“Ru, pastikan mimpimu tetap hidup. Sebab ia lebih tahu bagaimana cara mempertahankan hidup, daripada hidup itu sendiri”.
Ia membaca sebuah catatan yang ia tulis pada kertas kecil yang warnanya mulai pudar.
Ia menempelkannya di dinding di atas meja belajarnya selepas menyalinnya dari catatan asli yang tersimpan di kotak kenangan—demikian ia menyebutnya—yang ia bawa dari rumah lamanya.
Sebelum tinggal bersama bapaknya, Ru tinggal di kamoung kelahirannyaa bersama neneknya. Di usia Ru yang ke lima belas, neneknya meninggal. Semenjak kepergian neneknya itulah Ru memutuskan ikut tinggal bersama bapaknya di kotanya sekarang. Sementara bapaknya sendiri, sudah tak sering lagi pulang ke kampung halamannya lantaran kedua orang tuanya telah tiada. Rumah yang ditinggalkan ibunya ia telah mrnganggapnm milik adiknya.
Sementara bapak Ru sendiri merasa adiknya mulai tidak menyukainya sejak kejadian buruk menimpanya yang membuat Ru dan bapaknya disalahkan atas kejadian tersebut. Jadi, untuk apa ke sana jika tak diterima. Begitulah kiranta yang ada di kepala bapak Ru.
Bagi Ru, itu adalah catatan berharga, catatan yang diselipkan bersamaan hadiah ulang tahunnya yang ke sepuluh. Maka, ia biarkan catatan asli tetap tersimpan di kotak kenangan agar tak memudar seperti salinan yang ia tempel di tembok.
Air matanya menetes. Ia biarkan pipinya basah membentuk garis lurus oleh air matanya yang jatuh. Sementara air matanya jatuh, matanya menerawang catatan di hadapannya seolah ia berada begitu jauh dari tempatnya duduk sekarang.
“Tapi, terkadang aku tidak tahu, bagaimana caranya mempertahankan mimpi itu tetap hidup di saat ada saja yang bilang bahwa mimpi itu tak layak untuk diteruskan”.
Ia tersenyum singkat. “Aku juga tidak tahu berapa kali aku telah memikirkan hal ini,
tetapi nyatanya aku masih saja mengusahakan mimpi itu. Apakah itu pertanda bahwa mimpiku masih hidup?”.
“Kadang aku tidak yakin pada keputusanku untuk tetap mengusahakan mimpi itu apakah keputusan yang benar saat aku melihat jalan yang ada di depan tak menjamin apakah aku akan sampai pada mimpi itu. Tapi tetap saja, aku tetap mengambil jalan yang tak pernah memberiku jaminan apa-apa jika aku melewatinya maka aku akan sampai di tempat yang aku tuju. Sebab, ketika ada celah untuk berbelok dari mimpi itu, ada sesuatu perasaan aneh yang menggangguku, yang aku sendiri tidak tahu apa. Mungkinkah itu adalah cara mimpi yang berusaha kutinggalkan untuk tetap terhubung dengan diriku?”.
“Mungkin, itu seperti apa yang pernah kita bicarakan dahulu tentang, mengapa kita selalu teringat pada apa yang ingin kita benci dan lupakan. Aku selalu teringat pada kejadian- kejadian memalukan dan tidak menyenangkan padahal aku berusaha untuk tidak mengingatnya, berusaha untuk melupakannya. Dan, kamu yang selalu teringat pada mimpimu di malam hari tentang selembar kain putih yang menyangkut di ranting pohon depan rumah.
Hai, kurasa aku sudah mendapat jawabannya”.
Ru mengusap sisa air mata di pipinya yang mulai mengering ketika mendengar pintu kamarnya diketuk sebanyak tiga kali. Ia buru-buru bangkit dan meraih gagang pintu untuk membukanya. Ia tahu itu adalah bapaknya yang pada jam tujuh malam sering memberitahukannya bahwa mereka telah menunggu Ru di depan.
“Ah, Bapak. Mereka sudah datang?”.
Bapaknya diam saja mengamati Ru yang masih berdiri di depan pintu.
