Ada malam-malam ketika waktu terasa berjalan lebih lambat dari siang. Apakah ini karena gerak matahari sedang dipercepat? Ataukah bulan dan bintang menuntut waktu untuk hadir lebih lama?
Malam kadang tampil dengan kesan bahwa ia berjalan lebih lambat dari siang, padahal jarum jam tak pernah berbelok sedikit pun dari ritmenya. Yang berubah bukan waktunya, melainkan cara manusia merasakannya. Di siang hari, waktu seperti lewat begitu saja—terpotong oleh pekerjaan, percakapan, tawa yang setengah sadar, dan kelelahan yang belum sempat dirasakan. Kita terlalu sibuk untuk benar-benar menyadari bahwa waktu sedang berjalan.
Begitu malam datang, semuanya berbeda. Suara-suara mereda, cahaya mengendur, dan isi kepala yang sejak pagi dipaksa diam akhirnya mulai bicara. Pikiran berjalan ke arah yang tidak sempat disinggahi siang tadi. Ingatan muncul tanpa diundang. Kekhawatiran ikut duduk, tak mau pergi. Detik-detik terasa lebih jelas, lebih berat, seolah tiap menit ingin diperhatikan satu per satu.
Malam ini, Sekar duduk di tepi tempat tidur, punggungnya bersandar ke dinding. Lampu kamar sengaja dimatikan. Hanya cahaya dari luar jendela yang menyusup masuk, membelah ruangan menjadi bidang terang dan gelap.
Sesaat Sekar teringat dengan wajah sepasang suami istri yang menemuinya di ruang lobi sekolah. Terbayang di benaknya, betapa sakit dan kecewanya orang tua saat mendapati anaknya hampir menjadi korban pelecehan seksual.
Sekilas bayangan tentang Danang juga turut hadir. Remaja yang selama ini dikenal dengan permasalahan yang diulang-ulang. Ternyata kehadirannya hanya bentuk pengulangan dari ayahnya sendiri. Siapa sangka bahwa sikapnya yang begitu jahat kepada lawan jenis, di usianya yang masih terbilang muda itu, akibat dari kekecewaannya kepada sang ayah.
“Kalau begitu, ia tidak bisa sepenuhnya dikatakan sebagai pelaku. Di saat bersamaan ia juga korban dari keburukan orang tuanya,” gumam Sekar.
Sesaat ia seperti melihat pantulan dari dirinya sendiri.
Sekar menarik napas dalam-dalam. Tangannya bergerak ke meja kecil di samping ranjang, meraih jam tangan dengan tali kulit cokelat tua itu. Jam yang kini tak lagi ia anggap benda mati. Jam yang sudah berkali-kali membuktikan bahwa waktu bisa diputar kembali.
“Kalau saja…” gumamnya pelan.
Kalau saja ayah dan ibunya tidak pernah menikah.
Kalau saja pertemuan itu tak pernah terjadi.
Tentu tidak akan pernah ibunya menjadi wanita yang tersakiti dan dikhianati terus menerus.
Tentu ia sendiri tak akan pernah lahir menjadi Sekar yang harus menyaksikan semua itu. Harus tumbuh dengan keburukan itu.
Sekar memejamkan mata. Pikirannya mengarah pada satu titik: hari pernikahan orang tuanya.
“Jika pernikahan itu gagal, aku mungkin tak akan pernah ada,” gumamnya.
Dan anehnya, pikiran itu tak terasa menakutkan. Justru menjadi semacam kelegaan.
“Maaf,” bisiknya, entah pada siapa.
Sekar menarik knop kecil di sisi jam, lalu memutarnya. Jarum jam dan menit berputar mundur. Angka penunjuk tanggal di sisi tuas jarum jam juga ikut berputar. Ia memilih tanggal dengan hati-hati, seperti seseorang yang hendak menyentuh luka lama. Lalu ia mengikat jam itu di pergelangan tangan kirinya.
Ia menarik napas panjang.
Menekan knop itu kembali.