Sejernih Kacamata Daun Belimbing

TulisZa
Chapter #3

Mencari

Anyung merasa beruntung bahwa wali kelasnya tidak mengatakan apapun pada ibunya perihal Anyung yang baru saja bolos sekolah. Buktinya, ibunya tak membicarakan apapun yang berkaitan dengan ketidakhadirannya di sekolah sesampainya ia di rumah setelah turun dari pohon belimbing. Sama seperti biasa saat ia pulang sekolah, Anyung langsung memasuki rumah lalu masuk ke kamarnya. Tapi, biasanya ia segera keluar kamar entah untuk menonton televisi atau mencari jajan di kulkas. Hari ini, ia lama di dalam kamar. Ternyata, Anyung sedang duduk di depan meja yang dua mingguan lalu ditaruh ayahnya di kamar Anyung. Ia tamatkan pandangannya pada suatu tanda yang terukir di pojok kanan atas. Ini dia. Anyung mencocokkan tanda itu dengan temuannya di pohon belimbing tadi.

Pertama, ia menemukan tanda yang terukir di dahan, dua buah trapesium yang disatukan dengan tiga garis di dalam maasing-masing bangun, atau yang Ru sebut sebagai buku. Baiklah, Anyung akan mengikutinya sebab penamaannya sendiri pada tanda itu terlalu panjang. Ternyata, sebelum dan sesudah tanda itu ada tanda lain yang mulai dangkal guratannya karena mungkin memang sudah lama dibuat sementara dahan terus beregenerasi.

Sehingga Anyung tak tahu pasti apa bentuk tanda tersebut. Yang ia tahu, ada empat tanda yang terangkai di sana. Sama seperti tanda yang terukir di meja yang disebut ayahnya adalah milik

Ari, kakaknya. Yang ia tahu pula, bahwa rangkaian kedua tanda itu diakhiri dengan huruf R. Ru kah?. Tapi Ru bilang bahwa bukan dirinya yang membuat tanda itu. Anyung belum sempat menemukan tanda yang dimaksud oleh Ru tapi Ru sendiri malah bergegas hendak turun.

“Mau ke mana?”. Tanya Anyung

“Pulang. Lihat, aku memakai sepeda ke sini, kamu tahu butuh waktu lama untuk sampai di rumah. Jadi aku harus pergi sekarang setelah aku mampir ke makam di dekat sini dahulu”.

“Ke makam?. Untuk apa?”.

Ru menghela napas. “Kerjakan saja pekerjaanmu itu”. Perintahnya.

“Jadi aku harus mengerjakannya?”.

“Apa lagi yang akan kamu lakukan di sini menunggu jam pulang sekolah tiba selain mencari tanda itu?”.

“Tapi kamu bilang aku harus sekolah di sini”.

Ru terdiam menyadari sesuatu. Apakah dia sudah masuk jebakanku?. Pikir Ru. “Aku memberimu PR yang harus kamu selesaikan. Kalau kamu tetap mau belajar di sini, kita akan membahas temuanmu Jum’at mendatang. Jadi kamu harus menemukan tandanya dan menemukan makna di baliknya?”.

“Kenapa tugasnya tambah juga menemukan maknanya. Padahal kan sebelumnya tidak ada”.

“Sudah kukatakan, kamu akan belajar memaknai ulang apa yang kamu lihat hanya dengan caramu sendiri. Sudah, aku pergi dulu. Sampai ketemu Jum’at besok”. Ru lalu menuruni pohon dengan gesit dan melompat ke tanah meski ia masih berada lumayan tinggi dari dasar tanah. Sementara Anyung terkagum dengan apa yang barusan Ru lakukan.

Ru sudah menginjakkan kaki di samping pohon ketika Anyung bertanya padanya. “Apa kamu akan memberitahu arti namaku jika aku berhasil menemukan tanda itu?. Kamu bilang kamu mengetahui makna nama itu”. Ru langsung berbalik dan menatap ke atas ke arah Anyung yang kini melihatnya di bawah.

“Ya, mungkin. Aku harap kamu berhasil menemukannya”.

Ru lalu bergegas pergi mengambil sepedanya. Ternyata, Ru meletakkan sepedanya di sekitar pohon-pohon pisang yang berada di sisi barat pohon. Ia ambil lalu ia naiki dan kayuh sepedanya. Ru pun menghilang.

