Hari beringsut sore dengan pergeseran yang tak terasa. Hanya cuitan burung gereja terdengar ribut di pepohonan halaman sekolah yang mengingatkan bahwa hari akan segera usai. Cuitan-cuitan pendek, tergesa, seolah sedang menuntaskan urusan sebelum cahaya benar-benar redup. Sesekali, suara burung tekukur terdengar jauh dari arah pemukiman, berat dan berulang, menjadi penanda bahwa siang telah melepas genggamannya. Matahari turun perlahan, seolah sedang mempertimbangkan apakah ia benar-benar ingin pergi. Cahaya keemasan menyelinap melalui celah-celah jendela gedung sekolah, memantul di lantai koridor yang mulai sepi, menempel di dinding-dinding kusam, jatuh lelah di sudut-sudut yang jarang diperhatikan.
Sekar masih berada di ruangannya. Sebuah ruang yang seringkali dihindari oleh siswa-siswa bermasalah, namun sangat diminati oleh siswa-siswa dengan segudang mimpi dan setumpuk pertanyaan tentang hari esok.
Sekar bukanlah tipe guru teng go—istilah yang sudah lama beredar di dunia pendidikan, meng coppy paste kebiasaan umum di dunia kerja. Begitu bel berbunyi “teng”, langsung “go” (pulang). Sebuah kebiasaan yang lahir dari sistem yang melelahkan: jam mengajar padat, administrasi menumpuk, tuntutan moral tinggi dengan penghargaan yang sering kali tak sebanding. Banyak guru memilih menyelamatkan diri masing-masing. Begitu bel pulang berbunyi, tas diraih, pintu ditutup, dan langkah dipercepat seolah sekolah adalah beban yang harus segera ditinggalkan.
Sekar memahami itu. Ia tidak menghakimi. Namun entah mengapa, tubuhnya selalu menolak untuk segera pergi, di saat bel pulang berbunyi. Ada sesuatu tentang jam-jam setelah bel pulang yang membuatnya betah berlama-lama di ruang kerjanya yang tak begitu luas itu. Saat gedung-gedung tak lagi sibuk. Saat lorong-lorong tak lagi berisik. Sekar merasa bahwa itu adalah jam-jam produktifnya, yang membuat ia bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukannya di jam kerja.
Sore itu Sekar duduk di kursinya. Di luar, udara sore sesekali membawa suara dari arah lapangan. Suara siswa-siswa yang masih bersemangat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Sepak bola, pramuka, paskibra. Suara mereka bercampur menjadi satu: teriakan, instruksi, dan tawa yang kadang meledak. Suara kehidupan yang belum sepenuhnya lelah.
Dihadapan layar laptop yang menyala redup, Sekar membuka sebuah buku di atas meja, namun tak serta-merta membacanya. Jemarinya berhenti di satu halaman, diam. Ia hanya menyentuh-nyentuh halaman itu, seolah sedang memastikan sesuatu masih ada di sana. Di jam-jam sore selepas aktivitas seharian yang melelahkan, seringkali ia tenggelam dalam berbagai bacaan: buku psikologi remaja, kadang novel, atau sekedar membaca artikel-artikel yang berseliweran di internet. Bosan membaca, ia biasanya menulis catatan kecil. Potongan kalimat, pertanyaan, atau pengamatan tentang murid-muridnya. Hal-hal yang tak masuk laporan resmi, tapi penting untuk diingat.
Jika ruangan terasa terlalu sempit bagi pikirannya, Sekar akan keluar. Sekadar duduk-duduk di taman sekolah. Ia tutup bukunya, beralih membaca suasana sore, membaca gerak daun yang diam-diam jatuh, membaca angin yang melintas pelan, membaca langit yang perlahan berubah warna. Baginya, sore adalah waktu yang paling jujur, saat dimana sekolah berhenti berpura-pura.
