Sekar

Galih Priatna
Chapter #1

Siang yang Dipilih

Semarang, tahun 2005.

RASA BENCI. Ya, rasa benci itu yang akhirnya membuat Sekar (17) memutuskan untuk melakukan hal paling berani sekaligus gila. Rasa benci yang sudah terlalu mengakar dalam hatinya selama bertahun-tahun. Akarnya itu tumbuh semakin kuat. Mencengkeram. Merambat ke seluruh bagian tubuh. Tatkala akar kebencian itu menjalar ke otak, nalarnya jadi tidak sehat. Logikanya mentok. Akalnya buntu. Dan, tatkala menutupi matanya, Sekar sudah tidak bisa lagi melihat sesuatu dengan jernih. Segalanya menjadi gelap.

Rasa benci itu yang akhirnya mengantarkan Sekar pada satu siang di sebuah kamar rumah kontrakan sederhana, yang bahkan ia sendiri tidak tahu siapa pemiliknya. Akhirnya ia membuka segalanya siang itu. Membuka dirinya. Membuka tubuhnya. Membiarkannya untuk disentuh oleh orang, yang bahkan tidak tertanam secuil pun rasa cinta untuknya. Ia merelakan Rio, kakak kelasnya di sekolah, untuk menikmati tubuhnya. Bukan karena ia suka. Pun bukan karena nafsu. Lagi-lagi karena rasa benci yang sudah mengakar begitu kuat dalam dirinya.

Ironisnya, rasa benci yang menjerumuskan itu adalah rasa benci terhadap satu orang yang seharusnya mendapatkan cinta paling tulusnya. Cinta tanpa syarat. Tanpa mahar apapun. Orang yang seharusnya menjadi cinta pertama Sekar dalam hidupnya, yaitu ayahnya sendiri.

Ingatan itu makin lekat di kepala Sekar, saat jarak antara ia dan Rio semakin menyempit. Saat batas antara tubuh mereka sudah semakin kabur. Ingatan ketika untuk pertama kalinya ia dikecewakan oleh sosok ayahnya sendiri. Ingatan tentang ayahnya yang selalu pulang dengan bau parfum wanita lain. Tentang kemarahan sang ayah yang tiba-tiba meledak setiap kali ibu Sekar menegurnya. Tentang bagaimana tubuh wanita yang sudah melahirkannya itu acapkali menjadi samsak, di saat kemarahan sang ayah sudah tak tertangguhkan lagi.

“Kita pergi saja, Bu?” ucap Sekar sambil berurai air mata, suatu hari.

“Ibu gak bisa begini terus,” katanya lagi sambil mengompresi dengan air dingin, tubuh ibunya yang lebam-lebam kebiruan karena pukulan bertubi-tubi dari ayahnya.

Lihat selengkapnya