Sekar

Galih Priatna
Chapter #8

Waktu yang Salah

ADA kalanya malam terasa berjalan lebih lambat dari siang. Apakah ini karena gerak matahari sedang dipercepat? Ataukah bulan dan bintang menuntut untuk tampil lebih lama?

Malam kadang hadir dengan kesan bahwa ia berjalan lebih lambat dari siang, padahal jarum jam tak pernah berbelok sedikit pun dari ritmenya. Yang berubah bukan waktunya, melainkan cara manusia merasakannya. Di siang hari, waktu seperti lewat begitu saja. Terpotong oleh pekerjaan, percakapan, tawa yang setengah sadar, dan kelelahan yang belum sempat dirasakan. Kita terlalu sibuk untuk benar-benar menyadari bahwa waktu sedang berjalan.

Begitu malam datang, semuanya berbeda. Suara-suara mereda, cahaya mengendur, dan sebagian isi kepala yang sejak pagi dikesampingkan, akhirnya mulai berbicara. Pikiran berjalan ke arah yang tidak sempat disinggahi siang tadi. Ingatan muncul tanpa diundang. Kekhawatiran ikut duduk, tak mau pergi. Detik-detik terasa lebih jelas, lebih berat, seolah ingin diperhatikan satu per satu.

Malam ini, Sekar duduk di tepi tempat tidur, punggungnya bersandar ke dinding. Lampu kamar sengaja dimatikan. Hanya cahaya dari luar jendela yang menyusup masuk, membelah ruangan menjadi bidang terang dan gelap.

Mimpi sore tadi di ruang BK masih menggelayut di ingatannya. Mimpi yang terus berulang. Mimpi yang selalu datang di saat Sekar merasa lelah dengan berbagai beban kehidupan.

“Kalau saja… ayah dan ibu tidak pernah menikah,” gumamnya pelan.

Tiba-tiba Sekar mulai menjajaki permikiran yang seumur hidupnya tidak pernah singgah di benaknya. Kalau saja ayah dan ibunya tidak pernah bertemu, tidak pernah saling kenal, tidak pernah menikah. Tentu tidak akan pernah ibunya menjadi wanita yang tersakiti dan dikhianati terus menerus. Dan tentu ia sendiri tak akan pernah lahir sebagai Sekar yang harus menyaksikan semua itu. Harus tumbuh dengan keburukan itu.

Sekar memejamkan mata. Pikirannya mengarah pada satu titik: hari pernikahan orang tuanya.

“Jika pernikahan itu gagal, aku mungkin tak akan pernah ada,” gumamnya.

Dan anehnya, pikiran itu tidak terasa menakutkan. Justru menjadi semacam kelegaan.

“Maaf,” bisiknya, entah pada siapa.

Sekar menarik knop kecil di sisi jam, lalu memutarnya. Jarum jam dan menit berputar mundur. Angka penunjuk tanggal di sisi tuas jarum jam juga ikut berputar. Ia memilih tanggal dengan hati-hati, seperti seseorang yang hendak menyentuh luka lama. Lalu ia mengikat jam itu di pergelangan tangan kirinya.

Ia menarik napas panjang.

Menekan knop itu kembali.

Dan dunia seketika runtuh.

Saat knop itu ditekan, dunia tidak sekadar berubah. Ia meledak dalam keheningan yang menyakitkan. Tarikan itu datang lebih kasar dari yang sebelumnya. Tidak bertahap. Tidak memberi peringatan. Tubuhnya seolah diseret ke belakang dengan paksa. Ia merasa tubuhnya seperti dipaksa melewati lubang jarum yang sempit, menyeret organ dalam batinnya ke arah yang berlawanan.

Cahaya berkilat liar. Udara terasa menekan dada. Suara-suara beradu—tertawa, berbisik, desahan napas—semuanya datang bersamaan, membuat kepala Sekar pening.

Ada rasa mual yang hebat merangkak dari ulu hati hingga ke pangkal tenggorokan, sementara telinganya berdenging dengan frekuensi tinggi yang membuat kepalanya seolah hendak pecah. Oksigen terasa menghilang, digantikan oleh tekanan udara yang begitu berat seolah ia sedang tenggelam di dasar samudra yang paling gelap.

Sekar ingin membuka mata, namun inderanya tak menurut.

Ketika akhirnya dunia berhenti berputar, tubuh Sekar gemetar hebat, napasnya memburu pendek-pendek seolah paru-parunya baru saja dipaksa bekerja kembali setelah mati suri. Yang pertama ia rasakan adalah kehangatan. Bukan udara kamar kontrakan. Bukan dingin malam. Melainkan kehangatan yang sangat dekat.

Sekar seketika membuka mata.

Ia tersentak.

Lihat selengkapnya