SELALU ada hari ketika waktu seperti sengaja menyingkat diri, bahkan untuk orang yang paling disiplin sekalipun. Hari di mana langkah terasa tertinggal dari lompatan jarum jam. Dan, itu yang dialami Sekar pagi ini.
Sekar memacu motor Beat-nya sedikit lebih berani, saat dilihatnya dari kejauhan, gerbang sekolah sudah tertutup rapat. Jantungnya berdegup. Nafasnya memburu.
“Aduh… semoga Kepala Sekolah belum datang,” batinnya, lebih seperti doa.
Ia memperlambat laju motor saat mendekati gerbang, menarik napas panjang, bersiap menghadapi pagi yang sejak awal sudah terasa tidak ramah.
Semalam ia nyaris tak tidur. Tubuhnya terbaring di ranjang, mata terpejam, tetapi pikirannya terus menyala. Kelopak matanya baru menyerah tatkala adzan subuh terdengar samar dari kejauhan. Terlambat. Terlalu singkat. Dan pagi datang tanpa memberi ruang baginya untuk menggenapi seluruh persiapan sebelum beraktivitas.
Di mulut gerbang sekolah, Sekar turun dari motornya. Ia sempat melirik ke kanan dan kiri, lalu berniat membuka gerbang itu sendiri. Sekar bukan tipe orang yang gemar menekan klakson berisik hanya untuk meminta pintu dibukakan. Saat tak satu pun satpam terlihat di pos gerbang di sisi gerbang, ia memilih mendorong sendiri pintu gerbang itu, mengandalkan tenaganya.
“Ups… Siap Bu Sekar. Aman. Biar saya saja,” teriak Mang Ucup, satpam sekolah yang muncul dari sisi yang tak terlihat dari luar. Tangannya sigap mendorong gerbang, lalu dengan gerakan hormat ala militer, mempersilahkan Sekar masuk.
“Terima kasih, Mang,” ucap sekar. Senyumnya mengembang melihat gerak ala militer yang diperagakan Mang Ucup.
Sekar langsung memburu lahan parkir yang masih tersisa, mematikan mesin dengan gerakan tergesa, kemudian mengambil HP dari saku jaketnya.
Absensi, kini tidak lagi memakai kartu atau sidik jari. Semuanya beralih ke sebuah aplikasi resmi buatan pemerintah. Seluruh pegawai harus melakukan swafoto di jam kehadiran dan jam pulang. Wajah harus menghadap kamera, dengan lokasi aktif dan waktu yang menunjukkan real time.
Sekar menyalakan HP-nya, mengangkatnya setinggi dada, menatap layar sejenak sebelum menekan tombol shutter. Wajahnya tampak pucat. Matanya sedikit sembap. Aplikasi berbunyi singkat, tanda absensi berhasil.
Anda terlambat 65 menit. Sebuah notifikasi singkat muncul.
Sekar melirik angka kecil di pojok kiri atas layar HP. Pukul delapan lewat lima menit. Ia menghela napas pelan, menelusupkan kembali HP-nya ke saku jaket, lalu bergegas. Langkahnya dipercepat menuju gedung utama. Seperti biasa, ia hanya melemparkan senyum tipis dan mengangguk singkat pada siapa pun yang berpapasan dengannya. Tidak ada obrolan, tidak ada percakapan panjang. Terlebih ia datang terlambat.
Memasuki koridor kelas, suasana masih terdengar riuh meski bel masuk sudah berbunyi lebih dari satu jam lalu. Sumber-sumber keriuhan, terutama dari kelas-kelas yang belum ada gurunya. Sekar berlalu, tidak ambil pusing.
Lepas koridor kelas yang cukup panjang, adalah masjid sekolah. Sebuah masjid besar yang bisa menampung seluruh siswa untuk solat berjamaah. Dari sana, Sekar berbelok ke kiri, menyusuri lorong yang memisahkan laboratorium komputer dan perpustakaan. Di ujung gedung, ia kembali berbelok ke kanan, menuju area paling pojok sekolah. Di situlah ruang kerjanya bersama Bu Mira, rekan sesama guru BK. Sebuah ruangan yang sengaja diletakkan di pojok, jauh dari pusat lalu-lalang orang, agar siapa pun yang datang ke sana—siswa yang dipanggil karena bermasalah atau mereka yang datang untuk konseling, luput dari tatapan-tatapan siswa lain yang menyelidiki atau mungkin menghakimi.
Selepas berbelok di ujung gedung lab. komputer dan perpustakaan itu, satu suara memanggil.
“Bu Sekar?” suara itu lirih, nyaris ragu.
Sekar menoleh.
“Ya?” jawabnya
“Saya… boleh bicara sebentar, Bu?”
Rani. Seorang siswi kelas XI, wajahnya sedikit menunduk, terlihat pucat. Bahunya turun, sebuah buku pelajaran dipeluknya erat.
Sekar mengamati wajah anak itu. Siswi yang dikenal pendiam, nilai akademiknya cukup baik, nyaris tak pernah bermasalah.
“Tentu,” kata Sekar.
“Ada apa?”
Sekar sedikit kaget mendapati tangan Rani dingin dan sedikit basah oleh keringat, saat anak itu mencium tangannya.
Rani tidak langsung menjawab. Pandangannya melirik sekitar, lalu kembali turun ke lantai. Sekar refleks ikut menyapukan pandangan ke sekitar.
“Kenapa, Ran?”
“Emmm…, Saya diminta Pak Amran untuk tetap di kelas sepulang sekolah nanti,” katanya pelan. “Katanya, untuk bantu-bantu beresin administrasi Rohis.”
Sekar menunggu. Nalurinya bekerja.
“Lalu?” tanyanya menggantung.
Rani menarik napas pendek.
“Ini bukan yang pertama, Bu. Dalam seminggu ada saja, satu atau dua hari. Diminta bantu ini, itu.”
Ia berhenti, seolah memilih kata.