Sekar

Galih Priatna
Chapter #4

Sesuatu bisa Dirubah

KEANEHAN sore tadi masih tidak juga beranjak dari kepala Sekar, bahkan hingga malam ini saat ia rebah telentang di atas tempat tidurnya.

Lampu kamar sudah dimatikan, hanya menyisakan cahaya samar dari luar jendela yang jatuh tipis di langit-langit dan di lantai kamar. Sekar coba memejamkan matanya, namun pikirannya tetap terjaga. Setiap kali ia berusaha menenangkan napas dan membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kantuk, peristiwa itu justru muncul semakin tegas.

Ia teringat detik ketika waktu tiba-tiba saja kehilangan kepatuhannya. Lalu, tiba-tiba ada semacam tarikan yang tak berbunyi, tak terlihat, namun terasa nyata. Ruang di sekitarnya merenggang, udara menjadi berat, dan dalam sekejap ia tak lagi berada di jam, menit dan detik yang sama.

Ia teringat bagaimana lorong waktu itu terasa asing sekaligus akrab. Cahaya seakan memutar balik, suara-suara datang berlapis, saling tumpang tindih. Detik tak lagi berjalan ke depan, melainkan melipat dirinya sendiri ke belakang. Lalu tiba-tiba, ia sudah kembali berdiri di hadapan tiga murid itu. Wajah-wajah yang sama, nada suara yang sama, bahkan jeda-jeda canggung yang persis terjadi seperti beberapa jam sebelumnya.

Yang paling mengganggunya bukan kenyataan bahwa waktu bisa diulang, melainkan perasaan bahwa ia tidak sedang memilih itu. Tidak sedang menginginkan itu. Ada sesuatu, entah apa, yang menariknya kembali ke sana. Ke momen yang seharusnya sudah lewat. Seolah waktu belum selesai dengan dirinya. Atau mungkin, ia sendiri yang belum benar-benar selesai dengan peristiwa itu.

Untuk kesekian kalinya Sekar menutup mata, memaksanya mejemput kantuk lebih cepat. Namun, begitu kelopak matanya tertutup, peristiwa sore itu kembali datang. Sesuatu di luar nalar yang terjadi di ruang kerjanya. Ruang BK. Seketika ia kembali membuka mata. Menarik napas panjang. Menghembuskannya perlahan.

“Tenang,” gumamnya, coba memerintah pikirannya sendiri.

Sekar bangkit duduk. Matanya menatap tas kerja yang tergeletak di atas meja belajar, seperti menatap sesuatu yang hidup. Tas itu tampak samar-samar tersorot cahaya dari luar, yang menyelinap melalui bagian jendela yang tak tertutup sepenuhnya oleh gorden. Ada jeda singkat, seolah ia sedang menimbang sesuatu di kepalanya. Apakah ia benar-benar ingin mengulang? Membuka pintu yang sama untuk kedua kalinya.

“Plak!”

Tiba-tiba saja bagian itu menyeruak di ingatan Sekar. Saat ia menampar ketiga muridnya.

Sebenarnya, beberapa detik setelahnya pun ia langsung menyadari bahwa tindakannya itu tidak perlu.  Namun, ego sebagai seorang guru, membuatnya berusaha menutupi rasa sesal itu di depan murid-muridnya. Terlebih, mereka adalah para pendosa yang tertangkap basah melakukan pelanggaran. Gengsi rasanya kalau ia harus menunjukkan rasa bersalahnya.

Dalam banyak peristiwa, sebuah ide kadang datang tanpa aba-aba. Tidak mengetuk, tidak pula meminta izin. Ia kadang tidak datang dari rangkaian pikir yang rapi, atau dari perenungan panjang. Ia muncul dari arah yang tak terduga, dari sudut sunyi, lalu menetap begitu saja, menarik perhatian, seolah sejak awal memang menunggu saat yang tepat untuk menampakkan diri.

