Danang sudah melompat ke atas motornya. Dengan gerakan kasar, ia mengenakan helm dan menyalakan mesin yang menderu bising, seolah sengaja ingin menulikan pendengaran Sekar. Tanpa mempedulikan teriakan Sekar, ia menarik gas dalam-dalam.
Sekar berlari, napasnya memburu di sela udara siang yang terik. Saat dilihatnya motor Danang mulai bergerak, ia mencoba merentangkan tangan di tengah jalan, bermaksud menghalangi. Namun, Danang tidak melambat. Remaja itu tetap melajukan sepeda motornya dengan kecepatan yang mengerikan. Seandainya Sekar tidak segera melompat menyingkir, tubuhnya pasti sudah dihantam logam dan aspal oleh muridnya sendiri.
“Ada apa, Bu?” tanya Pak Dimas yang baru saja tiba di samping Sekar dengan raut wajah bingung.
“Danang, Pak! Ayo kejar!” seru Sekar parau, matanya tidak lepas dari punggung Danang yang semakin menjauh.
“Danang siapa, Bu?” Pak Dimas keheranan, belum menangkap urgensi di balik kepanikan rekan kerjanya itu.
“Anak kita, Pak! Murid kita! Ayo cepat ambil motor!” perintah Sekar tanpa memberi ruang untuk bertanya lagi.
Pak Dimas bergegas menuju parkiran yang agak masuk ke dalam. Di titik itu, Sekar menyesal. Ia mengutuki keputusannya tadi yang lebih memilih dibonceng Pak Dimas daripada membawa motornya sendiri. Setiap detik yang terbuang untuk menunggu Pak Dimas mengeluarkan motor terasa seperti taruhan nyawa.
Begitu Pak Dimas mendekat, Sekar segera naik. “Cepat, Pak!”
Di depan sana, Sekar masih bisa melihat punggung Danang. Anak itu memacu motornya dengan serampangan. Ia menyalip kendaraan lain tanpa perhitungan, kepalanya sesekali menoleh ke belakang.
Kejar-kejaran itu hanya berlangsung singkat saja. Hanya beberapa ratus meter dari kafe, di sebuah tikungan tajam yang padat, petaka menjemput kecerobohan Danang. Motornya terlalu mengambil jalan ke kanan. Tiba-tiba saja dari arah berlawanan, sebuah truk boks melaju kencang. Danang yang panik mencoba membuang haluan ke kiri, namun deretan mobil melaju dengan lambat di jalurnya. Ia refleks membanting lagi stang motornya ke kanan, membentur bagian sisi kanan mobil boks tadi. Roda motornya kehilangan cengkeraman. Motor ber cc besar itu oleng.
Dunia seolah berhenti berputar saat Sekar menyaksikan motor itu terseret, mengeluarkan percikan api yang menyilaukan, sebelum akhirnya tubuh Danang terpelanting dan menghantam pembatas jalan beton dengan suara berdebam yang sangat keras.
“DANANG!” jerit Sekar histeris.
Pak Dimas mengerem mendadak. Belum pun motor berhenti sempurna, Sekar sudah melompat turun. Ia berlari kencang menuju sosok yang terkapar tak berdaya itu. Darah segar mulai merembes, membasahi seragam putih abu-abu Danang yang kini koyak.
Orang-orang mulai berkerumun dalam hitungan detik. Namun, sebuah pemandangan mengerikan tersaji di depan mata Sekar: mereka hanya berdiri membeku. Ada yang berbisik-bisik, ada yang sibuk mengeluarkan ponsel untuk merekam, namun tak satu pun yang mengulurkan tangan. Ketakutan akan disalahkan secara hukum atau direpotkan oleh urusan polisi membuat kerumunan itu menjadi tembok bisu yang kejam.
“Tolong! Tolong saya!” Sekar menjatuhkan diri, berlutut di samping Danang. Ia meraih tubuh remaja itu, mendekap kepalanya yang bersimbah darah. “Kenapa kalian diam saja?! Tolong!”
Suara Sekar parau oleh isak tangis, namun apatisme warga di sekelilingnya tetap bergeming. Jantung Sekar tak beraturan. Dadanya sesak. Panas.
“Minggir! Kasih jalan!”
Suara tegas Pak Dimas membelah kerumunan. Tanpa banyak bicara, Pak Dimas membungkuk, menyusupkan lengannya di bawah tubuh Danang yang lunglai, lalu menggendongnya dengan sisa tenaga yang ada. Dengan kenekatan yang datang tiba-tiba, sambil menggendong Danang yang bersimbah darah, Pak Dimas mencegat paksa sebuah angkot. Angkot itu tidak punya pilihan lain selain menginjak rem. Sekar masuk terlebih dahulu ke dalam angkot.
“Tolong anter ke rumah sakit pak,” teriak Sekar.
Ia lalu menyambut tubuh Danang yang disodorkan Pak Dimas Dari luar. Satu dua orang penumpang angkot ikut menarik tubuh Danang, saat melihat Sekar keberatan mengangkatnya sendirian. Kini Kepala Danang di atas paha Sekar, sementara tubuhnya tergeletak di bangku angkot.
“Langsung ke rumah sakit. Cepat! Saya buka jalan di depan!” perintah Pak Dimas pada Sekar, lalu menatap sopir angkot yang nampak pucat.
Ia lalu berlari mengambil motornya, menjalankan motor di depan angkot untuk membuka jalanan yang sedang padat siang itu.