak sekolahan yang berniat membolos dengan melarikan diri ke atas pohon. Kalau bukan manusia, lalu apa?. Apakah hantu?, jangan-jangan, pohon ini ada penunggunya. Pikirnya dalam diam. Tetapi hantu mana yang menakuti anak-anak di pagi buta?.

Ia hampir jatuh kehilangan keseimbangan ketika tepukan yang ke dua ia rasakan di bahunya. Tepukan kali ini lebih keras, diikuti suara decakan yang terdengar seperti mengecap sebuah permen. Tangannya dengan sigap merespon tepukan itu dengan mengibaskannya dari pundak seakan-akan ada sesuatu yang harus ia buang dari pundaknya. Karena gerakan-gerakan itulah ia hampir terperosok ke bawah jika ia tidak segera memeluk dahan di depannya untuk bertahan. Posisinya pun berubah dari yang awalnya ia bersandar di dahan yang bercabang membentuk huruf “v” menghadap ke arah rumah, kini ia memeluk dahan di depannya dengan kepala menoleh sejajar ke arah pintu depan rumah, dari posisi itulah ia tahu bahwa ada sosok lain selain dirinya di pohon itu.

Anyung merasakan bahwa sosok itu mengamatinya. Ia memberanikan diri menatap ke arahnya tanpa melepas pelukannya dari dahan yang menjadi sandaran perutnya. Ia hanya butuh memutar kepalanya sedikit lagi sambil mendongak ke atas. Anyung menatap ragu mata yangjuga menatapnya tajam. Tiba-tiba sosok itu melebarkan mulutnya ke samping dan mengeluarkan suara seperti orang kepedasan. Anyung langsung menutup mata dan mengembalikan pandangannya lurus ke depan sambil mengeratkan pegangannya ke dahan.

Dalam pejaman mata ia menyadari, bahwa sosok yang kini di belakang—di dahan yang lebih tinggi—adalah seorang perempuan. Ia teringat cerita sundel bolong di buku cerita mini yang ia beli di sekolah yang banyak bercerita tentang makhluk-makhluk seperti itu. Sundel Bolong juga perempuan, pikirnya. Tetapi, apa yang barusan dilihat tak seperti sundel bolong yang memakai terusan serba putih dengan rambut sepanjang sepinggang. Untuk memastikan, ia memberanikan diri membuka mata dan menoleh ke sosok perempuan itu.

“Apa?”. Anyung lega, ternyata perempuan itu manusia, sebab ia bisa bicara. Perempuan itu berdecak mendapati Anyung hanya mematung di depannya, tak percaya ada seorang perempuan yang terlihat dua kali usianya bertengger di atas pohon di waktu pagi seperti ini. Siapa ia?, batinnya.

Melihat Anyung yang masih hanya diam mematung, perempuan itu melanjutkan pekerjaannya, ia memperhatikan dahan di depannya sambil mengusap-usapkan tangannya kanannya membentuk suatu pola.

“Apa yang kamu lakukan?”. Anyung mulai resah dengan keanehan perempuan itu.

“Mengukir”, jawabnya singkat sambil tetap pada pekerjaannya tanpa menoleh ke arah Anyung.

Anyung terheran. Mengukir menggunakan tangan?. Tapi ia lebih heran bukan pada apa yang dilakukannya tapi siapakah dia. “Siapa kamu?”, Anyung memberanikan diri bertanya lagi setelah yakin bahwa tak ada tanda-tanda perempuan itu akan menyakitinya. Anyung sendiri bingung mengapa ia bisa meyakini bahwa perempuan itu tak akan berbuat aneh-aneh padanya.

“Penunggu pohon ini”.

“Tapi kamu manusia”, protes Anyung.

Perempuan itu mendesah, mengalihkan perhatiannya ke Anyung. Ternyata Anyung tak lagi menyandarkan perutnya ke dahan. Kali ini punggung Anyung yang disandarkan ke dahan. 

Mereka berhadapan, tetapi Anyung berada di dahan “v” yang lebih rendah dari si perempuan. 

Di ketinggian tertentu, pohon bercabang menjadi dua dahan besar. Cabang yang satu bercabang lagi menjadi dua, di cabang ke dua itulah Anyung berada. Sementara di dahan besar satu lagi, dahan bercabang menjadi dua. Salah satu cabangnya tumbuh agak ke samping dan kini melintas di hadapan Anyung. Satunya lagi bercabang menjadi dua, yang letaknya agak ke atas dari dahan yang tumbuh menyamping. Di percabangan itulah perempuan itu menduduki dahan. 

Badannya menghadap ke arah Anyung, sehingga dapat dikatakan mereka berhadapan tapi tak sejajar. Pandangan mereka bertemu untuk yang ke dua kali. Anyung bisa melihat ke dalam mata perempuan itu. Tetapi kali ini agak lain, tatapannya tak setajam sebelumnya. 

“Memangnya, kenapa kalau manusia?”.

Anyung diam, kenapa ya, batinnya. Menurutnya, “menunggui” suatu pohon bukan tugas manusia, itu adalah tugas makhluk lain untuk menjaga pohon dari tangan-tangan jahat manusia yang hendak menyakitinya. “Manusia memiliki tugas yang lebih dari sekedar menunggui pohon”, jawabnya pada akhirnya.

“Lebih dari sekedar menunggui pohon?”, perempuan itu mengulang pernyataan

Anyung.

“Ya”, jawabnya mantap. “Untuk apa manusia menjalankan tugas seperti itu kalau ia bisa menjalankan tugas lain yang tak kalah penting, seperti makan, tidur, bekerja, belajar, menolong sesama, misalnya?”.

“Kalau menurutmu ada yang lebih penting dari sekedar menunggu pohon, mengapa kamu ada di sini?, alih-alih berangkat ke sekolah yang menjadi tugas yang katamu lebih penting”. Perempuan itu menamatkan pandangannya pada Anyung lekat-lekat. “Mana memakai seragam sekolah lengkap lagi, juga tas yang berisi buku-buku dan PR yang mungkin belum kamu kerjakan?”.

“Aku di sini tidak untuk menunggui pohon, sepertimu”. Anyung diam. “Aku juga tidak ke sini hanya karena aku tidak mengerjakan PR”.

“Lalu atas alasan apa kamu naik ke sini?”. Anyung diam.

“Itu bukan urusanmu. Sebenarnya siapa kamu?. Dan untuk apa di sini?”. Anyung penasaran.

“Bagaimana jika aku menjawab, itu bukan urusanmu”.

“Baiklah, anggap saja jawabanku yang terakhir tadi seperti ini. Aku ke sini karena aku tidak ingin pergi ke sekolah. Jadi siapa kamu dan untuk apa kamu di sini?”.

“Baiklah, kamu ingin tukar jawaban, ya?. Bukankah sudah kukatakan bahwa aku adalah penunggu pohon ini?. Tetapi, mungkin “penunggu”ku dan “penunggu”mu memiliki makna yang berbeda”.

Anyung mencoba mencerna apa yang didengarnya. “Memiliki makna yang berbeda?”.

Perempuan itu mengangguk.

Lihat selengkapnya