Benar juga apa yang dikatakan Ru. Tak ada yang bisa Anyung lakukan di atas pohon sembari menunggu waktu jam pulang tiba. Maka ia lanjutkan pekerjaannya mencari tanda itu. Tak lama ia langsung menemukan tanda lain yang ia maksud tadi. Yang bisa ia tangkap adalah, tanda pertama, itu seperti huruf “B”. Lalu diikuti tanda seperti bulatan—tapi sudah tak bulat karena goresannya sudah terpurus-putus—yang memanjang ke kanan kiri, mungkin ia sebut oval, di kanannya terdapat ekor yang menjulur ke bawah. Apakah itu huruf ”Q”?. Pikirnya. Tidak mungkin. “Q” memiliki bulatan yang menggemuk, sementara yang dilihatnya lebih memanjang bentuknya. Tapi juga mungkin. Karena jika yang diinginkan pembuat tanda ukiran ini adalh huruf “Q” maka akan sangat susah membuat goresan berbentuk bulatan menggemuk seperti itu.

Anyung seketika menyadari tentang tanda yang dilihat di depannya memiliki kesamaam dengan tanda di meja kamarnya. Ia sebenarnya ingin bergegas pulang memastikan. Tapi urung, karena ibunya pasti masih ada di rumah. Ia pun mencoba memaknai tanda itu sesuai apa yang Ru perintahkan. Aneh memang. Mengapa Anyung begitu mematuhi apa yang Ru perintahkan untuknya?.

Anyung melanjutkan analisanya. Pada tanda yang ke tiga adalah tanda buku—Ru menyebut demikian—dan diikuti tanda strip lalu huruf “R”. Ia yakin betul jika tanda yang terukir di mejanya juga demikian. Yang membedakan adalah dua tanda pertama di serangkaian tanda yang terdiri dari empat simbol. Anyung sebenarnya ingin sekali cepat-cepat melihat meja belajar di kamarnya itu. Tapi ia harus menahan diri sejenak sampai jam pulang benar-benar tiba. Sialnya, anyung tidak membawa apapun yang bisa menunjukkan jam berapa sekarang. Ia hanya mengandalkan perkiraannya saja dari bayang-bayang dan suara-suara khas yang mungkin bisa menandakan jam berapa saat itu.

Anyung pun kembali berkutat pada pikirannya tentang tanda itu. Jika dibaca, rangkaian tanda itu menjadi seperti ini, huruf “B”, bulatan yang agak memipih ke samping dengan ekor tegas ke kanan bawah, apa yang Ru sebut dengan “buku”, strip, dan diakhiri huruf “R”. Apa kira-kira maksudnya?. Apakah Ru hanya membual bahwa tanda itu memiliki makna?. Tapi untuk apa juga Ru melakukan hal demikian. Apalagi ia mengatakan bahwa akan membicarakannya di Jum’at mendatang. Apakah itu artinya Anyung harus membolos lagi. Sementara Ru sendiri tidak bilang jam berapa tepatnya Anyung harus datang.

Sembari mengingat apa yang ia temukan di dahan tadi, tangan anyung kini meraba tanda ukiran di meja belajar itu. Jika anyung baca, tanda itu akan menjadi seperti ini, huruf “H”, bulatan dengan ekor tegas ke samping kiri bawah, dua trapesium yang disatukan dengan garis-garis di masing-masing trapesium atau jika disamakan dengan tanda yang ada di dahan maka tanda ini adalah “buku”, lalu strip dan diakhiri dengan huruf “R”.

Anyung yang saat ini duduk di depan meja belajar tersebut pun akhirnya meletakkan pipi kirinya menempel di atas meja dengan pandangan ke arah tanda ukiran tersebut dan tangan kanan tetap meraba tanda yang terasa bergelombang karena sayatannya pada meja. Anyung tak dapat mengalihkan perhatiannya pada tanda-tanda itu, mengapa ada kesamaan tanda yang ada di antara pohon dan meja belajar yang kini ia gunakan sebagai penopang kepalanya. Ia memikirkan hal tersebut sampai akhirnya tertidur tanpa melepas seragam sekolahnya. Mungkin ia demikian lelah duduk di atas dahan pohon sehingga tertidur lebih mudah.