“Ru baru saja mau ke sana, Bapak malah sudah ketuk pintu”. Lanjutnya menyembunyikan matanya yang baru saja menangis.
Bapaknya membelai rambut puteri kesayangannya itu, “Ru, baik-baik saja?. Kita bisa bicara sebentar kalau Ru mau sebelum menemui mereka”.
Ucapan Bapaknya pun lantas membuat Ru bergegas memeluk laki-laki di depannya sambil menahan haru. Bapaknya selalu tahu apa yang ia sembunyikan. Ia merasakan dekapan hangat sang Bapak sejenak. Meski hanya sejenak, ia dapat merasakan sesuatu yang mengganjal di pikirannya seakan melunak dan raib entah ke mana, sesuatu yang ia takutkan seakan terganti dengan rasa tenteram yang menguatkan.
“Ru sedikit bimbang Pak, tapi Ru mencoba untuk baik-baik saja, Yah”. Ia teringat perkataan Bapaknya agar dirinya bisa jujur dengan keadaannya, termasuk ketika ia merasa sedih, marah, kecewa dan perasaan lainnya. Mengakui bahwa ia tidak baik-baik saja tidaklah menunjukkan bahwa dirinya dirinya lemah. Justru betapa beraninya ia mengakui keadaan yang mana ia dalam kondisi lemah. Ru melepaskan pelukannya lalu memandang wajah bapaknya yang mulai berkeriput.
“Setidaknya untuk saat ini, Ru tidak ingin membicarakan apa-apa dulu sebelum menemui mereka. Mungkin nanti?”.
Bapak tersenyum mengangguk, mengacak-acak rambut putrinya dengan gemas. “Putri
Bapak sudah besar ya”.
Di ruang tamu, segerombolan anak-anak sudah menunggu Ru, duduk menggerombol dan membicarakan tentang sebuah serial drama yang baru saja tayang. Ru dapat mendengarnya ketika ia berjalan menuju ruang tamu. Yang lain lagi membicarakan tentang kenaikan level game online yang dimainkannya. Mereka mulai mencari tempat duduk agar lebih teratur sesuai arahan Ru hari-hari sebelumnya begitu melihat Ru muncul dari balik tirai berwarna coklat muda sambil berseru “Kak Ru datang!”.
“Ada Kak Ru”.
“Lagi asyik ngobrolin apa kalian?”.
Mereka cengar-cengir ketika ditanya topik pembicaraan mereka sebelumnya. Entah mereka malu atau merasa ini bukan lagi saat yang tepat membicarakan tayangan serial drama terbaru. Tapi, di antara mereka, selalu saja ada satu dua anak yang akan selalu menjawab pertanyaan dengan jawaban yang asal nyeletuk sampai jawaban yang dalam sekalipun.
“Cara jadi silver Kak”, jawab salah satu anak lelaki.
“Ya dicat dong”, timpal salah satu anak perempuan.
“Sudah dichat tapi kalau tak ada balasan tandanya apa?”. Segerombolan anak-anak itu pun menertawakan obrolan mereka.
Ru menyadari bahwa yang dihadapinya bukan lagi anak-anak yang suka mengoleksi binder beraneka ragam seperti apa yang ia lakukan dulu, tapi mereka yang datang dari zaman mereka sendiri yang memiliki kesukaan mereka sendiri. “Tandanya, disuruh meletakkan hp sejenak lalu fokus ke sini sebentar. Bisa?”.
“Tentu”.
“Bisa dong”.
“Siap”. Jawab mereka hampir bersamaan. Meskipun begitu, ketika Ru sedang sibuk mengajarkan, mereka pun akan diam-diam melihat hp mereka kembali dengan membuka resleting tas yang digunakan untuk menyimpan hp sedikit saja.
“Bagus. Baru kalau Kakak bilang boleh buka hp, silakan dibuka”.
Seperti biasa, Ru kemudian diserbu pertanyaan-pertanyaan yang mereka tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya. Mereka adalah anak-anak tetangga Ru. Mereka datang untuk diajarai mengerjakan PR yang mereka tidak tahu. Kebanyakan adalah soal matematika.
