PAGI datang dengan cara yang biasa, nyaris terlalu biasa untuk menampung kegelisahan yang masih mengendap di kepala Sekar. Di rumah kontrakannya yang sempit itu, ia bergerak pelan dari satu sudut ke sudut lain, mengenakan pakaian kerjanya sambil sesekali berhenti, seolah urutan gerak yang biasanya otomatis itu mendadak lepas dari ingatan.
Ada potongan jawaban yang mulai merajut bentuk: jam itu mampu membawanya kembali ke masa lalu. Namun, di saat yang sama, pertanyaan baru justru bermunculan. Siapa sebenarnya pemilik jam itu? Mengapa harus dia yang menemukan? Dan untuk apa jam itu memberinya kesempatan memutar ulang waktu? Rahasia apa yang tersembunyi di balik semua itu?
Sebelum berangkat, ia mengambil air dengan gayung plastik, lalu melangkah ke halaman kecil di depan rumah. Di sana, beberapa pot tanaman berjejer rapi di sepanjang tembok. Satu pohon cabai rawit yang daunnya hijau pekat, satu pot kecil kemangi yang aromanya langsung terangkat begitu tersiram air, lidah mertua yang berdiri kaku di sudut, dan satu pot bunga kertas yang jarang berbunga tapi tetap setia dirawat. Sekar menyiramnya satu per satu, membiarkan air jatuh pelan ke daun lalu turun ke tanah yang cepat menyerap. Sebuah rutinitas sederhana yang ia ulang setiap hari. Suara pelan tetesan air yang tumpah dan bau tanah basah selalu memberinya rasa tenang di pagi hari sebelum berangkat kerja. Seolah menjadi semacam healing treatment baginya, sekaligus menyuntikkan keyakinan dalam dirinya bahwa episode hidup masih terus berlanjut, meski pikirannya kerap tertinggal di belakang.
Selesai dengan rutinitas pagi, Sekar bergegas dengan sepeda motornya. Hanya butuh waktu kurang dari lima belas menit, ia sudah tiba di sekolah, tempat bekerja, tempatnya mengabdi.
Sekar bukan tipe orang yang gemar mengawali hari di tempat kerja dengan kongkow. Sekadar ngumpul, sarapan bareng sambil ngobrol ngalor-ngidul, lalu bergosip. Setiap tiba di sekolah, ia selalu langsung menuju ruang kerjanya. Pun saat jam pulang tiba, ia lebih memilih berdiam di sana, menyelesaikan pikirannya sendiri, ketimbang ikut nongkrong di coffee shop seperti kebanyakan rekan-rekan kerjanya yang lain.
Pagi ini pun, selepas memarkirkan sepeda motornya, Sekar langsung melangkah cepat menuju ruangannya. Ia hanya melemparkan sapaan singkat kepada satu dua guru dan siswa yang kebetulan berpapasan. Tanpa berhenti, tanpa basa-basi.
“Bu Sekar. Ada tamu,” ujar seorang petugas piket, memburu Sekar di lorong kelas.
“Oh iya bu. Siapa?” tanya Sekar.
“Ndak tau bu. Orangnya marah-marah,” sambung guru itu sambil bergidik. Logat khas Jawa Tengahnya terdengar kental.
“Marah-marah?”
“Iya bu. Ayo bu, orangnya di lobi,” katanya lagi sambil menggamit tangan Sekar. Sekar pun tergopoh mengikuti langkahnya yang terburu-buru.
Saat mereka tiba di ambang pintu ruang lobi, suara langkah Sekar yang beradu pelan dengan lantai membuat orang-orang yang tengah duduk di dalam menoleh seketika. Tatapan mereka beradu sesaat. Sekar menangkap sesuatu yang keras dan tak ramah menyambutnya. Bukan suara, melainkan ekspresi. Dari jarak beberapa langkah, ia sudah bisa merasakan aroma itu. Tegang, rahang mengeras, mata menyala oleh amarah yang belum menemukan sasaran.
Sekar berhenti beberapa langkah di depan dua orang itu; seorang pria dan wanita.
“Selamat pagi. Saya Sekar, guru BK di sekolah ini,” ucapnya, menata suara, sebagaimana kebiasaan yang ia bangun selama bertahun-tahun.
Belum sempat ia melanjutkan, kursi di seberang sana bergeser kasar.
“Danang!” hardik orang itu, suaranya pecah namun tajam. “Saya cari siswa bernama Danang!”
Petugas piket yang telah kembali ke meja resepsionis, menoleh dengan ekspresi membeku.
“Pak..” Sekar coba menyela, melangkah sedikit mendekat.
“Boleh kita bicara pelan?”
“Pelan?” Pria itu tertawa pendek, pahit.