■■■

Akhirnya, hari yang dimaksudkan Ru pun tiba. Hari Jum’at setelah bangun tidur, yang diingat oleh Anyung adalah ia harus menemui Ru di pohon belimbing dan tak terkecuali adalah suara panggilan teman-temannya yang selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Apalagi, setelah ia bolos Senin lalu, teman-temannya mulai berprasangka yang tidak-tidak terhadap Anyung.

Mereka bahkan mengarang cerita sendiri kalau Senin itu Anyung sedang bla bla bla bla. Tetapi, Anyung tak terlalu ambil pusing akan hal itu, ia sibuk berkutat dengan PR yang diberi Ru. Ia menyadari, bahwa ternyata ia sudah menemukan tanda yang disuruh Ru untuk menemukannya. Yaitu tanda ke dua dari serangkaian tanda di pohon yang ditemukannya saat bolos sekolah. Adalah tanda lingkaran yang agak memipih ke samping dengan garis tegas ke kanan bawah, itulah yang dimaksud Ru. Sama seperti daun belimbing yang sudah dilubangi tengahnya mengikuti lekuk daun, dan garis tegas ke kanan bawah adalah tangkainya. Itu cukup membuatnya yakin bahwa ternyata tanda-tand itu memiliki makna. Tetapi Anyung merasa bahwa rangkaian tanda yang ditemukannya belumlah lengkap. Sebab ia yakin bahwa tanda pertama, baik di dahan maupun di meja adalah sebuah huruf. Jika dirangkai menjadi HB atau BH. Entah mengapa Anyung begitu yakin bahwa ada rangkaian tanda lain di suatu tempat sehingga tanda pertama di setiap rangkaian tanda dapat membentuk suatu kata.

Karena begitu penasaran dengan arti tanda itu, ditambah tanda itu ada kaitannya dengan meja belajar yang berada di kamarnya, Anyung pun memutuskan untuk mencari tanda lain sebelum hari Jum’at tiba. Namun kali ini ia tidak akan membolos hanya untuk menemukan tanda itu. Ia mencarinya sepulang dari sekolah.

Di hari Selasa setelah pulang sekolah, Anyung langsung bergegas naik ke atas pohon tempatnya bersembunyi saat bolos sekolah. Sekali lagi ia mengamati rangkaian tanda di salah satu dahan di pohon itu.

Aku akan menemukan rangkaian tanda yang lainnya. Pikirnya. Ia lalu turun dari pohon tersebut dan langsung menuju pohon lainnya. Ia sangat yakin bahwa ia akan menemukan tanda-tanda semacam itu di setiap pohon. Bukan tanpa alasan ia berpikir demikian, karena berdasarkan rangkaian tanda sebelumnya yang ditemukan di kayu, maka ia berpendapat bahwa tanda tersebut selalu diukir di atas kayu atau pohon. Sebelum melakukan pengecekan di pohon, Anyung sudah mengecek seluruh perabotan rumah yang terbuat dari kayu apakah ada rangkaian tanda lain. Ia heran sendiri pada dirinya mengapa ia begitu ambisius menemukan tanda tersebut.

Karena tidak ada satupun perabotan di rumah yang memuat tanda ukiran seperti itu, maka Anyung berkesimpulan bahwa tanda lainnya mungkin terukir di pohon-pohon. Ada banyak pohon tumbuh di kebun samping rumah Anyung dan di halaman. Belimbing 5, waru 1, pisang 7, jambu 1, mangga 1, rambutan 1, sehingga totalnya ada 16 pohon. Ia tidak akan mengecek pohon pisang sebab akan sulit membuat tanda ukir di pohon pisang yang bukan berbatang kayu. Maka total pohon yang akan dilihatnya ada 9 pohon. Jumlah yang cukup banyak.

Ia tidak akan naik ke atas 9 pohon tersebut semuanya, sebab ada pohon yang sulit dipanjati seperti waru dan mangga, maka ia hanya mengecek di batangnya saja dengan melihat dari tempatnya berdiri di dekat kedua pohon. Dan ia tak menemukan apapun di sana.

Tinggal rambutan, jambu dan belimbing yang kesemuanya ada 7 pohon. Anyung sudah merencanakan untuk menaiki pohon yang termudah dulu, belimbing, jambu, lalu mangga.

