Duniaku sudah dibakar habis. Aku sudah tidak punya tempat di mana pun. Biarkan aku mati karena sudah menganggap kalian mati.
Rasa tidak percaya, itu yang pertama muncul saat Arundaya berdiri di depan salon miliknya. Meski sesekali bayangan penyerangan terlintas, kakinya bahkan gemetar dan air matanya tergenang. Ia tetap meyakinkan diri untuk masuk.
Yogya Plaza atau lebih dikenal Mal Klender di masa depan nanti, saksi bisu yang tidak luput dari penyerangan sekelompok orang tak dikenal. Menyebabkan luka besar di hati Arundaya karena sang anak menjadi korban.
“Bu, nggak masuk?”
Seseorang menepuk pundak Arundaya. Sosok pegawai yang manis dengan aksen Jawa, paling telaten di salon miliknya. Gaya pun tak kalah necis, dengan celana denim dan kaos merah muda. Trend remaja masa itu.
“Oh, iya …,”
Salon itu masih sama. Bernuansa serba hitam putih dan berhiaskan lukisan di belakang meja kasir. Ruangannya tidak besar sehingga bisa menampung maksimal tiga pelanggan. Arundaya melangkah perlahan menuju meja kasir, meletakkan tasnya sambil berusaha tegar.
“A—apa kabar, Sri?”
“Em … saya baik-baik saja, Bu.”
Sudah lama aku nggak lihat kamu, Sri. Ke mana kamu setelah penyerangan itu?
Sudah lama Arundaya memendam, tapi tidak bisa ditanyakan saat ini. Bisa-bisa ia dianggap tidak waras. Jadi, yang bisa dilakukan hanya mengubur kembali tanda tanya dan dibiarkan begitu saja.
Namun, lama kelamaan ada yang aneh. Sri mencuri-curi pandang saat berdiri di hadapannya. Arundaya menangkap sinyal itu dan membuka percakapan baru.
“Kenapa? Ada yang mau kamu tanyain ke saya?”
“Eh … Ibu.” Sri menggaruk pipinya. “Rasanya ada yang aneh. Ibu beda banget. Jadi, saya penasaran dan mau tanya kenapa.”
Arundaya tidak terkejut karena Sri memanglah orang yang peka. Selalu sadar akan perubahan di sekitar, tapi tidak berani bertanya.
“Gimana, ya … bisa dibilang lagi nggak baik-baik aja.”
“Em … ada masalah sama Bapak?”
“Bukan, sih. Susah diungkapin.” Arundaya menghela napas.
“Perasaan Ibu sekarang bagaimana? Coba telaah satu per satu, dieliminasi kaya peserta kontes.”
“Kamu ini bisa aja.” Arundaya tertawa pelan. “Perasaan saya tuh ada bahagia, sedih, khawatir. Mau dieliminasi, mereka datang lagi.”
Sri mengangguk pelan, wajahnya tampak ragu untuk melanjutkan percakapan. Akan tetapi, Arundaya menatap penuh harap untuk mendengar jawaban Sri.
“Apa Sri punya saran?”
“Em … untuk suasana sekarang Ibu merasa lebih bahagia, sedih, atau khawatir?”
“Bahagia campur sedih. Bawaannya mau nangis.”
“Itu namanya bahagia banget, Bu. Sampai mau nangis segala.” Sri tersenyum lebar. “Ibu sepertinya banyak pikiran, ya? Perasaan jadi campur aduk gitu.”
Arundaya terdiam, air matanya hampir luruh di hadapan remaja 19 tahun. Sosok yang mampu membuatnya tenang dengan pertanyaan menohok.
“Menurut saya, jalani yang sedang terjadi aja. Nggak perlu bawa perasaan yang menyusul nanti. Bukannya nggak penting, itu penting. Tapi, kan, masih ada di belakang. Ibu senang banget sekarang, ya rasain senangnya aja.”
Arundaya menghela napas, menunduk sesaat, lalu berani menatap Sri dengan senyum tak kalah lebar.
“Terima kasih, Sri. Kamu … meski kamu.”
Takut salah bicara, takut kalimat yang diucapkannya membuat Sri kebingungan. Arundaya mengakhiri percakapan dengan memeluk Sri, sekaligus mengobati kerinduan.