“Kalau kembang api pertama hampir habis, Arundaya harus menyalakan yang kedua sebelum pertama padam dan begitu juga ketiga. Tapi, kalau yang ketiga hampir padam, Arundaya harus kembali ke tempat pertama di mana kamu muncul.”
Kalimat itu terngiang-ngiang begitu Arundaya membuka mata. Ia merasakan angin sepoi-sepoi, mendengar burung-burung bernyanyi saat melintas, tapi tidak membuatnya sadar sepenuhnya. Masih butuh waktu untuk mencerna.
Ia mengedarkan pandangan, memperhatikan tempat yang tidak asing. Tidak ada siapa-siapa selain bunga-bunga cantik dan serangga berterbangan. Ingin sekali rasanya berprasangka baik, tapi ia takut kalau semuanya salah dan khayalan semata.
“Ibu!”
Suara anak-anak. Bukan suara anak kecil tetangganya, tapi ia sangat kenal sekali siapa. Sosok anak yang selama ini ia rindukan.
“Ibu! Ibu!”
Arundaya menoleh perlahan. Mata yang selalu datar itu membelalak melihat sosok anak di sampingnya. Berpakaian rapi dan kasual seakan ingin jalan-jalan keluar rumah. Pakaian yang selalu ia simpan di laci kamar dengan baik.
“Ibu? Ibu nggak apa-apa?”
“Kenapa sama Ibu?”
Tiba-tiba muncul sosok lain yang membuatnya terkejut. Pria itu sepuluh tahun lebih tua darinya. Tampak sibuk mengancingkan kemeja biru sambil berdiri di ambang pintu. Senada dengan gaya dan warna pakaian sang anak.
Kemeja biru kesayangan pria itu, yang Arundaya gantung di lemari. Tak peduli seberapa kusam dan rapuh, ia bersikeras menyimpannya sampai kapan pun.
Arundaya berlari kecil, mencari benda yang tak pernah dipindahkan selama 25 tahun di rumahnya. Cermin, ya, ia berdiri di cermin setinggi orang dewasa sambil meraba wajahnya. Tidak ada keriput mau pun bintik hitam. Tidak ada lagi uban di sela rambut hitamnya.
Turun lagi meraba pakaian yang dipakai. Arundaya memakai gaun selutut berwarna biru. Ternyata warna berpakaiannya sama seperti keduanya, seperti yang sudah ia duga.
Sambil terus tersenyum, air matanya tertahan. Perasaannya tidak keruan. Arundaya akhirnya sadar bahwa ini adalah nyata, bukan khayalan semata. Aku … aku kembali.
Kemudian, Arundaya memeluk mereka bergantian sangat erat. Dari pelukan mungkin tersalurkan rasa yang ia pendam selama ini. Kenapa … kenapa baru sekarang? perasaan ingin menghilang dari dunia terhapus dalam sekejap.
“Ibu kenapa?”
“Iya, kenapa, ya? Kok aneh?”
Mereka saling bertatap begitu Arundaya selesai memeluk. Terheran-heran.
“Nggak, nggak. Nggak kenapa-napa, anakku dan suamiku.”
Walau tersenyum, tak bisa dipungkiri air matanya makin tergenang. Pria yang dipanggil suami itu sadar akan air mata itu dan tidak memalingkan pandangan. Arundaya makin berusaha menutupi begitu ingat sifat sang suami.
“Kamu tadi bengong, sekarang mau nangis? Kamu mikirin apa?”
“Nggak mikirin apa-apa, cuma kelilipan.” Arundaya mengusap matanya.
“Nggak boleh bohong.”
“Beneran, Bapak Helmi.”
“Beneran apa? Beneran bohong?”
Helmi makin intens bertanya sambil memajukan wajah. Mencermati wajah Arundaya seperti biasa jika ada keanehan. Akan tetapi, Arundaya malah tertawa lalu mencium pipi Helmi. Sudah bisa ditebak selanjutnya akan ada satu sosok yang iri.
“Bapak aja dicium?” nada sang anak terdengar ketus.
“Ya ampun, ini anak Ibu kok irian sama bapaknya? Sini, sini, Baihaqi anak Ibu.”
Arundaya memeluk lalu mencium kedua pipi Baihaqi. Setelahnya, sang anak memamerkan kedua pipinya kepada sang bapak dengan wajah sombong. Seakan-akan menang pertandingan.
Helmi membalas dengan wajah jelek dan terjadilah saling olok-mengolok. Arundaya berdeham, menatap keduanya untuk berhenti.
“Mau dibantuin kancingin baju nggak?” Arundaya menatap Helmi.
“Iya, bantuin sini. Kok keras bagian atas.”
Arundaya tersenyum, berusaha membantu Helmi. Akan tetapi, yang dibantu justru menatap heran lagi.
“Biasanya kamu ngomel, bilang aku nggak bisa pasang sendiri kancing baju. Terus suruh aku pakai sendiri.”
“Emang ngomel bikin semuanya beres, Bang?”
“Ya … tapi kamu gitu.”
“Itu aku yang dulu, sekarang nggak. Sebisa mungkin aku melakukan apa pun yang terbaik, ini hanya sekali.”
“Maksud kamu apa?”
Helmi memegang tangan Arundaya. Mereka bertukar pandang dalam diam sesaat, tapi Baihaqi menarik celana Helmi. Perhatian pun teralihkan seketika.