Terdapat lima pohon belimbing di kebun dan pekarangan rumah anyung. Empat di samping rumah dan satunya di belakang rumah agak ke kiri. Jika ditarik garis lurus dari rumah Anyung ke kebun samping rumah tempat pohon belimbing tumbuh, pohon pertama sejajar dengan ruang tamu, pohon ke dua sejajar dengan kamar Anyung, pohon ke tiga sejajar dengan tembok penyekat antara kamar Anyung dan kamar orang tuanya, dan pohon keempat sejajar dengan dapur. Namun jika dilihat dari jarak kedekatannya dari rumah anyung, maka pohon yang paling dekat secara berurutan yaitu pohon ke tiga, pohon ke satu dan dua, lalu pohon ke empat. Hari sebelumnya Anyung sudah menemukan tanda di pohon ke empat, maka kini ia menuju pohon ke tiga untuk mencari tanda yang lain.

Sebelum memanjat pohon ke tiga, Anyung perhatikan terlebih dahulu batang pohon dari dasar ke atas seperti yang ia lakukan pada pohon waru dan mangga barangkali ada tanda yang terukir di sana. Setelah memastikan tidak ada, maka ia langsung naik dan memijakkan kaki pada dahan yang bercabag menjadi dua. Di sana, dalam posisi berdiri dengan punggung disenderkan di dahan atau terkadang perutnya yang ia senderkan ke dahan, sambil tangannya menyibak dedaunan atau meraba tekstur dahan barangkali merasakan suatu guratan seperti sebuah ukiran serangkaian tanda yang ia temukan hari lalu, ia mencari-cari adakah tanda lain di pohon ke tiga. Anyung melakukan hal yang sama pada pohon ke dua dan pertama. Dan betapa tidak percayanya Anyung bahwa dirinya bisa menemukan rangkaian tanda itu di tiga pohon belimbing dalam tiga hari. Tentu saja dengan usahanya yang begitu besar sampai ia hampir terjatuh dari pohon apabila tidak segera berpegangan pada ranting-ranting.

Anyung bergegas keluar kamar setelah bangun dari tidurnya di Jum’at pagi. Ia menuju ke kebun samping rumah barangkali Ru sudah ada di sana. Ia tak melihat ada tanda-tanda kedatangan Ru dengan tidak melihat kendaraan apapun terparkir di sana. Ia coba mendekat ke setiap pohon, tapi tetap tak dilihatnya Ru. Ia malah melihat Ayahnya yang sedang membakar sampah pagi-pagi sekali sehabis menyapu halaman rumah. Ayahnya melihat Anyung ketika ia berdiri di bawah pohon belimbing ke tiga. Anyung langsung berlari menuju rumah lewat pintu belakang setelah mendapati Ayahnya mengalihkan pandangannya ke sampah-sampah di depannya tanpa menyapa atau menegur dengan satu kata pun.

Persiapannya sebelum berangkat sekolah dilakukannya seperti hari-hari biasa. Tak ada yang istimewa. Terasa membosankan baginya. Sesampainya di sekokah, Anyung langsung dipanggil dengan nama itu lagi oleh Tara yang bertanya apakah Anyung sudah menyelesaikan PR-nya atau belum. Tentu saja Anyung sudah mengerjakan sebab ibunya akan selalu mengingatkan di setiap malam sambil marah-marah agar anaknya mau belajar dan mengerjakan PR.

Ketika Tara hendak meminta jawaban Anyung, Ia mengelak lantaran tidak suka dipanggil seperti itu oleh Tara. Ketika Anyung ditunjuk oleh gurunya untuk menjawab, kemudian Anyung diminta menunjuk temannya untuk menjawab soal lain, maka nama Taralah yang keluar dari mulut Anyung. Sungguh ini merupakan kejadian di luar rencananya, ia sendiri sama sekali tidak tahu kenapa ia bisa tanpa sadar melontarkan nama Tara begitu saja. Bisa dikatakan mungkin Anyung sedang keselip lidah karena berusaha melupakan dan menekan ingatannya tentang panggilan yang digunakan Tara untuk memanggilnya. Sehingga tanpa sadar, Anyung pun mengatakan nama Tara yang saat itu sedang ada di pikirannya untuk dilupakan. Sebab, jika ia sadar, sangat tak mungkin Anyung akan mengatakan nama Tara.

Alhasil dari kejadian itu, Tara langsung marah dan memakinya saat jam istirahat, saat jam pulang sekolah dan setelahnya—diualangnya di dalam kepalanya sendiri. Dasar anying memang seperti namanya, anjing kamu. Sehari itu di sekolah, Anyung menjadi sasaran topik tertawaan yang dibuat oleh Tara.

Anyung pun pulang dengan perasaan kesal. Kesal pada Tara yang berlaku seenaknya pada dirinya, kesal pada orang tuanya yang memberinya nama, dan pada dirinya sendiri yang tak bisa mengubah perlakuan Tara dan namanya sendiri. Ia tidur di kamar sesampainya di rumah, melupakan agendanya bertemu Ru hari ini.

Anyung terbangun ketika mendengar suara ibunya memanggil-manggil namanya. Sekitar setengah empat ketika ia melihat jam weker yang tak lagi bisa berdering di mejanya. Ia langsung menuju dapur mengambil makan siang. Ia membuka tutup panci dan melihat masakan ibunya siang itu. Sayur bayam. Pikirnya. Ia langsung teringat namanya, kejadian tadi pagi, dan ya, ia ingat bahwa ini hari Jum’at dan ia harus bertemu Ru. Ia ambil sedikit sayur lalu diguyurkannya ke dalam piring yang sudah berisi nasi dan tempe pecel. Ia makan dengan lahapnya. Bukan karena ia lapar, bukan pula karena makanannya sangat lezat. Tapi karena ia harus butu-buru datang ke kebun samping rumahnya barangkali Ru sudah ada di sana.

Anyung keluar dari pintu belakang menuju samping rumahnya. Melihat ke pohon terdekat, yakni ke pohon tiga. Ia bergegas naik dan berdiri menapaki dahan paling bawah yang terbelah secara alamiah.

“Apa yang sedang kamu lakukan?”.

“Memilah belimbing”.

“Untuk?”.

Ru menghentikan pekerjaannya dan mengambil tas kain yang tergantung di dahan. Saat ini Ru berada begitu di pucuk dahan dan berangsur turun ke dasar dahan yang ia pijaki. Ru duduk di dahan yang terletak di seberang Anyung. Ia mencantolkan tasnya kembali ke dahan dekatnya lalu mengambil sesuatu di dalamnya.

Buah belimbing?. Pikir Anyung.

Ru memegang buah belimbing setinggi telinganya.

“Tidakkah kamu ingin mencobanya?”.

“Apakah itu enak?”.

“Kamu tidak pernah mencoba belimbing-belimbing di sini, ya?”.

“Kenapa belimbing itu berbeda dari belimbing-belimbing yang biasanya kutemui di sini?. Lebih terang dan bersih”. Anyung teringat belimbing yang berjatuhan di tanah ketika ia disuruh menyapu oleh ibunya. Terkadang kuning keemasan dan sudah bonyok, terkadang hijau dan berbintik-bintik.

“Karena aku telah membungkusnya beberapa hari lalu. Sesuatu yang dirawat dengan baik pasti akan menjadi sesuatu yang lebih baik pula”.

“Baru dibungkus Senin kemarin sudah matang?”. Anyung keheranan.

“Tidak”. Ru mengingat-ingat sesuatu. “Mungkin sekitar dua minggu yang lalu”.

“Kamu sudah di sini sejak dua minggu lalu?. Dan aku baru melihatmu kemarin Senin?”. Anyung merasa tercurangi. Sementara Ru diam saja tak menanggapi.

“Kamu mau ini tidak?”. Ru kembali menawarkan belimbing setelah diam beberapa saat.

“Apakah itu tidak berbahaya?”. Anyung menyelidik.

“Apakah kamu pikir ini belimbing seperti apel yang diberikan nenek sihir kepada putri tidur?”. Anyung melengos. Tahu saja yang ada di pikiran. Batin Anyung.