Mata Sekar menatap lekat halaman buku di genggamannya, namun pikirannya tak benar-benar berada di situ. Ada rasa ganjil yang menetap sejak siang tadi, saat ia berinteraksi dengan tiga muridnya yang tertangkap merokok di toilet sekolah.
“Bisa hancur muka saya dijadikan samsak oleh ayah saya.”
Kata-kata siswanya itu masih terus terngiang di kepalanya, seperti gema yang terus berputar-putar, tak tahu jalan pulang.
Sekar menutup bukunya. Hendak berdiri, namun di saat bersamaan matanya tertaut pada sebuah benda yang tergeletak di sudut meja. Tanpa maksud dan tanpa tujuan, ia meraihnya perlahan. Sebuah jam tangan yang sudah sebulan lebih tergeletak begitu saja di sudut meja dan luput dari perhatiannya.
Jam tangan itu ditemukannya sekitar lebih dari sebulan lalu, di toilet siswa. Tergeletak di atas wastafel, tepat di bawah cermin yang sudah buram oleh usia. Awalnya Sekar mengira jam tangan itu hanya tertinggal sementara. Ia membawanya ke ruang BK, berniat menunggu pemiliknya datang. Namun berganti hari, hari berganti minggu. Tak kunjung datang seorang pun yang mengaku, atau melaporkan kehilangan jam tangan itu.
Berbagai upaya telah dilakukan. Diumumkan di grup WhatsApp kelas dan wali murid. Diumumkan saat upacara bendera. Bahkan diminta tolong kepada anak-anak Rohis untuk menyelipkan pengumuman itu sebelum azan Jumat berkumandang. Merk jam tangan disebut, lengkap dengan ciri-cirinya dijelaskan. Tetap tak ada yang datang. Seolah jam itu memang tak pernah dimiliki siapa pun. Atau mungkin, pemiliknya tak lagi berada di waktu yang sama.
Sekar memandangi jam itu lebih lama sore ini.
Bentuknya tidak seperti jam tangan modern pada umumnya. Tidak digital. Tidak tipis. Tidak berkilau mencolok. Jam itu bulat, dengan bingkai logam berwarna perak kusam—bukan kusam karena rusak, melainkan karena usia. Permukaannya sedikit tergores, seperti bekas perjalanan panjang. Ada angka kecil di sisi dekat poros jarum, yang menunjukkan tanggal dan bulan. Talinya terbuat dari kulit cokelat tua, retak halus di beberapa bagian, namun masih kokoh. Ada aroma samar, campuran antara kulit lama dan sesuatu yang mengingatkan Sekar pada lemari kayu tua di rumah neneknya dulu.
Bagian paling aneh adalah penunjuk waktunya. Angka-angka di jam itu menggunakan angka Romawi berwarna silver. Jarum jamnya ramping, hitam, dengan ujung runcing seperti jarum jahit. Detiknya bergerak tanpa suara. Tidak berdetak, tidak berdenting. Ia bergerak mulus, nyaris mengalir.
Sekar pernah memperhatikan, jam itu selalu menunjukkan waktu yang sama saat ia menemukannya. Pukul 03.30.
Baterainya tak pernah habis. Jarumnya tak pernah berhenti. Namun anehnya, jam itu juga tak pernah menunjukkan waktu yang sesuai dengan jam lain. Seolah ia hidup di waktunya sendiri.
Jam itu kini berada di telapak tangannya. Sekar menggerak-gerakkan tangannya seperti menimbang-nimbang. Beratnya pas. Tidak terlalu ringan untuk diabaikan, juga tidak terlalu berat untuk dijatuhkan. Ia memutar knop kecil di samping jam, mencoba mengatur waktu, namun jarumnya tak bergerak. Ia mendekatkannya ke telinga kiri, mengguncangnya pelan. Tidak ada bunyi.
Sekar menempelkan jam itu ke pergelangan tangan kirinya, merekatkan kedua talinya.
“Pas,” batinnya.