JAUH dari rumah kontrakan Sekar yang sederhana, di sebuah coffee shop, Danang, seorang remaja SMA duduk di sebuah kursi di tengah ramai gelak tawa dan suara gelas yang beradu ringan.
Di era sekarang ini, coffee shop tumbuh di berbagai tempat. Di sudut kota, di dekat sekolah, di antara gang sempit yang dulu hanya dilewati motor dan pejalan kaki, bahkan jauh hingga di pegunungan dan di kaki-kaki bukit.
Bagi anak-anak seusia Danang, tempat seperti ini bukan lagi sekadar tempat minum kopi. Ia menjadi semacam ruang peralihan antara rumah dan dunia luar, antara pengawasan dan kebebasan.
Di sanalah remaja dan generasi milenial berkumpul. Bukan hanya untuk memesan minuman, melainkan untuk merawat citra diri, menukar cerita, dan menegaskan keberadaan mereka di tengah denyut kota. Di meja-meja kecil berlapis kayu dan cahaya lampu temaram, identitas dirajut, lalu dipamerkan kembali melalui layar HP dan linimasa media sosial. Bagi banyak remaja, kafe adalah persimpangan budaya popular. Ruang di mana gaya hidup, selera, dan pencarian makna bertemu dalam uap hangat minuman dan busa yang ditata dengan penuh estetika.
Danang menatap cangkir cappuccino yang hampir dingin di depannya. Busa di atasnya mulai pecah, meninggalkan jejak lingkaran tak beraturan. Jari-jarinya bermain pelan di atas permukaan meja, sementara pikirannya melayang tak tentu arah di antara aroma kopi dan roti panggang yang mengambang di udara, ditemani alunan musik pop yang lembut. Di balik kaca besar coffee shop itu, sisa hujan yang turun beberapa saat lalu masih meninggalkan jejak. Air menggenang di sudut-sudut trotoar, berkilau tertimpa cahaya lampu, meski hujan itu sendiri telah sepenuhnya surut.
Tidak berapa lama, masuk sesosok gadis seusia dengan Danang. Ia datang sendirian melalui pintu utama coffee shop itu yang terbuat dari kayu bercat hitam. Gadis itu mengenakan hoodie abu-abu muda, agak kebesaran. Bagian lengannya menutupi hingga ujung tangan. Di balik hoodie itu, kaus hitam polos mengintip di bagian leher. Celana panjang berwarna gelap membalut kakinya dengan potongan sederhana. Tidak mengikuti tren berlebihan, tapi cukup pas. Sepatu sneakers putih di kakinya sudah tidak benar-benar baru, ada bekas pakai di sana-sini, tapi masih bersih dan terawat.
Rambut hitam gadis itu dibiarkan terurai begitu saja, tidak benar-benar ditata, hanya disisir seadanya. Ujung-ujungnya masih agak basah, sisa hujan yang baru saja surut di luar, membuat beberapa helai menempel di leher dan pipinya. Rambut itu tampak bersih, polos, tanpa warna aneh seperti kebanyakan gadis seusianya. Wajahnya terlihat segar, nyaris tanpa riasan. Mungkin hanya lip balm tipis di bibirnya. Alisnya rapi, matanya tenang.
Tangan kanannya menggenggam HP dengan casing bening yang mulai menguning di setiap sudutnya. Sebuah gantungan kecil, sebuah karakter lucu yang sedang populer di kalangan remaja, menggelantung di satu sudut casing HP-nya. Tas selempang hitam menggantung di bahunya. Tidak besar, hanya muat untuk dompet, earphone, dan beberapa barang kecil.
Beberapa langkah dari pintu, dia menyalakan HP, melakukan scrolling lalu memilih satu nomor untuk dihubungi. Seketika HP Danang bergetar.
“Di sini, pojok,” kata Danang, berdiri sambil melambaikan tangan ke arah gadis itu. Ia pun balas melambaikan tangan. Senyumnya mengembang seketika, saat ia menemukan posisi Danang.
“Hai..,” ujar Danang, mengulurkan tangan.
“Hai..,” balas gadis itu.
“Duduk. Langsung pesan aja ya,” Danang mempersilahkan, Sambil melambaikan tangan ke arah pelayan kafe.
Sejurus kemudian sang pelayan menghampiri dengan membawa buku menu. Tidak perlu waktu lama, Gadis itu memilih Iced latte dan croissant waffle.
“Gak sekalian pesan makan?” tawar Danang.
“Enggak. Aku uda makan tadi di rumah,” jawab gadis itu.
“Akhirnya, bisa ketemu juga ya,” ujar Danang, sesaat setelah pelayan balik kanan.
“Eh, iya. Setelah beberapa bulan cuma ngobrol di WA,” balas si gadis.
“Jadi ini yang namanya Selly. Hehehe…,” ujar Danang lagi.
“Dan, kamu yang namanya Danang,” balas gadis bernama Selly itu. Tawa pun pecah di antara mereka berdua.