Karena tidak ada jawaban dari Anyung, Ru pun mengupas kulit belimbing pada bagian yang menonjol—atau kalau diiris melintang dinamakan sudut—menggunakan giginya, karena ia tak membawa alat potong. Antung semakin heran dengan tingkah Ru. Setelah satu sudut kulit terkelupas, Ru langsung menyomot satu bagian tersebut sehingga menimbulkan suara khas ketika menggigit buah yang banyak air.

“Mmm.. enak, segar. Kalau kamu mau ambil saja di dalam tas. Pilih yang kamu suka”. Tawarnya sekali lagi di sela-sela makannya.

Tergoda dengan cara Ru menikmati belimbing, Anyung pun akhirnya mengambil satu buah belimbing yang lumayan berisi. Ia meniru cara Ru menikmati buah belimbing. Enak juga.

Segar memang. Batin Anyung.

“Bagaimana sekolahmu?”. Tanya Ru setelah menghabiskan buah belimbing yang ia makan. Anyung lalu bercerita tentang kejadian tadi di sekolah tentang Tara dan teman- temannya yang memanggilnya dengan nama itu. Juga tentang dirinya yang keselip lidah memilih Tara untyk menjawab PR selanjutnya.

“Sesuatu yang berusaha kamu tekan ke luar ingatan kesadaran akan berusaha masuk lagi ke dalam. Semakin kuat kamu menekannya ke alam bawah sadar, maka ia juga berusaha semakin kuat agar masuk ke alam sadarmu lagi”.

“Jadi, keselip lidah yang aku lakukan tadi adalah cara agar ia masuk ke alam sadarku lagi?”.

“Bisa dikatakan begitu”.

“Lalu bagaimana cara agar ia tak masuk lagi?”.

Ru terdiam memmikirkan jawabannya. Ia teringat pada kalimat dalam sebuah buku yang pernah ia baca. Janganlah terlalu keras berusaha mengubur hal tidak menyenangkan di alam bawah sadarmu. Sesungguhnya tindakan yang sehat adalah membiarkan pintu terbuka lebar antara kesadaran dan bawah sadar. Tetapi, Anyung malah membuyarkan pikirannya.

“Kamu tahu”. Ucap Anyung dalam ketidaksabarannya menanti jawaban Ru. “Aku sudah menemukan tanda yang kamu maksud”.

“Oiya?”. Ru tertarik dengan perkataan Anyung barusan dan langsung dalam posisi siaga mendengarkan.

“Di pohon itu, bukan?”. Anyung menunjuk pohon empat yang Senin lalu ia naiki bersama Ru. Sementara Ru terdiam mendengarkan cerita Anyung selanjutnya. Ia telah berpikir keras setelah ia menemukan tanda-tanda itu di dahan pohon belimbing dan meja belajar di kamarnya. Ia yakin dengan apa yang dilihatnya, bahwa tanda yang ditemukan itulah yang dimaksud Ru.

“Tepat di dahan depanku duduk saat itu, aku melihat tanda yang mirip dengan apa yang kamu pegang saat itu. Setangkai daun belimbing yang sudah bolong tengahnya mengikuti lekuk sisi daun. Tetapi, di dahan itu, tanda seperti itu tidak dapat terukir sempurna karena betapa sulitnya mengukir bentuk daun di kayu yang keras jika bukan ahlinya. Tanda itu lebih terlihat seperti bentuk oval yang memanjang ke samping dengan tangkai tegas ke kanan bawah. Betul, kan, kalau tanda itu yang kamu maksudkan?. Tetapi, tanda itu tidak terukir sendiri. Ia ada bersama tanda lain. Ada lima bentuk dalam rangkaian tanda yang terukir di dahan. Pertama, huruf B, kedua adalah tanda yang kamu maksud harus kucari, ke tiga adalah tanda yang kamu sebut dengan buku, keempat adalah strip. Dan ke lima adalah huruf R”.

Ru terkesan dengan pemaparan Anyung. Ia menyadari tanda yang kumaksud. Pikirnya.

Anyung melanjutkan pemaparannya tentang apa yang ia temukan. “Tetapi, yang lebih mengherankan, rangkaian tanda itu tidak hanya kutemukan di pohon itu”. Anyung kembali menunjuk pohon empat lalu menjelaskan urutan pohon dari satu sampai lima dengan menunjuknya dari tempatnya duduk.

