Sekar

Galih Priatna
Chapter #3

Peluang dalam Detik

KEHENINGAN itu tidak berlangsung lama. Hanya sepersekian detik saja, lalu pecah bersamaan dengan tarikan napas yang tersedak.

Sekar terhuyung. Kakinya kembali menemukan pijakan. Lantai keramik yang padat dan dingin. Rasa mual yang tadi hebat mengaduk perutnya kini berganti dengan aroma yang sangat ia kenal. Campuran keringat remaja, aroma kertas tua, dan bau asap rokok yang tertinggal di serat udara.

Sekar mengangkat kepala. Dalam kebingungan yang amat sangat, ia mendapati dirinya berdiri tepat di muka pintu ruang kerjanya. Tangan kanannya masih menggenggam gagang pintu yang terasa dingin.

Ada yang salah, batinnya. Namun, sebelum ia sempat mencerna keadaan, tangannya sudah bergerak sendiri. Jemarinya memutar gagang pintu itu, lalu mendorongnya perlahan ke arah dalam.

“Biasa…, ngerokok di toilet,” suara itu terdengar.

Sekar tercekat. Suara Bu Mira, rekan sesama Guru BK. Ia mengenali nada itu. Mengenali jeda di antara setiap kata-katanya, bahkan irama napasnya yang naik-turun karena menahan emosi, semuanya persis sama. Terlalu sama hingga membuat bulu kuduk Sekar meremang.

Ia ingin bicara, ingin bertanya mengapa dunia seolah berputar ulang, namun lidahnya kelu. Ia merasa seperti seorang penonton yang dipaksa masuk ke dalam tubuhnya sendiri untuk menonton sebuah lakon.

“Pusing deh, harus digimanain lagi biar kapok,” sambung guru itu.

Sekar merasakan kakinya melangkah maju. Ia ingin berhenti. Ia ingin berteriak kepada dirinya sendiri untuk diam. Namun, tubuhnya terus bergerak, seperti terikat pada satu naskah yang harus diperankan. Ia mendengar suaranya sendiri keluar dengan nada yang sama persis.

“Harus diginiin nih…!”

Lalu, tangannya bergerak. Menjewer telinga ketiga siswa itu satu per satu. Ia bisa merasakan perih di ujung jemarinya saat bersentuhan dengan kulit mereka yang hangat. Ia melihat mereka meringis. Lalu, seperti kaset rusak yang berputar kembali, ia melihat kilasan tawa kecil itu pecah di wajah mereka.

Lihat selengkapnya