Ru senang jika mengajari matematika, ia tidak perlu terlalu pusing bagaimana harus merangkai kalimat yang mudah dipahami oleh mereka sebab Ru merasa bahwa matematika sudah punya jalannya sendiri untuk menemukan jawabannya. Ia tinggal membersamai mereka melewati jalan itu. Ketika ia membantu mengerjakan PR matematika, ia benar-benar membantu mereka bagaimana cara menemukan jawabannya bukan memberikan jawabannya.
Berbeda lagi jika yang ditanya adalah soal-soal berbentuk pilihan ganda atau esai seperti yang berhubungan dengan agama, sosial, biologi. Menurutnya, soal-soal seperti itu sudah ada jawabannya pada materi-materi sebelumnya. Mereka hanya tinggal membaca lalu menemukan jawabannya. Tapi, ya, alih-alih membacanya terlebih dahulu, mereka seringkali langsung menanyakan jawaban atas soal tersebut.. Maka Ru akan bertanya terlebih dahulu apakah mereka sudah membaca materinya. Jika belum, Ru akan meminta mereka membaca dahulu, jika sudah tetapi mereka belum tahu jawabannya, Ru baru akan membantu mereka. Ru pun tak akan langsung memberikan jawabannya bahkan seandainya ia tahu apa, ia akan membolak-balikkan lembaran kertas materi dan mencari apakah benar jawaban itu tidak tertera di sana. Jika ternyata jawaban itu tertulis secara jelas di sana, maka ia akan meminta mereka untuk mengulang bacaannya khusus di halaman tersebut. Jika mereka sudah menemukan jawabannya mereka terlihat begitu gembira. Tetapi Ru malah bertanya-tanya, apakah mereka membaca terlalu cepat sehingga melewatkan halaman tersebut atau malah mereka tidak benar- benar membacanya. Bukankah sebuah ironi jika mereka hanya mau menemukan jawabannya tanpa mau membacanya. Itu semacam keinginan untuk merasa kenyang saat lapar tapi malas makan.
Pernah suatu ketika ia masih awal-awal mengajari mereka, ia meminta seorang anak untuk membaca ulang materi tentang perpindahan kalor. Sudah tertera di lembar materi definisi setiap cara kalor berpindah, seperti konveksi, radiasi, konduksi dan lainnya. Tetapi anak tersebut masih tidak menemukan jawaban atas pertanyaan tubuh terasa hangat ketika berada di dekat api unggun karena adanya perpindahan energi panas yang disebut?. Ru bertanya- tanya mengapa anak tersebut tidak dapat menemukan jawabannya, apakah ia kesulitan membaca?, tidak. Ia sudah pernah mendengar sendiri anak tersebut membaca dengan lantang di depannya. Apakah ia kesulitan memahami kata-kata yang tertulis di sana?, mungkin saja.
Atau sebenarnya anak tersebut sudah mendapatkan jawabannya tetapi ragu mengemukakannya?, mungkin juga.
Akhirnya Ru pun menyerah atas pertanyaannya sendiri dan membantu anak tersebut menemukan jawaban atas pertanyaan tadi. Ru pun akhirnya menjelaskan kalau perpindahan panas sama saja dengan perpindahan kalor. Lalu menanyakan arah perpindahan kalor dalam soal terjadi dari mana ke mana. Anak tersebut menjawab dari api unggun ke tubuh manusia.
Betul, demikian Ru menjawab. Ru menanyakan kembali apakah ada perantara dalam proses perpindahan kalor dalam soal, anak tersebut menjawab tidak. Lalu Ru bertanya, “Lalu, kalau begitu mana cara perpindahan kalor yang tepat?”. “Radiasi”. Betapa leganya Ru akhirnya mendengar jawaban anak tersebut. Anak itu bukannya tidak paham, ia butuh dibimbing pelan- pelan untuk menemukan jalan menuju pemahaman.