“Di pohon satu, aku menemukan rangkaian tanda seperti ini, huruf “U”, tanda berbentuk dua garis sejajar vertikal, semakin ke bawah semakin melebar, di atasnya terdapat garis-garis pendek yang sudah putus-putus, ada yang melengkung ada yang lurus, sehingga membentuk seperti sebuah bulatan lebat. Jika aku benar, itu adalah gambar pohon. Lalu apa yang kamu sebut buku, strip dan huruf “R””.

Tatapan Anyung menerawang ke arah belimbing satu lalu berangsur bergeser ke belimbing dua.

“Di pohon dua juga ada rangkaian tanda semacam itu. Tapi bedanya, ada pada dua tanda pertama, yaitu huruf “U”, lalu sebuah garis tegak, entah itu adalah garis tegak, angka satu atau huruf “I”. Kamu tahu, setiap rangkaian tanda memiliki kesamaan di tiga tanda terakhir. Dan polanya adalah tanda pertama adalah huruf yang menurutku, jika digabung akan menjadi suatu kata. Tanda ke dua adalah ciri khas yang membedakan dari tanda-tanda lainnya. Bukan huruf, bukan pula sesuatu yang abstrak, tapi sesuatu yang bentuknya benar-benar ada di kehidupan ini. Itu artinya, tanda ke dua di pohon dua bukanlah angka satu atau huruf “I” melainkan

memang garis tegak. Baru setelah itu gambar buku, strip dan huruf “R””.

“Di pohon tiga, aku menemukan tanda huruf “T”, lalu gambar bintang. Jika sebelumnya aku tidak terlalu yakin pada tanda ke dua di serangkaian tanda yang terukir, kali ini aku betul- betul yakin jika tanda kedua di pohon tiga adalah ukiran gambar bintang. Lalu tanda buku, strip dan huruf “R”. Dan yang lebih mengherankan lagi, serangkaian tanda itu juga kutemukan di meja belajar dalam rumahku.

Ru tertegun dengan penjelasan Anyung. Sungguh di luar dugaannya bahwa Anyung akan menemukan rangkaian tanda itu di setiap pohon bahkan di meja belajar yang ada di kamar Anyung.

“Di meja belajar yang ada di kamarku, yang kutemukan adalah huruf “H”, bentuk oval ke samping yang hampir sama seperti tanda di pohon empat tapi bedanya ada pada garis tegas yang memanjang ke kiri bawah. Lalu seperti yang lainnya, diikuti tanda buku, strip dan huruf “R”. Aku curiga”. Anyung menyelidik. “Kalau sebenarnya, ukiran terakhir pada setiap rangkaian tanda di pohon maupun meja belajar itu berarti “Ru” bukan?. Itu namamu. Kamu yang membuat tanda itu”.

Ru terkejut mendengar tuduhan Anyung. “Jika benar tanda itu aku yang membuat, bagaimana mungkin aku bisa membuat ukiran tanda itu di meja belajarmu?”.

“Bukan meja belajarku. Tapi meja belajar kakakku”.

“Kakak?”. Ru tambah terkejut.

“Ya, aku punya kakak, namanya Ari. Dia sudah meninggal”.

“Maaf. Turut berduka”.

“Tak apa. Aku juga tak terlalu mengenalnya. Ia sudah lama meninggal sejak aku berusia tiga tahunan mungkin”. Anyung segera mengubah topik pembicaraannya kembali ke rangkaian tanda itu.

“Jika bukan kamu yang membuat, lalu pada siapa aku bertanya tentang arti rangkaian tanda itu. Jika tanda pertama dari setiap rangkaian tanda dibaca, maka akan berbunyu butuh, atau tubuh. Apakah benar demikian?. Aku yakin pasti tanda itu memiliki suatu makna. Aku yakin pasti tanda itu memiliki suatu makna.”.

Ru mendesah, menghela napas sebelum berbicara. “Kamu bisa bertanya padaku. Bukankah sudah kukatakan bahwa hari ini kita akan membahas temuanmu?”.

“Tapi kamu bilang, bukan kamu yang membuat tanda itu”.

“Memang bukan aku. Hanya karena bukan aku yang membuatnya bukan berarti aku tidak tahu akan hal itu”.

“Jadi, apa?”.

“Kamu benar-benar ingin mengetahuinya?”.

Lihat selengkapnya