“Buk, tapi Ulis kepengen ngelanjutin sekolah lagi setelah lulus SD, Buk. Seperti Kang Djaja itu Buk”.
“Wis ndak usah niru-niru wong liyo, Lis. Lagian kan dia orang berkecukupan, sawahnya di mana-mana. Jadi wajar to kalau Bapaknya bisa nyekolahin Djaja sampe SMP bahkan lanjut SMA. Kamu kan sudah hampir 14 tahun to. Umumnya orang-orang sesusiamu, memang sudah waktunya kalau ada orang yang mau sama kamu”.
“Ya kalau nirunya hal baik ya ndak masalah to Bu. Beda lagi kalau hal buruk ya memang ndak boleh ditiru. Lagian Ibuk lho bagaimana. Niru Kang Djaja ndak boleh tapi kok boleh niru orang-orang lain yang ndak sekolah”.
“Lis, Lis. Tak kasih tau ya nduk. Ibuk ini cuma jualan nasi kalau pagi, hasilnya ndak seberapa. Kita ini orang ndak mampu. Bisa makan sehari saja sudah syukur kok, ndak perlu sekolah-sekolah lagi. Cuma ngabisin duit saja. Zaman sekarang wis lulus SD saja sudah syukur kok”.
“Jangan bilang ndak mampu dulu to Buk kalau belum dicoba, itu namanya bukan ndak mampu, tapi ndak mau. Sekolah bukan cuma ngabisin duit saja kok Buk, kan bakalan dapat ilmu juga, dapat ijazah biar bisa melamar kerja yang lebih baik lagi, begitu Buk”.
“Kamu ini wong wedok. Ndak perlu sekolah lagi karena nanti kamu kalau sudah menikah kan di rumah to. Yo opo ora eman?”
“Ya, makanya Ulis ndak mau nikah dulu, Buk”.
“Wis, wis. Kalau itu alasanmu nolak lamarannya Murad, ibuk ndak setuju. Pokoknya Ibuk ndak ngizinin kamu lanjut sekolah. Terima saja ya ndhuk lamarannya. Ndak baik nolak lamaran orang yang ngarepke kowe. Takut nanti kena getahnya jadi ndak laku-laku sampai tua, itu kayak si Ropyah sudah hampir 30-an kok ndak nikah-nikah. Itu dulunya juga pernah nolak lamaran orang, Lis”.
“Ulis kan ndak lagi jualan Buk. Ya ngapaian takut ndak laku. Soal Yu Ropyah yang ndak nikah-nikah itu barangkali belum nemu orang yang dicintai”.
“Halah, cinta..cinta. Ibuk dulu nikah sama Bapakmu ya ndak perlu cinta-cintaan dulu. Dikenalin orang tua terima saja langsung cepat-cepat menikah. Kamu ndak harus langsung nikah juga kok seperti Ibuk. Nanti bisa biang ke Murad kalau nikahnya tiga tahunan lagi kalau kamu sudah 18 tahun”.
“Tapi, Buk. Ulis ndak suka sama Murad. Dia itu temen sekelas Ulis, suka moyoki Ulis pakai nama-nama yang aneh”.
“Lha itu justru karena dia sekelas sama kamu berarti sudah saling kenal, bakal gampang nanti jalin kedekatannya. Kalau dia suka moyoki kamu itu tandanya memang dia ada rasa sama kamu. Murad kan Bapaknya tukang batu, dia pasti nanti nerusin pekerjaan Bapaknya. Hidupmu ya bakalan lebih baik dari Ibuk yang ndak lagi punya lelaki”.
■■■
Di Pohon Belimbing (3)
“Hai, Ru. Aku mencarimu di rumah tetapi kamu malah di sini”. Ru menatap ke bawah tanpa berkata apa-apa. “Kamu tak ingin turun kah?”.
Ru hanya menggelengkan kepala.
“Ada apa?”. Tanya Ru ketika orang yang memanggilnya sudah mengimbangi ketinggian Ru di atas pohon belimbing. Itu adalah Ri.
“Apakah kamu marah padaku, Ru?”. Ru menggeleng. “Lalu kenapa kamu tak menjawabku tadi?”.
“Aku kesal”.
“Karena aku?”.
Ru mendesah. “Aku kesepian tak ada teman di rumah dan kita baru bisa bermain setelah kamu pulang sekolah. Aku tak suka”.
“Mana yang lebih tak kamu sukai?. Kamu tak suka kesepian di rumah karena aku harus ke sekolah. Atau kamu tak suka aku ke sekolah sehingga kamu harus kesepian di rumah?”.
“Pertanyaanmu selalu membuatku pusing”. Ru memanyunkan bibirnya kesal.
Ri tertawa geli. “Baiklah. Aku minta maaf”. Ri diam sejenak mengamati ekspresi Ru.
“Sebenarnya, aku ingin bercerita tentang sekolahku tadi. Tapi beehubung kamu sedang kesal padaku, maka tak jadi sajalah”.
“Aku tidak bilang aku kesal padamu. Cerita saja”. Ru menyanggah.
“Baiklah. Tapi jangan tertawakan aku”.
Mata Ru membulat mendengar peraturan Ri. “Sepertinya akan seru”.
“Tadi aku disuruh praktik membaca di depan kelas, maksudku, di hadapan teman- teman di kelas. Kamu tahu kan, kalau aku sedikit banyak sudah bisa membaca?”.
“Ya, kamu pintar”.
“Hmm, terima kasih. Tapi ternyata aku tidak sepintar itu”. Ri membuat wajahnya agar tampak serius.
“Mengapa. Kamu bilang ada temanmu yang masih kurang lancar membaca?”.