Membantu satu anak saja dalam menemukan jawaban atas satu soal membutuhkan waktu beberapa menit. Padahal satu anak setidaknya memiliki lima sampai sepuluh pertanyaan yang harus dikerjakan. Sementara malam ini, ada lebih sepuluh anak yang datang meminta Ru membantu mengerjakan soal. Entah seberapa lebar kesabaran yang harus dibentangkannya ke depan. Ia langsung teringat pada Bu Sur, gurunya saat masih SD yang mengajari baca tulis dari ia sama sekali tidak tahu apa-apa. Betapa kesabaran Bu Sur membentang lebar dalam mendekap anak didiknya agar bisa membaca, sampai pada suatu gerbang dalam merengkuh pengetahuan yang begitu luasnya.
Ia terkadang membayangkan seseorang yang masih mungil tidak tahu menahu tentang huruf dan angka lalu diberitahukan bagaimana cara menghitung dan membaca. Disuapi berbagai macam informasi yang sudah tersaring dan berguna. Setelah cukup besar, ia pun tak lagi disuapi informasi-informasi itu. Ia mencari sendiri informasi apa yang ia perlu, ia belajar apapun yang ia suka. Jika ia sudah berada di lingkungan yang begitu banyak orang datang berbondong-bondong dari berbagai daerah untuk menyerap informasi tersebut, ada rasa bangga yang menyusup ke dalam dirinya. Ia bangga menjadi bagian dari lingkungan yang besar itu, ia bangga bisa mendapat informasi yang ia perlu dari seorang profesor ternama. Tapi, apakah ia pernah merasa bangga pernah disuapi informasi yang kecil-kecil itu?. Apakah ia pernah bangga pernah diberitahu bagaimana cara berhitung dan membaca?.
Ru berpikir, ia tidak akan pernah bisa mengajar anak-anak itu kalau bukan karena guru- gurunya yang dahulu pernah mengajarinya. Ia tiba-tiba merasakan suatu keindahan dalam berbagi pengetahuan. Membayangkan orang-orang berdiri dalam barisan yang begitu panjang dari satu generasi ge generasi lainnya. Menerima pengetahuan seperti bola cahaya dari generasi sebelumnya dan menyampaikannya ke generasi berikutnya. Generasi lama akan meredup sementara generasi baru akan bersinar. Betapa bersyukurnya Ru bisa menjadi bagian yang menghaturkan bola cahaya itu. Bahkan ketika ia telah mati, bola itu akan tetap bersinar di zaman-zaman yang akan datang. Semoga cahaya bola itu tetap terang seterang ketika ia bersinar di tempat asalnya.
Jam menunjukkan pukul 20.30 ketika Ru sudah hampir selesai membantu mereka mengerjakan tugasnya. Ru mulai kelelahan karena sedari tadi ia harus membimbing anak-anak tersebut mengerjakan tugas. Dari menjelaskan cara mengerjakan soal matematika atau berusaha menjelaskan materi dasar pengetahuan alam yang belum dipahami.
Dalam kesibukannya itu, Ia mendengar seseorang memanggil nama bapaknya sesaat setelah suara standar motor yang diturunkan terdengar. Seorang ibu datang tergopoh-gopoh dan kini sudah berada di depan pintu.
“Duh Gustii”. Itu adalah Bu Rum, salah satu tetangga Ru yang rumahnya ada di seberang gang. Bu Rum menatap anak berbaju kuning yang duduk di depan Ru menyerongi pintu. Sementara Ru sendiri duduk menghadap ke pintu.
“Masih di sini rupanya kamu ya”. Miya adalah anak Bu Rum, ia masih duduk di kelas 5 SD dan sudah dari awal sejak Ru di rumah ia ikut ke rumah Ru bersama teman-temannya setiap malam untuk mengerjakan tugas. Mereka sering datang ke rumah Ru ketika tahu bahwa
Ru pulang saat libur kuliah.
Miya yang kaget mendengar suara Ibunya langsung menengok ke belakang.