“Kalau jam tangan itu bisa membawaku ke waktu semula dan aku mengubah satu detail yang terjadi saat itu, artinya, apa yang terjadi setelahnya pun akan berbeda juga,” batin Sekar.

“Aku bisa melakukan sedikit koreksi atas peristiwa tadi siang,” pikirnya.

Sekar bangkit dari duduknya, menuju meja belajar yang terletak di sudut kamar, diraihnya tas kerja yang sejak kepulangannya tadi digeletakkan begitu saja di atas meja itu. Dengan gerakan pelan, ia membuka resletingnya, menyibakkan isi tasnya, lalu mengeluarkan jam tangan berbingkai perak kusam dengan tali kulit cokelat tua itu. Jam itu terasa dingin di telapak tangannya, lebih dingin dari suhu kamar.

Sekar mengernyit. Dipandanginya lekat-lekat jam di telapak tangannya. Jarum penanda detik terus berputar pelan, namun jarum jam menunjukkan waktu yang berbeda dengan yang semestinya sekarang. Sekar melirik jam di layar HP-nya. Pukul 21.00. Sementara jarum jam tangan itu menunjukkan angka 03.30. Entahlah. Seolah jarum penunjuk jam dan menit enggan beranjak dari tempatnya, meski jarum detik terus bergerak lincah.

Dengan ujung jari telunjuk dan jempol, Sekar menarik knop kecil di sisi jam, lalu memutarnya. Seketika, jarum jam dan menit berputar mundur ke angka 01.30. Waktu yang dipilihnya untuk kembali ke peristiwa tadi siang di ruang kerjanya.

Sekar memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu menekan knop kecil kembali ke posisi semula. Ia bersiap untuk sesuatu yang akan terjadi selanjutnya.

Satu detik, dua detik, tiga, empat, sampai sepuluh detik berlalu, tidak terjadi apa pun. Sekar mengingtip melalui sudut matanya, memastikan apakah semuanya telah berubah. Apakah sang waktu telah membawanya mundur, kembali ke waktu yang dikehendaki?

Namun semua masih nampak sama. Sekar langsung membuka mata. Diliriknya jam tangan di genggamannya, diburunya jam di layar HP, dan disapunya sekeliling ruangan. Tidak ada yang berubah.

Seketika ia menyadari satu hal.

“Hmmm…, mungkin harus…,” gumamnya.

Direkatkannya jam itu di pergelangan tangan kiri, ditautkannya kedua talinya. Dan, seketika sesuatu itu terjadi. Peristiwa itu berulang. Sekar merasakan tubuhnya seperti ditarik ke belakang oleh satu kekuatan besar. Cahaya berkilatan seakan memutar balik, suara-suara datang berlapis, saling tumpang tindih. Ada yang terdengar jelas, lalu menjadi gaung yang memudar, ada yang hanya suara dengung saja. Tembok di kamarnya memuai. Garis-garisnya melengkung, seolah ruangan itu sedang ditarik ke dalam pusaran tak kasatmata.

Kejadian itu seperti berjalan lambat, lama. Namun nyatanya hanya sekesiap saja.

Sekar tidak lagi merasa seperti penumpang. Saat tarikan brutal itu berhenti. Saat kakinya berpijak di lantai keramik ruang BK yang dingin, ia segera memantapkan pijakannya.

Sesaat rasa mual itu masih ada, namun kini kalah oleh adrenalin yang menderu di pelipisnya. Bau asap rokok yang samar dari seragam tiga siswa itu menyergap indranya. Namun, itu kini menjadi penanda koordinat waktu yang tepat.

Ia berdiri di ambang pintu. Tangan kanannya mencengkeram gagang pintu logam yang dingin, sementara tangan kirinya mendekap setumpuk administrasi kelas yang terasa berat. Sekar menarik napas dalam, memejamkan mata sesaat untuk menyiapkan batinnya melawan inersia gerakan tubuhnya sendiri yang sudah ia hafal di luar kepala, lalu memutar gagang pintu. Klik.

Lihat selengkapnya