“Ya. Tapi, saat tadi aku ke depan dan membacakan tulisan di buku. Aku salah mengeja kalimat, Ru. Yang seharusnya kueja “Ibu lalu ke pasar membeli keset”. Malah kueja menjadi
“Ibu ke pasar membeli keset”. Teman-teman dan Bu Guru langsung melongo mendengarnya.
Mungkin, di pikiran teman-temanku, untuk apa Ibu ke pasar membeli rasa malas?. Bukankah seharusnya itu adalah sesuatu yang harus dibuang jauh-jauh, kan Ru. Aku malu sekali”.
Ru diam menyimak sambil melongo. “Aku tidak mengerti”, ucapnya akhirnya.
“Jadi begini, Ru. Keset terdiri dari huruf k-e-s-e-t. Tapi memiliki cara baca yang berbeda-beda”. Ru tampak mengangguk. “Bisa dibaca keset, yang berarti lap kaki yang biasa ditaruh di depan pintu, keset yang berarti rasa malas, bisa juga keset yang berarti…”
“Seperti piring yang habis dicuci?. Nenek selalu bilang padaku saat mencuci piring, kalau bilas jangan asal celup ke air biar piringnya keset”.
“Nah benar. Kamu mengerti juga”.
“Jadi kamu salah membaca tulisan yang harusnya punya makna pertama jadi punya makna yang ke dua karena tulisannya sama?”.
Ri mengangguk. “Aku malu”.
“Kenapa malu, kalau aku jadi kamu bisa juga aku mengucapkannya malah memiliki makna yang ke tiga. Bagiku kamu hebat karena sudah bisa membaca. Apakah mereka menertawakanmu?”.
“Tidak, tidak. Sampai Bu Guru mengoreksi tidak ada yang tertawa. Baru setelah Bu Guru mengoreksinya teman-temanku tertawa”.
“Itu bukan hal yang lucu bagiku”.
“Tapi, Ru. Meskipun salah aku tetap dapat bintang karena sudah membaca satu halaman di depan kelas”.
“Bintang?”. Ru penasaran.
“Ya, tapi bukan bintang sungguhan seperti yang kita lihat di malam hari”. Ri tertawa.
“Tapi bintang yang digambarkan Bu Guru di kertas besar warna hijau di tembok kelas. Setiap anak yang mau membaca minimal satu halaman di depan kelas dengan lantang akan mendapat satu bintang yang digambarkan Bu Guru. kamu tahu, aku sudah mendapat enam bintang. Dan itu jumlah paling banyak ke dua di antara teman-temanku setelah Sari”.
“Kedengarannya menarik. Kamu harus mendapatkan lebih banyak bintang daripada temanmu bernama Sari itu”. Ri mengangguk setuju.
“Aku akan membaca banyak halaman biar bisa dapat bintang lebih banyak”.
“Kamu hebat, Ri”. Ru terkagum pada Ri yang sudah bisa baca tulis.
“Kamu juga”.
“Apanya?. Aku tidak bisa membaca”.
“Tapi kamu cepat mengerti saat aku menjelaskan tentang keset”.
“Tetap saja, aku yang tak mengerti bagaimana bentuk k-e-s-e-t yang kamu maksud itu”. Ru cemberut.
“Apakah kamu mau tahu bagaimana tulisannya?. Aku bisa mengajarimu”. Ri mengitarkan pndangannya ke bawah ke arah tanah.
“Apa yang kamu cari?”.
“Tunggu di sini sebentar”.
Ri turun dari pohon belimbing dengan gesit lalu menuju ke sebelah barat daya beberapa langkah. Ia berhenti di dekat pohon pisang dan mengambil sesuatu di tanah tempat pohon pisang berdiri. Ri bergegas kembali ke tempatnya tadi bersama Ru. Ri berdiri di dahan tak jauh dari Ru duduk. Mereka saling berhadapan. Pohon itu bercabang menjadi tiga dahan besar. Ru di dahan pertama dan Ri di dahan ke dua.
“Paku?. Untuk apa?”.
“Biar kutunjukkan padamu bagaimana bentuk huruf-huruf itu. Tapi aku akan menunjukkan huruf paling mudah dulu”.
Ri mulai menggoreskan paku pada dahan pohon bekimbing yang tak mereka tumpangi. Ri menjelaskan bagaimana cara menulis huruf “T”. Dari mana ke mana garis yang harus ia torehkan.
“Nah, seperti inilah huruf “T” yang menjadi akhir huruf dari kata keset, Ru”. Ri mengajar Ru yang berdiri memerhatikan lebih dekat bagaimana bentuk huruf “T” yang ia buat. “Oh maaf, tetapi ini “T” besar”.
Ru menatap ukiran huruf “T” dengan kagum.
“Ada berapa total huruf, Ri?”. Tanya Ru tanpa beralih dari huruf “T” di dahan.
“26”.
“Dan kamu menghafal kesemua bentuknya?. Betapa hebatnya itu”. Ru mulai mengalihkan pandangannya ke arah Ri.
“Kamu juga bisa melakukannya, Ru”.
“Tapi, aku tidak sekolah”. Ru terdiam. Ri pun terdiam menatap Ru yang terdiam murung. “Tenang. Aku bisa mengajarimu”. Ucap Ri riang untuk menghibur. Tapi, sedikitpun Ru tak merasa terhibur.
“Betapa enaknya menjadi Ri yang bisa bersekolah”. Ri merasa sedih dengan ucapan Ru barusan. Tak tahu harus merespon bagaimana, tiba-tiba Ru berbicara lagi. Kali ini ia bertanya.
“Ri”. Panggilnya. “Apakah kamu punya impian?”. Tatapan Ru menerawang jauh ke dalam mata Ri.