“Tak kira sudah selesai ngerjain tugas terus keluyuran ke mana, nggak taunya masih di sini padahal sudah setengah sembilan. Belum selesai po tugasnya?”. Bu Rum mendekat ke arah Miya dan memerhatikan lebih dekat condong ke lembar tugas di hadapan Miya yang sebentar lagi selesai.
“Kurang satu soal Buk”. Jawab Miya.
Bu Rum melihat sekeliling seperti menghitung berapa jumlah anak yang ada di sana.
Ru tersenyum mengangguk kepada Bu Rum ketika tatapan mereka bertemu. Bu Rum menggumam, namun masih bisa didengar oleh Ru di seberang.
“Nggak nyampe sepuluh anak kok ya lama banget ngajarinnya nggak selesai-selesai”.
Ru hanya terdiam. “Ya sudah Ibuk tunggu di luar”.
Bersamaan dengan berdirinya Bu Rum, Bapak Ru datang dari dalam. “Lho, Bu Rum.
Ada apa to Bu?”.
“Ini lho Di, nyariin anak kok setengah sembilan belum pulang, wong tadi katanya mau belajar bareng di rumahnya Mbak Ru. Nggak taunya masih di sini.”
Bu Rum dan Bapak Ru kemudian melanjutkan obrolan di teras. Sementara Ru dan anak-anak melanjutkaan mengerjakan tugas. Meskipun Ru sedang asyik menjelaskan, bukan berarti ia tak mendengar apa yang dibicarakan di teras rumah.
“Mungkin susah soalnya, jadi Ru kebingungan Bu”. Bapak Ru terkekeh pelan.
“Pelajaran sekarang kan susah-susah, saya saja pusing lihatnya”.
“Iya to. Saya juga kadang nggak bisa kalau si Miya tanya cara ngerjain soal matematika.
Duh jan mumet tenan”.
Angin malam berhembus di antara mereka yang terdiam sejenak di teras. Bu Rum kemudian melanjutkan obrolannya dengan menurunkan nada suara yang lagi-lagi masih dapat didengar oleh Ru walaupun dengan samar-samar kali ini.
“Eh Di, kalau boleh tahu. Kok kamu ngebolehin anak wadonmu satu-satunya kuliah jauh?. Nggak takut po?”.
“Takut kenapa to Bu Rum?”.
“Ya begitu. Anak zaman sekarang kan aneh-aneh. Itu lho di berita buanyak sekali kasus anak muda yang kuliahan maaf sudah…”, Bu Rum melihat bapak Ru di sampingnya sambil menggerakkan tangan kanannya membentuk setengah lingkaran di depan perutnya dari atas ke bawah. “Amit-amit deh kejadian sama anak kita. Apalagi kan jauh dari orang tua”.
Bapak Ru masih terdiam memikirkan jawaban, tetapi Bu Rum kemudian melanjutkan.
“Kalau saya sih mending kalau anak perempuan nggak usah jauh-jauh dari rumah. Biar aman”.
“Ndak jauh dari rumah juga nggak menjamin anak perempuan aman bersih percaya. Itu di berita juga banyak anak perempuan yang dibegitukan di lingkungan rumah sendiri. Lagian kan Ru jauh dari rumah karena mau ngejar cita-citanya. Ya iya masa saya halangin to Bu?. Saya kira Ru bisa menjaga diri dan mampu membedakan mana hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Tentu ya sesekali saya ikut memantau kegiatannya dari sini. Yang penting jangan lupa berdoa sama Yang Di Atas biar dijaga dari hal-hal semacam itu”.
Diam-diam Ru terharu dengan ucapan Bapaknya malam itu. Ah, Bapaknya memang selalu membuatnya terkagum.
“Iya sih Di, tapi kan…”.
“Buk, Miya sudah selesai”. Ucapan Bu Rum tak terselesaikan sebab Miya yang sudah rampung mengerjakan tugasnya keluar menuju teras menghampiri ibunya. Padahal Ru penasaran sekali apa kira-kira sanggahan yang hendak diucapkan Bu Rum. Sepertinya, ia masih tak setuju soal anak perempuan yang meninggalkan kampung halaman.
