Bogor, dua puluh tahun kemudian…
“KASUS apalagi?” Sekar mendengus, saat ia memasuki ruang kerjanya dan mendapati tiga orang siswa berseragam putih abu duduk tertunduk di lantai. Di hadapan mereka, duduk di sebuah kursi, seorang guru wanita berbadan kurus dengan raut wajah mendidih.
“Biasa…, ngerokok di toilet,” jawab guru itu.
Sekar menarik napas lalu menghembuskannya seketika. Tangan kanannya masih menggenggam gagang pintu ruang kerjanya, tangan kirinya mendekap dua buah buku, dan satu file tebal berisi absen dan setumpuk administrasi kelas.
Sementara siswa-siswa itu tidak ada yang bersuara. Terus menunduk. Tanpa menoleh, tanpa melirik, mereka sudah tahu yang barusan masuk ke ruangan itu adalah Sekar, seorang guru BK yang tegas namun juga kaya akan solusi dan enak dijadikan tempat curhat.
“Pusing deh, harus digimanain lagi biar kapok,” sambung guru itu, nampak berusaha menahan ledakan amarahnya.
“Harus diginiin nih…!” Sekar melangkah maju, menjewer telinga mereka satu per satu.
Ketiganya meringis menahan sakit. Namun tiba-tiba, tawa kecil pecah. Ketiganya cekikikan, saling menertawai satu sama lain, seolah hukuman ini hanyalah lelucon.
Di detik itu, sesuatu dalam diri Sekar bergejolak. Rasa panas menjalar dari dadanya menuju lengan kanan.
“Plak!”
Spontan saja tamparan itu mendarat telak di pipi mereka secara bergantian. Suasana seketika beku.
Sekar terpaku menatap telapak tangannya yang terasa panas dan perih. Di matanya, tangan itu mendadak tampak asing. Tangan itu terlihat seperti tangan ayahnya yang dulu sering mendarat kasar di tubuh ibunya. Rasa mual merangkak naik ke tenggorokannya. Ia baru saja melakukan hal yang paling ia benci dari sosok yang ia hakimi dua puluh tahun lalu.
Ada sesuatu yang perlahan merangsek masuk ke relung hati Sekar. Ia menarik napas. Terlambat. Rasa sesal selalu datang terlambat. Pelan tapi pasti, seperti air yang merembes dari retakan kecil. Tangannya sudah lebih dulu bergerak. Semua sudah terjadi. Meski Ia tahu, bahwa apa yang baru saja dilakukannya tidak akan memperbaiki apa pun.
“Saya serahkan ke Bu Sekar ya. Saya ada jam. Uda terlambat sepuluh menit ini,” ucap guru tadi, tidak menyadari badai batin yang sedang mengoyak Sekar.
Sekar mengangguk. Ia melirik jam yang menempel di salah satu dinding. Jarumnya menunjuk pukul 13.40, atau setengah dua lewat sepuluh menit.
“Kenapa kamu, Andra? Nggak terima saya tampar?” suara Sekar bergetar, mencoba menutupi rasa sesalnya atas ketegasan yang dipaksakan tadi.
Andra, siswa paling jangkung, mendongak. Matanya membelalak, basah oleh amarah yang tertahan.
“Kenapa harus nampar saya Bu?” tanyanya dengan suara agak gemetar.
“Kalian yang tidak tahu diri. Sudah salah, masih bisa-bisanya cekikikan,” jawab Sekar.
“Tapi tidak harus menampar bu. Saya sudah bosan ditamparin ayah saya di rumah. Di sini saya juga masih harus ngalamin hal yang sama,” ucap Andra lagi.
Kalimat itu menghantam Sekar tepat di ulu hati. Kata-kata Andra seperti memanggil kembali memori tentang masa remajanya. Tentang bau parfum wanita lain yang selalu menempel di baju ayahnya. Tentang teriakan sang ayah yang selalu menjangkau setiap sudut rumah. Dan tentang lebam-lebam di tubuh ibunya.
“Ahh.., sudah…! Apa mau saya adukan kamu ke bagian kesiswaan?” Sekar menggertak, coba menyembunyikan perasaannya.
Siswa paling jangkung di antara dua siswa lainnya itu kembali tertunduk. Diam.
“Mau sampai kapan gini terus?” Sekar menarik kursinya. Ia menatap mereka bergiliran sesaat setelah duduk.
“Kenapa di toilet sekolah? Kalian tahu kan aturan di sekolah ini?!” buru Sekar, nada suaranya makin naik.
Anak yang paling tinggi menggerak-gerakkan kaki, mencoba terlihat santai, atau agar rasa kesalnya karena tamparan itu, sedikit berkurang. Yang berkacamata menunduk, menggigit bibir. Yang paling kecil memandangi jam di dinding, berharap jarumnya berlari.
Tidak ada jawaban. Sekar menunggu. Beberapa saat keheningan kembali menyelimuti ruangan itu.
“Ikut-ikutan yang lain, Bu,” anak berkacamata akhirnya mengangkat kepala.
“Ikut-ikutan, katamu? Kamu dua minggu lalu kedapatan ngerokok di toilet juga kan? Saya ingat betul wajah kamu,” ujar Sekar, makin muntab.
“Saya akan panggil orang tua kalian,” sambungnya.