Ri diam cukup lama memikirkan apakah ia punya mimpi. Sebetulnya, ia sendiri juga tak tahu apa yang ia ingin, apa yang ia mimpikan, apa yang ia cita-citakan, atau malah sebenarnya ia tak pernah berpikir sampai ke arah sana. Jika ditanya apa cita-citanya, jawabannya pasti ingin menjadi polisi. Tanpa tahu apakah ia benar-benar menginginkan menjadi polisi atau tidak. Tetapi, kali ini Ri berkata jujur pada Ru. “Aku tidak tahu, Ru”. Ri diam lagi. “Kalau kamu, apa?”.
“Aku ingin bersekolah, Ri”. Sebuah impian paling jujur yang tampak begitu sederhana di mata Ri.
“Biar apa?”.
“Aku ingin bisa membaca. Karena dengan itu, aku bisa tahu banyak hal. Seperti, kenapa buah belimbing kalau matang warnanya kuning dan rasanya manis sementara kalau masih muda warnanya hijau dan rasanya kecut. Aku ingin. Aku ingin menkadijannya nyata”.
Bahkan, Ri pun tak pernah berpikir seperti itu. Diam-diam, Ri kagum pada Ru. Ri pun ingin punya sebuah impian yang ingin diadakannya menjadi kenyataan. Tapi tak tahu apa.
“Tapi, aku tak tahu apakah hal itu akan benar-benar menjadi kenyataan. Bapak bekerja, jarang di rumah. Paling hanya pulang dua kali setahun. Sementara Nenek, tak pernah membicarakan hal ini padaku. Ah, aku ragu kalau Nenek akan mendukung impian ini. Yang ia pedulikan hanya bagaimana nasi bungkusnya terjual saat pagi. Entah Bapak”. Ru kembali murung. “Seandainya Ibu ada. Pasti ia akan membantuku mewujudkan mimpi itu seperti ibumu yang selalu menyuruhmu pergi ke sekolah”.
“Seandainya Ibumu masih ada, mungkin kamu tak akan memiliki impian semacam itu”.
“Mengapa?”.
“Karena ibumu pasti sudah akan menyuruhmu pergi ke sekolah sebelum kamu memintanya. Seperti ibuku yang telah menyekolahkanku bahkan sebelum aku memintanya”. Ri berkaca pada pengalamannya sendiri. Mereka saling menatap satu sama lain.
“Mimpimu akan menjadi kenyataan, Ru”. Ucap Ri yakin.
“Bagaimana caranya”.
“Pertama-tama, kita akan mengukir mimpi itu di sini”. Ru terheran dengan maksud Ri.
“Bagaimana bisa?”.
“Bisa. Semua bisa kita usahakan jika kita mau”. Ri begitu yakin dengan ucapannya.
“Begini. Kita harus mencari sesuatu yang bisa kita ibaratkan dengan mimpi”.
“Apa itu?”.
Ri berpikir. Ia melihat sekeliling. Ia melihat buah belimbing yang jika diiris melintang akan membentuk bintang. Ia jadi teringat bintang yang digambarkan bu guru untuknya setiap berhasil membaca satu halaman di depan kelas.
“Bintang”. Ucapnya tiba-tiba setelah berpikir keras. “Bintang itu bisa kita lihat saat malam gelap. Sama seperti impianmu yang tiba-tiba datang dari sebuah kemurungan. Sesuatu yang kecil dan berusaha kita gapai, terasa sangat jauh seakan kita tak akan pernah bisa menggapai.
“Baiklah”. Kita ukir bintang di dahan ini. Ri pun mulai mengukirkan gambar bintang bersebelahan dengan huruf “T” yang tadi diukirnya.
“Selesai”.
Ru menamatkan pandangannya pada hasil ukiran Ri. Ia tersenyum. “Bagus”.
“Baiklah, selanjutnya. Apa mimpimu?”.
“Bersekolah”.
“Apa gambar yang tepat untuk melambangkan sekolah, Ru?”.
“Ya, sekolah. Apa lagi?”.
“Itu terlalu rumit untuk digambar di sini”. Protesnya.
“Lalu apa?”.
“Bagaimana jika buku?. Kamu bilang kamu ingin bisa membaca, bukan?. Dan kita diajarkan membaca juga di sekolah”.
“Ide bagus. Sepertinya itu lebih mudah”.
“Tapi, bagaimana membuat gambar buku?”.
“Aku tak tahu”.
“Baiklah. Biar kucoba”. Ri mulai menggoreskan paku membentuk sebuah buku sesuai imajinasinya.
“Selesai”.
“Coba kulihat”. Ru mengamati gambar yang ada di depannya. Ia lalu tertawa terbahak- bahak. “Ini sungguh berbeda seperti aslinya”. Ia tertawa lagi.
“Hei. Bukan hal mudah mengukir bentuk buku di sini”. Ri membuat nada bicaranya kesal. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia senang bisa membuat dan melihat Ru tertawa.
Ri mulai menggoreskan pakunya ke dahan.
“Apa lagi yang kamu ukir?”.
Ri tak menjawab. Ia melanjutkan pekerjaannya sambil mencondongkan badannya ke depan. Ia lalu menjelaskan hasil ukiran terakhirnya. Sambil menunjuk, ia berucap, “Ini tanda strip. Entahlah. Aku sering melihat tulisan-tulisan yang di bawahnya terdapat tanda strip lalu diikuti nama. Aku pikir itu nama yang membuat tulisan itu. Jadi kubuat ukiran ini sama seperti itu. Tiga ukiran tanda yang kubuat, “T”, bintang, buku”. Ia menunjuk satu demi satu tanda itu.
“Strip, huruf “R”. Yang berarti tanda itu Ri yang membuat”.
Ru melongo saja dengan penjelasan Ri.
“Tapi namamu Ari”.
“Tapi kamu memanggilku Ri”.
“Ah, baiklah. Bapakku memanggilmu seperti itu, jadi aku mengikitinya”. Ru diam sejenak. “Makna yang cukup bagus“. Ru menganggu-anggukan kepala sebelum bicara kembali. “Mengapa kita harus mengukirnya di sini, Ri?”.
“Karena aku ingin kamu selalu ingat pada impianmu, Ru. Aku ingin kamu juga mengukirnya di hatimu seperti aku mengukirnya di dahan ini. Aku ingin kamu tahu bahwa aku mendukung impianmu itu”.
Ru kembali mengangguk terharu.
“Setelah ini, kamu bisa bicara ke Nenek dan Bapakmu tentang mimpimu”. Ia berhenti sejenak. Dan aku juga akan membicarakan tentang impian ke ibuku. Sepertinya, aku juga ingin bersekolah. Sekolah setinggi-tingginya.
“Aku yakin Dhe Mar pasti setuju. Dia kan baik. Aku sering dikasih uang jajan kalau dia pulang”.
Ru mengangguk saja
“Jadi, jangan marah lagi padaku”.
“Sudah kukatakan, aku tidak marah”. Mereka tertawa.
“Ru”, panggil Ri.
“Ya?”.
“Jangan sedih dan murung lagi ya?. Aku yakin impianmu akan menjadi kenyataan. Karena saat ini kamu sudah berjalan di bawah gemerlapnya bintang itu”.
■■■
Sejak bapaknya meninggal, Marsudi meneruskan pekerjaannya menjadi pedagang keliling di suatu kota berbeda yang bersebelahan dengan kampung halamannya. Kira-kira sudah 11 tahun ia melakoni pekerjaan itu. Ia nekat melakukannya demi ibu dan adiknya agar bisa lulus sekolah. Marsudi sendiri memilih tidak melanjutkan sekolah dasarnya lantaran saat kelas enam, bapaknya mulai sakit-sakitan. Saat itu, bapaknya pernah kembali ke perantauan dalam keadaan kurang sehat. Merasa kasihan, ia pun memilih menemani bapaknya ketika sakit di luar kota agar tetap bisa menafkahi keluarganya. Ia pergi tanpa sepengetahuan ibunya untuk menyusul bapaknya. Ia hanya meninggalkan sebuah surat yang diletakkannya di atas tempat tidurnya suatu pagi saat hendak pergi ke sekolah. Meskipun ibunya sendiri tidak pandai membaca, ada Marulis yang akan membacakan surat tersebut untuk ibunya.
Biasanya, ia pergi sekolah bersama Marulis, adiknya. Tapi pagi itu ia menyuruh adiknya berangkat dahulu dengan dalih perutnya mulas dan harus buang hajat dulu. Marulis yang mengetahui bahwa kakaknya pasti akan lama karena kebiasaannya yang lama saat buang hajat tentu manut saja dengan perkataan Marsudi. Marulis tentu tidak ingin terlambat datang ke sekolah. Bisa-bisa ia akan dimarahi gurunya dan diejek oleh teman-temannya.
Ibunya sendiri tidak curiga padanya yang berangkat mepet jam masuk karena masih sibuk menjual nasi bungkusnya. Kesempatan yang bagus bagi Marsudi untuk menyusul bapaknya karena biasanya saat pagi, ia tak akan menunggu kendaraan umum terlalu lama. Jangan ditanya dari mana Marsudi mendapatkan uang untuk ongkos perjalannya. Uang saku dari ibunya saja bisa dihitung berapa kali ia gunakan untuk jajan.
Bapaknya juga terkejut melihat anaknya tiba-tiba telah menunggunya di kosan yang sangat sederhana ketika ia pulang. Bapaknya langsung saja memarahinya dan menyuruhnya pulang. Tapi, Marsudi yang keras kepala bersikeras ingin tetap tinggal di situ. Sejak saat itulah, Marsudi mulai sering bolos sekolah karena sebentar di tempat bapaknya, sebentar di rumahnya. Merasa ketinggalan pelajaran, akhirnya Marsudi memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya. Ia memilih membantu ibunya menyiapkan jualan nasi bungkus ibunya lalu dilanjut bekerja serabutan jika dibutuhkan. Seperti menjadi pembuat gerabah di tempat tetangganya. Uang yang didapatnya saat bekerja membuat gerabah diperuntukkannya untuk menyusul bapaknya, biasanya seminggu. Setelah itu ia pulang ke rumah dan kembali bekerja sebagai kuli gerabah seminggu dilanjut minggu berikutnya ia menyusul bapaknya.
Dari pengalamannya menemani bapaknya itulah, Marsudi tak merasa kewalahan saat ia harus benar-benar bekerja sendirian setelah bapaknya meninggal ketika ia berusia 15 tahun. Beberapa bakul sayuran atau bahan makanan di pasar sudah ia kenal. Ia jadi tahu berapa harga yang harus ia bayar untuk mendapatkan dagangan dan berapa yang harus ia dapatkan ketika menjual dagangan. Ia juga sudah tahu ke mana ia harus menjual dagangannya. Dari kampung ke kampung, dari jalan ke jalan, ia lalui seperti rute yang dilaluinya bersama bapaknya dulu. Ia bahkan sudah hafal di titik mana ia harus berhenti untuk menjual dagangannya ke pembeli langganannya. Termasuk di sebuah perkampungan yang tak begitu padat yang agak jauh dari jalan.
Di sana, ia sering melihat seorang perempuan seusia adiknya terkadang bermain dengan temannya, terkadang di rumah tak jauh dari tempatnya berhenti, terkadang pun ikut membeli jajanan pasar yang dibawanya. Perempuan itu diketahuinya bernama Ratri. Apapun informasi tentang Ratri yang tak sengaja dibicarakan oleh tetangganya diingatnya baik-baik. Dari pelanggannya itulah ia tahu bahwa orang tua Ratri sudah meninggal dan saat itu hidup bersama kakek nenek dan buliknya. Rupanya, Marsudi diam-diam selalu memperhatikan perempuan itu dan mulai menaruh hati kepadanya. Karena saat itu ia merasa masih jauh dari kata layak untuk menikah, merasa belum memiliki pekerjaan yang mumpuni, dan merasa Ratri masih kecil, ia sembunyikan perasaannya pada siapapun, termasuk dirinya sendiri. Ia mencoba bersikap sebiasa mungkin ketika bertemu Ratri seperti ketika bertemu gadis lain.
Sampai ketika ia sudah memasuki usia 25 tahun—Ratri berusia 21 tahun—ia merasa ketertarikannya pada Ratri semakin besar. Ia mulai mencari tahu tentang Ratri apakah sudah menjadi pinangan orang atau belum. Marsudi pun akhirnya mantap untuk menjalin hubungan dengan Ratri. Ia bahkan memberanikan diri datang sendiri ke rumah Ratri untuk menyampaikan niat dan perasaannya serta meminta persetujuan keluarga. Niat itu pun disambut baik oleh Ratri dan keluarganya. Ratri menyukai keberanian Marsudi dan kesabaran Marsudi menunggu dirinya tumbuh lebih dewasa. Marsudi dan Ratri pun menikah setahun setelah Marsudi pertama datang ke rumah Ratri. Marsudi pun memboyong Ratri untuk tinggal di kosannya yang sederhana itu.
Setelah hampir setahun usia pernikahannya, Marsudi kembali memboyong Ratri tapi kali ini ke kampung halamannya. Ratri diajak tinggal bersama ibunya yang tinggal sendirian karena adiknya, Marulis, ikut suaminya, dengan alasan agar ibunya dapat membantu istrinya jika kewalahan mengurusi anak. Marsudi ingin anaknya bisa tinggal di rumah yang lebih baik dari kamar kosannya yang sempit ketika ditinggali berdua dengan istri.
Marulis pun datang ke rumah ibunya ketika kakak iparnya telah sampai di rumah. Usia yang hampir sama membuat mereka mudah menjalin kedekatan. Ibu Marsudi pun bersikap sangat mengayomi menantunya itu. Karena bagaimanapun, ia juga termasuk orang paling bahagia dalam menanti kelahiran anak Marsudi. Itu berarti, ia akan segera memiliki cucu pertamanya. Sebab, meskipun sudah hampir lima tahun usia pernikahan, Marulis belum dikaruniai keturunan. Hal ini jugalah yang menjadikan Marulis diam-diam resah akan kehamilan kakak iparnya yang baru satu tahun menikah sudah dikaruniai anak, sementara ia yang sudah hampir lima tahun belum juga ada tanda-tanda ia akan dikaruniai anak.
Hal tersebut disampaikannya pada ibunya. Oleh ibunya, Marulis disarankan dapat mengasuh anak orang untuk memancing kehamilan di rahim Marulis. Hal itu diketahui ibunya dari omongan tetangga-tetangganya ketika membeli nasi bungkus di tempatnya. Sontak jawaban tersebut membuatnya tambah bingung. Orang tua mana yang mau meminjamkan anaknya diasuh Marulis sebentar. Pikirnya.
Marulis datang lagi ke rumah ibunya setelah ada keluarga suaminya yang juga menyarankan hal serupa dengan apa yang disarankan ibunya. Marulis menyampaikan keresahannya pada ibunya.
“Ibuk juga bilang apa. Ibuk sudah pernah bilang kan buat ngambil anak. Kamunya ndak percaya”.
“Bukan begitu Buk. Kalau misal Ulis mengambil anak, terus tiba-tiba Ulis hamil. Ya ndak siap Ulis momong dua anak langsung”.
“Bukannya kalau ngambil anak sekarang juga masih akan begitu”.
“Ya maka itu Buk. Ulis bingung. Ulis takut”. Mata Marulis mulai berkaca-kaca. “Mbak Tri sudah hamil sementara Ulis belum”. Ucapnya pelan.
Ibunya yang awalnya ikut resah pun memasang wajah cerah seketika setelah mendengar nama Ratri disebut. “Kenapa ndak anaknya Kakangmu saja Lis. Kata dukun bayi yang bakal bantu Ratri, kelihatannya Ratri mengandung anak kembar karena perutnya membesar lebih dari kebanyakan orang. Ndak apa-apa kan, kalau misal salah satunya kamu yang ngasuh. Lagian kalau dua sekaligus, Ibuk kasihan sama mereka. Takutnya Kakangmu juga kesulitan biayain mereka hanya dari jualan dagangannya seperti Ibuk”.
Ulis terkejut seperti sedang tiba-tiba ingat sesuatu. “Tapi yo opo Kang Mar mau?”.
“Wis. Soal itu nanti Ibuk yang bilang”.
Akhirnya, hari kelahiran itu pun datang. Sebelum itu, Ibu Marsudi telah berbicara pada Marsudi dan juga istrinya tentang apa yang dibicarakannya dengan Marulis terakhir kali bahwa Marulis ingin merawat anak Marsudi. Marsudi dan Ratri sama-sama terkejut ketika mendengar penjelasan Ibunya. Marsudi menolak mentah-mentah apa yang diinginkan ibunya dan Marulis. Tetapi ibunya buru-buru mendesak dengan berkata macam-macam. Dari ketakutannya mengenai pekerjaan Marsudi jika tidak mencukupi sampai Marulis yang selalu sedih ketika melihat teman-temannya sudah banyak yang menimang anak. Seolah menuntut Marsudi sebagai Kakak untuk membantu menghilangkan kesedihan adiknya. Marsudi sebenarnya masih tidak setuju.
“Itu di luar tanggungjawabku to Buk. Ulis memang adikku Buk, tapi sekarang bukan tanggung jawabku lagi Buk. Tanggung jawabku sudah selesai ketika ia menikah dulu. Lagian aku sudah bertanggung jawab atas keinginan dia biar bisa lulus sekolah setelah Bapak ndak ada. Jangan minta aku bertanggung jawab juga atas kesedihannya sekarang, Buk”. Jawaban Marsudi sontak membuat Ibunya marah. Tapi semakin ia membantah, ibunya semakin keras memaksa. Ibunya bahkan sampai marah-marah dan mengeluarkan kata-kata yang tak baik. Ibunya terlanjur naik pitam karena dibantah anak sulungnya sampai mengeluarkan sumpah serapah, jika mereka tak mau mengikuti arahannya sebagai ibu, maka hal-hal buruk akan menimpa mereka. Demikian ibunya berkata.
Ratri yang ketakutan berusaha menengahi mereka. Tapi keduanya sama-sama sudah terlanjur terbakar emosi. Ratri merasa tertekan dan tiba-tiba merasa perutnya kram. Marsudi langsung saja menghentikan pertikaiannya dengan Ibunya dan segera memanggil dukun bayi untuk membantu proses persalinan barangkali memang waktunya sudah dekat. Dan benar saja, tak lama setelah itu, Ratri, dibantu dukun bayi pun melahirkan anak kembar dengan selamat.
Tetapi, sayang, perdarahan yang dialami Ratri begitu banyak sampai dukun bayi tak dapat membendung dan panik sendiri.
Akhirnya, Marsudi membawa Marulis ke puskesmas ditemani dukun bayi menggunakan mobil sewaan dari tetangganya yang lama sekali mencapai titik kesepakatan tentang biaya, kebersihan dan lain-lain membuat Ratri kelamaan menunggu. Sesampainya di puskesmas, Ratri dinyatakan telah meninggal.
Di jalan ketika menuju puskesmas, dengan sisa-sisa tenaga yang Ratri miliki, ia mencoba berbicara pada suaminya. “Tak ada apapun yang sungguh ingin aku lihat dari sana kecuali melihat anak-anakku tumbuh bahagia penuh cinta di dunia. Agar ia dapat menjalani hari-harinya dengan lapang dada sampai tiba saatnya aku dapat memeluknya di sana ketika ia kembali menyatu menyusulku.”.
“Namai mereka seperti apa yang sudah aku ceritakan padamu, ya Kang”.
Setelah kepergian istrinya, Marsudi cukup terpukul dan menjadikannya mudah kewalahan dalam mengurus kedua bayi mereka. Meski dibantu oleh ibunya, Marsudi tetap saja merasa kurang maksimal memberikan kasih sayangnya. Marsudi pun teringat akan perkataan ibunya sendiri sebelum anaknya lahir, di dalam pertikaian yang jarang terjadi anatara dia dan ibunya. Jika kalian tak mau mengikuti arahanku sebagai ibu, maka hal-hal buruk akan menimpa kalian.
Ibunya sendiri tak pernah lagi mengungkit masalah itu. Tetapi, Marsudi sendirilah yang selalu mengingatnya dalam benaknya. Ia berpikir bahwa kepergian Ratri adalah akibat dari perkataan sang ibu. Marsudi pun kebingungan dengan apa yang harus dilakukannya. Ia tentu tak mau anak-anaknya menjumpai hal-hal buruk seperti istrinya. Kepergian istrinya terlalu menyakitkan untuk diulang oleh anaknya. Maka terlintas di pikirannya, bahwa ia memang harus menuruti saja apa kata ibunya agar salah satu anaknya diasuh oleh adiknya. Tetapi ia juga tidak mau melepas dan berpisah dengan anaknya begitu saja. Ia membolak-balikkan isi pikirnya. Jika begini maka begitu. Jika tidak begini maka begitu.
Sebetulnya Marsudi tak ingin melakukannya karena ia ingin memastikan sendiri anak- anaknya tumbuh bahagia dan penuh cinta seperti apa yang istrinya sampaikan sebelum meninggal. Tetapi jika ia tak melakukannya, ia takut akan kebenaran ucapan ibunya yang akan menjadi semacam kutukan untuk keluarganya. Jika ia tak melakukannya pula, ia takut ia tak mampu membuat kedua anaknya tumbuh sempurna dan memastikan segala kebutuhannya terjamin. Susu, nutrisi yang cukup, pendidikan di beberapa tahun lagi, ia tak tahu apakah ia akan mampu memberikannya secara maksimal. Meskipun ia akan berusaha sebisa apa yang ia mampu. Tapi tetap saja ketakutan itu ada. Bagaimana jika ia tak dapat membuat mereka bahagia?. Istrinya pasti akan kecewa di sana. Pikirnya.
Ia menjadi agak pendiam setelah kematian istrinya, lebih pendiam lagi setelah pikiran itu terlintas di benaknya. Ibunya rupanya mengamati anak sulungnya dan menyadari hal tersebut. Ditanyalah Marsudi, mengapa ia sering diam dan terlihat memikirkan sesuatu. Marsudi pun menyampaikan apa yang ada di benaknya. Tentu saja sang ibu sangat mendukung jika anak sulungnya mau agar salah satu cucunya diasuh saja ileh Marulis. Ibunya tentu menyarankan demikian pada Marsudi sehingga membuat Marsudi membuat keputusan yang sangat berat untuk menyerahkan salah satu anaknya. Ibunya senang betul dengan apa yang disampaikan anak sulungnya dan langsung membicarakannya pada Marulis saat ia datang ke rumahnya. Marulis juga senang mendapat kabar begitu. Ia langsung menanyakan kapan ia dapat membawa salah satu ponakannya ke rumah tinggalnya di rumah mertua.