Ru tiba-tiba dikejutkan oleh anak-anak yang mengajak salaman untuk berpamitan pulang. Ia pun tersadar ia tak seharusnya menerka-nerka apa yang dipikirkan Bu Rum. Biarlah itu menjadi pikiran Bu Rum sendiri. Beberapa dari mereka sebenarnya sudah selesai lebih awal.
Tapi enggan pulang karena menunggui temannya yang belum selelsai. Ru tak keberatan dengan syarat mereka tak berisik. Mereka juga diperbolehkan untuk memainkan telepon genggamnya tetapi hanya untuk membaca. Bahan bacaan sudah ditentukan, seperti komik atau cerita anak yang dapat diakses di perpustakaan online. Ru memang sengaja tak membiarkan mereka membaca berita di internet karena khawatir belum bisa membedakan mana berita yang terpercaya atau tidak. Tapi, ia mendaapat protes dari anak lelaki karena dengan keputusan itu mereka tidak bisa membaca tentang info terbaru sepak bola, padahal itu adalah topik yang paling mereka suka. Maka Ru akhirnya membolehkan mereka mengakses internet untuk membaca dengan catatan tidak boleh hanya membaca judulnya saja dan harus dituntaskan sampai akhir. Mereka pun akhirnya menyetujui, sebab dengan begitu mereka juga akan punya durasi lebih lama sehingga mereka punya banyak poin untuk diakumulasikan tiap minggu.
Siapapun yang mendapat poin paling banyak akan mendapat hadiah dari Ru. Demikianlah langkah kecil yang bisa Ru lakukan agar mereka terbiasa untuk membaca.
Cara tersebut Ru dapatkan dari cerita seseorang yang mendapat bintang setiap selesai membaca satu halaman di depan kelas dengan lantang. Kira-kira lima belasan tahun yang lalu.
Ia demikian terkesan dengan cara bu guru dari orang yang bercerita untuk menambah motivasi siswa agar mau membaca. Dari sanalah agaknya Ru mulai bercita-cita ingin mrnjadi srorang guru yang ikut memberdayakan anak-anak di kampung.
■■■
“Ru, terkadang kita harus melewati jalan yang memutar-mutar agar bisa sampai tujuan.
Namun, meski demikian, hanya karena kita melewati jalan yang memutar bukan berarti kita tidak akan sampai pada tujuan”.
Kalimat itu terngiang begitu saja ketika keesokan paginya Ru terbangun melihat langit- langit kamarnya. Terkadang, ia ingin tidur di luar ruangan agar ketika ia bangun, langitlah yang pertama ia lihat. Ia suka sekali memandang langit jika tak turun hujan, meskipun tampak begitu jauh tapi langit selalu menghadirkan ketenangan. Ia teringat pada ucapan Albert Knag pada anaknya Hilde, dalam sebuah buku yang pernah ia baca. “Jika kita melihat ke langit, kita seperti sedang berusaha untuk menemukan jalan kembali kepada diri kita sendiri”, demikianlah perkataan Albert Knag yang Ru ingat. Mungkin itu sebabnya ada rasa tenang yang hadir ketila
Ru memandang ke arah langit. Ia seperti berpulang ke pada dirinya sendiri, rumahnya.
Menyapa dan berkenalan dengan dirinya yang ternyata sudah lama tak ia ajak bicara. Siapa yang tak merasa senang dan tenang ketika ia bisa pulang dan kembali ke rumah, tempatnya berasal?.
Ru bangkit dan berjalan menuju kamar mandi yang terletak bersebelahan dengan dapur.
Ru melihat Bapaknya sedang memanasi sepeda motor dari pintu samping kamar mandi. Ketika ia mendekat, Bapaknya tengah mengangkat keranjang untuk dinaikkan ke atas jok motor. Kini,
Bapaknya tak lagi harus mrngayuh sepeda ketika bekerja.
“Eh, sudah bangun?”.
“Sudah Pak. Mau berangkat sekarang, Pak?. Tumben pagi-pagi sekali”. Biasanya,
Bapak Ru berangkat ketika matahari sudah mulai bersinar terang. Pagi itu, matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya.