Sekar

Galih Priatna
Chapter #1

Siang yang Dipilih

Cianjur, Tahun 2005.

Siang itu panasnya tidak istimewa. Matahari menggantung seperti biasa di atas jalan aspal yang berdebu, seperti hari-hari lain yang tak menuntut apa pun selain dilewati. Sekar berjalan melalui gerbang sekolah yang dibuka lebar-lebar, larut bersama arus ratusan siswa lain yang tumpah ke jalan seperti gelombang yang sudah hafal jalurnya sendiri. ratusan motor menyemut, saling berdesakan, knalpot meraung dan klakson bersahutan, menciptakan riuh yang rutin berulang setiap hari di waktu kedatangan dan pulang sekolah. Satpam sekolah terlihat awas, mengamati setiap siswa yang melintas. Sesekali dia menyahuti sapaan dari siswa yang melaluinya. 

Sekar berjalan di tengah keramaian itu dengan ekspresi wajah datar, agak menunduk. Langkahnya tenang dan terukur, tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya, meski di sekelilingnya berjalan beriringan siswa-siswa yang ia kenal. Tas selempang berwarna hitam menggantung di bahunya. Make up tipis tergores di wajahnya yg putih. Seragam yang dikenakannya rapi, dengan jilbab dilipat simetris.

Di pertigaan jalan, di luar area sekolah, beberapa siswa laki-laki berkerumun. Sekedar duduk-duduk di atas motor mereka yang di diparkir asal-asalan. Asap rokok tipis naik ke udara siang. Beberapa terlihat dengan bebasnya menghisap rokok, seolah di usianya yang masih mentah, mereka merasa sudah berhak untuk bermain-main dengan tembakau.

“Sekar…, ikut yuk!” teriak salah satu siswa. Menawarkan tawaran yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Pulang bersama, singgah sebentar dan tertawa sebentar.

Sekar mengangkat kepala, memburu asal datangnya suara yang memanggil. Didapatinya Rio, kakak kelasnya yang duduk di kelas dua, melambaikan tangan ke arahnya. Selain Rio, ada juga beberapa orang lainnya yang ia kenal. Sebagian besarnya ia hanya tau wajahnya saja, tanpa mengenal nama.

Biasanya Sekar menggeleng. Biasanya ia lewat begitu saja.

Siang itu tidak.

Ia melangkah mendekat.

“Mau ngajak ke mana?” tanyanya.

 Suaranya datar. Tidak ada senyum. Tidak ada ragu. Kerumunan itu terdiam sesaat, terheran-heran mendapati respon Sekar yang tidak seperti biasanya. Rio hanya menyeringai, lalu menyalakan motor.

“Ayo!” ujarnya.

Tanpa ba bi bu, Sekar langsung menjelepokkan pantatnya di jok motor Rio. Sekilas Rio memandangi kerumunan teman-temannya yang masih terbengong. Tanpa berkata apa-apa, hanya senyum tipis menggantung di wajahnya, lalu menghilang bersamaan dengan deru motor yang menjauh.

“Ke rumah temanku yuk!” ujar Rio dengan suara yang tidak terlalu jelas karena terbawa angin.

Lihat selengkapnya