Namun, tiba-tiba saja Marsudi seperti dipalu kepalanya. Ia merasa sakit dan tanpa pikir ia berkata bahwa ada satu syarat yang harus dipenuhi Marulis jika mau mengasuh salah satu anaknya. Yakni, Marulis tak boleh jauh-jauh dari rumah ibunya, tempatnya dan kedua anaknya tinggal. Ia tak ingin kedua anaknya saling terpisah jarak yang jauh meski hanya beda RT saja. Marsudi ingin agar Marulis tinggal saja di rumah ibunya seperti saat masih kecul dulu. Marulis ragu. Apakah suaminya akan setuju jika mereka tinggal di rumah ibunya. Maka Marulis pun membicarakan hal tersebut berdua dengan suaminya. Tentu saja suaminya menolak karena merasa sebagai lelaki ia tak ada harga dirinya. Merasa terhina, suami Marulis lalu menyuruh Marulis untuk menolaknya walau sebenarnya ia juga ingin mengasuh salah satu anak kakak iparnya. Marulis pun berusaha membujuk suamunya agar mau tinggal di rumah ibunya dan mengatakan ini adalah kesempatannya agar bisa mendapat keturunan. Suaminya itu tahu tentang ucapan keluarganya tentang memancing kehamilan. Tapi lagi-lagi ditolak.
Marulis pun akhirnya bilang bahwa mereka mungkin saja tak akan pernah memiliki anak. Jadi, akan lebih baik jika ia bisa mengasuh anak kakaknya selagi usianya belum terlalu tua. Maka, suaminya pun terus kepikiran. Dengan ucapan istrinya itu. Ia sebenarnya ingin melakukannya, tapi tertahan oleh harga dirinya yang tinggi. Ia akhirnya pun mengusulkan agar ia bisa membangun rumah di dekat rumah mertuanya. Bukankah Marsudi menyaratkan seperti itu karena tak ingin anaknya terpisah jauh?. Pikirnya. Toh mertuanya itu punya sebidang tanah yang lumayan luas untuk dibangun rumah di atasnya. Dengan begitu ia bisa memiliki keluarga lengkap dengan anak beserta rumah tinggal. Ia tak harus merasa malu karena menumpang di rumah mertua.
Usulan tersebut disampaikan Marulis pada Ibunya. Tetapi ibunya malah menjawab bahwa sebenarnya ia dan suaminya, saat sebelum meninggal sepakat telah membagi tanah yang dimilikinya termasuk rumah yang berdiri di atasnya. Ibunya bilang bahwa tanah sebelah timur termasuk rumahnya sekarang yang berdiri di atas tanah tersebut akan diberikan kepada Marulis dan diteruskan ke anaknya, sementara tanah bagian barat tanpa ada bangunan apapun di atasnya akan diberikan pada Marsudi dan diteruskan ke anaknya. Ibunya juga telah menentukan batas- batas tanah yang memisahkan milik keduanya. Marulis sangat terkejut atas pembagian itu yang dinilai sangat merugikan dirinya karena menurutnya tanah sebelah barat jauh lebih luas dari tanah yang dimaksud. Tanpa ia sadari, rasa jengkel pada kakaknya perlahan menyusup ke dalam hatinya. Ia ingin sekali menolak dan mengajukan rasa keberatan. Tapi urung karena suaminya menyetujuinya. Katanya pada marulis setelah perdebatan itu, “Yo malu to kalau ditolak lha wong sudah usul mau bangun rumah di samping rumah ibumu”.
Masalah yang timbul berikutnya dialami oleh Marsudi. Ia bingung anak laki-lakinya kah atau anak perempuannya yang akan diserahkan pada Marulis. Ibunya menyarankan agar cucu perempuannya saja, tetapi Marsudi merasa berat hati berjauhan dengan anak perempuannya karena ia akan selalu teringat istrinya jika ia melihat anak perempuannya yang masih bayi itu. Dengan berat hati, maka Marsudi pun menyerahkan anak lelakinya, Ri Udaya, untuk diasuh adiknya, Marulis. Bukan hanya karena anak perempuannya mengingatkan dirinya pada istrinya, tapi juga karena catatan makna nama anak-anaknya yang ditulis istrinya sebelum meninggal.
Marsudi menegaskan pada Marulis dan istrinya untuk tidak mengganti nama Ri Udaya. Tetapi oleh suami Marulis, agar membedakan dan tak terkesan sama dengan saudaranya tanpa mengganti namanya, dibuatkanlah panggilan untuk Ri Udaya dengan menambahkan huruf A di depan nama depannya. Meskipun begitu, bapak kandungnya tentu akan tetap memanghilny Ri dan mengajarkan anak perempuannya untuk memanggilnya demikian pula.
Setelah peristiwa itu, Marsudi melanjutkan pekerjaannya berdagang di kota sebelah setelah enam bulan pasca kelahiran anak-anaknya karena pekerjaan serabutan—yang kadang ada kadang tidak, banyak tidak adanya—di kampung halamannya tak terlalu menutup kebutuhan anak, ibu dam dirinya. Sementara ia pergi bekerja di tanah rantau yang tak terlalu jauh dengan rumah, anak perempuannya diasuh oleh ibunya. Ia seperti mengulang kejadian 11 tahun lalu ketika ia harus kembali ke tanah rantau yang tampak baginya kembali asing dan dingin sebab kenyataan bahwa orang yang dicintainya telah kembali ke tanah asalnya. Ia bisa saja kembali menjenguk keluarganya sebulan, tiga bulan atau enam bulan selepas kembalinya ia ke tanah rantau. Tapi, orang dicintainya itu tak dapat kembali menjenguknya barang sehari selepas kembalinya mereka ke tanah asalnya.
■■■
Di Pohon Belimbing (1)
“Kamu benar, Ri. Semua bisa kita usahakan jika kita mau”.
“Kamu sudah menggapai bintang itu sekarang”.
“Tapi aku punya mimpi lain lagi sekarang”.
“Apa itu?”.
“Sepertinya aku ingin melanjutkan sekolah SMP, SMA bahkan sampai ke universitas agar bisa mengajar”.