“Anak saya pulang dengan tubuh gemetar dan mata kosong!” suara pria itu mengeras, menekan tiap suku kata.
“Ia bilang…” suaranya tertahan sesaat, seolah kata itu terlalu kotor untuk diucapkan di ruang publik, “…ia dilecehkan. Oleh Danang!”
Kalimat itu jatuh seperti palu yang dilemparkan dari atas gedung bertingkat. Sekar menelan ludah, merasakan dadanya mengeras. Ia tidak hanya melihat amarah di mata pria itu, tapi juga ketakutan yang murni sebagai seorang ayah. Ketakutan yang dulu tidak pernah ada dalam diri ayahnya sendiri untuk melindunginya.
Namun demikian, ia menjaga raut wajahnya, meski di dalam kepalanya sesuatu bergerak cepat, coba menyusun potongan-potongan informasi yang belum ia pahami.
“Bapak tenang dulu,” katanya, lebih rendah. “Mari kita duduk. Saya guru BK. Saya akan mendengarkan.”
Orang itu melangkah mendekat, jarak mereka tinggal sejengkal. Tangannya mengepal.
“Dengarkan,” katanya, menekan tiap suku kata.
“Anak saya pulang dengan tubuh gemetar dan mata kosong. Ia bilang…” suaranya tertahan sesaat, lalu kembali mengeras, “…ia dilecehkan. Oleh Danang.”
Hening. Ruang Lobi seperti berhenti bernapas
Sekar menelan ludah. Ia mengangguk pelan, bukan sebagai persetujuan, melainkan tanda bahwa ia menerima beban cerita itu.
“Saya mengerti ini berat,” ujarnya.
“Dan saya tidak akan mengabaikannya. Tapi saya perlu Bapak duduk, agar kita bisa bicara dengan kepala dingin.”
Orang itu menatapnya lama, seolah menimbang apakah perempuan di hadapannya layak dipercaya. Lalu, dengan gerakan kasar, ia menjatuhkan diri ke kursi. Napasnya masih berantakan.
“Panggil anak itu,” katanya. “Sekarang!”
Sekar menarik kursi di seberangnya lalu duduk. Di balik ketenangan yang ia pertahankan, ada sesuatu yang mulai menyeruak. Kesadaran bahwa pagi ini tidak akan berjalan seperti pagi-pagi yang lain. Dan bahwa satu nama, Danang, baru saja menyeret mereka semua ke sebuah perkara yang tak bisa diselesaikan dengan kata-kata ringan. Terlebih ia hafal betul nama itu. Kasus-kasusnya sudah terekam rapi di buku catatan BK.
“Baik, Pak. Mengenai memanggil anak itu, saya bisa lakukan kapan pun. Namun saya perlu mengetahui dulu secara utuh, apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Sekar.
“Begini. Semalam, setelah magrib, anak saya minta izin keluar bertemu temannya. Saya izinkan, dengan syarat harus pulang maksimal jam sepuluh malam,” kata pria itu, napasnya masih tersengal.
“Sekitar jam sepuluh dia pulang. Tidak seperti biasanya. Tergesa-gesa, langsung masuk ke kamar. Istri saya langsung menemuinya di kamar,” sambungnya sambil menunjuk wanita paruh baya yang sejak tadi hanya duduk di sampingnya.
“Di kamar, saya lihat dia menelungkupkan wajah ke lutut,” dengan napas tersengal, giliran sang ibu angkat bicara.
“Awalnya dia tidak mau cerita. Tapi setelah kami desak, sambil menangis, ia menceritakan semuanya. Ia nyaris dilecehkan oleh Danang, siswa sekolah ini.”
Sekar mengangguk pelan, mencoba menyerap setiap kata.
“Baik, Pak, Bu. Saya mulai faham,” katanya.
“Kami turut prihatin atas apa yang dialami putri Bapak dan Ibu. Saya sebagai guru BK pasti akan menindaklanjuti laporan ini. Namun sebelumnya, mohon ijin bertanya, Tadi Bapak menyampaikan bahwa anak Bapak dilecehkan, sementara Ibu mengatakan nyaris dilecehkan. Bisa dijelaskan bagaimana kejadian sebenarnya? Apakah pelecehan itu sudah terjadi?”
“Menurut cerita anak saya,” jawab wanita itu, “saat dia diantar pulang, di dalam mobil, Danang tiba-tiba saja memeluknya, dan hendak menciumnya. Untungnya anak saya melawan dan berteriak minta tolong. Jadi kejadian itu tidak berlanjut lebih jauh.”
“Pokoknya, walaupun belum terjadi, tetap saja, kejadian itu membuat anak saya trauma,” potong pria itu. “Perbuatanya bisa mengarah ke pelecehan seksual. Bahkan mungkin perkosaan.”