“Kamu ingin jadi guru?”.
“Kurasa begitu. Apakah itu tak apa?”. Ru menggigit bibir bawahnya, ragu.
Ri teringat akan mimpinya juga yang ingin sekolah setinggi mungkin ketika dulu Ru bilang dirinya ingin bisa sekolah dan membaca. Ia bahkan telah menyampaikannya pada sang ibu tentang mimpinya itu. Dan betapa senangnya ia ketika terpancar dari wajah ibunya suatu kecerahan saat mendengar apa yang Ri sampaikan. Ibunya bahkan berkata itu adalah sebuah cita-cita yang dulu juga ia inginkan tapi tak diizinkan ibunya. Maka, ibu Ri pun bilang padanya bahwa ia akan mendukung apa yang diinginkan putranya itu.
“Tentu saja. Kamu boleh menjadi apapun yang kamu ingin, Ru”.
“Benarkah?”.
“Tentu”.
“Tapi, bagaimana jika Bapak tidak membolehkanku”.
“Dia akan membolehkanmu”.
“Bagaimana kamu tahu, Ri?”.
“Dulu kamu juga berpikir dan takut jika Bapak dan nenek tak mendukungmu. Tapi, sekarang bagaimana?. Nyatanya sekarang kamu sudah duduk di kelas empat”. Ri mengingat- ingat saat ia mengukir gambar bintang di pohon 3.
“Ya, benar. Bapak memang selalu mendukungku”. Ia mengulang perkataan Ri dulu. Semua bisa kita usahakan jika kita mau”.
Ri mengangguk.
“Tapi, Ri. Bagaimana jika aku yang tidak mampu?. Maksudku, di kelas empat kurasa pelajarannya sama sekali lain dari kelas-kelas sebelumnya. Itu sangat sulit sehingga membuatku mudah bosan dan enggan belajar jika aku tak sanggup memahaminya”.
“Semakin duduk di kelas yang lebih tinggi maka pelajarannya akan memang lebih sulit. Tapi bukan berarti kamu tidak akan bisa memahaminya. Kamu bisa belajar lebih keras atau bertanya pada guru jika memang tak memahaminya”.
“Tapi, masalahnya aku tak suka dengan guruku yang sekarang. Ia tak lagi membuat permainan dalam memperoleh bintang-bintang itu lagi sehingga aku merasa malas berusaha”.
“Baiklah, kita akan kembali mengukir apa yang kamu rasakan di dahan seperti dulu kita mengukir impian di dahan pohon itu”. Ri menunjuk pohon yang tak jauh dari tempatnya bertengger.
“Pertama-tama kita harus mencari sesuatu yang mirip dengan apa yang aku rasakan?”.
“Betul. Ternyata kamu masih ingat juga. Bagus”.
“Tapi, apa?”. Ru mencoba berpikir.
Ri pun ikut berpikir sambil mrngitarkan pandangannya. “Aku tahu”. Serunya sambil mengacungkan telunjuk kananya. “Pohon”.
Ru tercengang. “Apa hubungannya?”.
“Kurasa menggapai impian sama halnya dengan pohon belimbing ini yang berusaha bertumbuh. Kamu tahu, Ru, agar bisa berbuah, pohon belimbing harus bertumbuh. Tetapi, semakin tinggi pohon bertumbuh, anginnya juga akan semakin kencang. Sehingga bukan tak mungkin buah-buahan yang sudah muncul di setiap rantingnya beresiko jatuh dan terluka”.
“Semakin aku duduk di kelas yang lebih tinggi, itu artinya semakin sulit pelajaran yang aku hadapi?”. Ru melanjutkan.
“Betul. Tapi bukan hanya itu. Semakin tinggi pohon yang kita panjati semakin riuh pula angin yang menghalangi. Angin bukan hanya tentang pelajaran, tapi bisa juga keadaan-keadaan yang membuat kita berhenti membuahkan buah belimbing”.
Ru hanya mangut-mangut. Sementara Ri berangsur turun dan mencari-cari paku yang bisa ia goreskan ke dahan lalu bergegas kembali ke atas pohon bersama Ru. Ri mulai mengukir di dahan yang mudah ia gapai. Dan Ru hanya memerhatikan apa yang Ri buat.
“Itu tak terlihat seperti pohon, melainkan huruf “U”.
“Memang benar”. Ia menghentikan pekerjaannya sejenak. “Rangkaian tanda di pohon sebelumnya tak langsung terukir gambar bintang. Ada huruf “T” yang mendahului. Kamu ingat?”.
“Tentu saja. Lalu apa hubungannya?”.
“Ini semacam kode urutan kita mengukir. Huruf “U” terletak setelah huruf “T”. Yang berarti rangkaian tanda di pohon ini terukir sebelum rangkaian tanda di pohon itu”. Ri kembali menunjuk ke arah pohon 3.
“Bagaimana?”. Tanya Ri setelah merampungkan ukiran huruf “R”.
Ru tertawa terbahak-bahak melihat hasil pekerjaan Ri. “Itu tak sama seperti sebuah pohon Ri”. Ia kembali menertawakan tanda ke dua sama seperti ia menertawakan tanda kedua dulu di pohon 3. “Orang tak akan tahu ini adalah gambar pohon jika seandainya mereka melihat ini kalau kamu tak memberitahu”.
“Maka kamu yang harus memberitahu”. Ucapnya dengan enteng tiba-tiba. “Kenapa juga aku. Ini gambarmu”.
“Bisa saja aku tak ada di sini saat mereka melihat ini. Masa depan tak ada yang tahu, bukan?”.
Ru berhenti meledek.
“Bukan hal mudah Ru mengukir gambar seperti itu di dahan yang cukup keras dengan sebuah paku yang sudah berkarat”. Ucapnya kesal.