Sekar

Galih Priatna
Chapter #11

Nama yang Tiba-Tiba Hadir

SEKAR menuliskan satu kata besar di papan tulis: POHON KARIER.

Di bawah tulisan itu, ia menggambar sebuah pohon, atau paling tidak sebuah gambar menyerupai pohon, karena jika dibandingkan dengan gambar hasil anak SD saja, sepertinya gambarnya kalah jauh. Sebuah gambar yang terdiri dari akar, batang, dahan dan daun.

“Bayangkan kalian adalah pohon,” katanya, membalikkan badan menghadap seisi kelas.

“Akar melambangkan fondasi pribadi, yang terdiri dari minat, bakat, nilai hidup, kepribadian, motivasi. Tanpa akar yang kuat, pilihan karier mudah goyah atau bisa jadi salah arah,” lanjutnya.

“Batang menggambarkan jalur pendidikan dan pengembangan diri, seperti jurusan sekolah, mata pelajaran yang dikuasai, pendidikan lanjutan seperti kuliah, kursus, pelatihan, dsb., dan keterampilan yang dimiliki,” ia berhenti sesaat.

“Batang berfungsi menyalurkan potensi diri menuju tujuan karier,” lanjutnya.

“Cabang menunjukkan beragam pilihan profesi yang bisa ditempuh, misalnya, guru, dokter, programmer, pengusaha, dan lain-lain,” ditatapnya seisi kelas satu per satu bergantian.

“Sedangkan daun dan buah melambangkan hasilnya. Prestasi, penghasilan, kepuasan kerja, kontribusi bagi masyarakat, kesuksesan jangka panjang,” ia menghela napas.

“Buah yang baik berasal dari proses yang tepat dan konsisten,” lanjutnya.

Beberapa siswa mengangguk. Beberapa lainnya hanya menatap, setengah hadir. Badannya di dalam kelas, sementara pikirannya entah di mana.

Sekar sudah terbiasa. Ia melangkah ke tengah kelas, suaranya datar, tidak menggurui.

“Tidak semua orang, tahu mau jadi apa. Kalian, bisa jadi belum tahu mau jadi apa. Tapi minimal kalian tahu, kalian tidak mau jadi apa.”

“Kalian harus buat pohon karir kalian sendiri. Harus bisa me….”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara gedoran keras memotong di udara kelas.

DUG! DUG!

Seluruh kepala menoleh serempak ke pintu.

Sekar terdiam. Tangannya masih menggenggam spidol. Sebelum ia sempat berkata apa-apa, pintu kelas sudah terbuka setengah. Seorang pria tinggi kurus berdiri di sana. Pria itu berkacamata tebal. Dan peci hitam menempel rapi di kepalanya. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras.

“Bu Sekar,” kata Pak Amran, suaranya tertahan tapi tajam. “Keluar sebentar.”

Nada itu lebih seperti perintah. Bukan permintaan.

Sekar menangkap gelombang keheranan yang langsung berdesir di kelas. Ia mengangguk singkat.

“Tunggu sebentar,” katanya kepada murid-murid, lalu melangkah ke luar.

Begitu pintu tertutup di belakang mereka, suara Pak Amran meledak.

“Ibu pikir ini apa?” katanya, wajahnya memerah.

“Melarang murid datang ke saya, tanpa bicara ke saya dulu?”

Sekar berdiri tegak. Bahunya lurus. Wajahnya sedikit tegang.

“Saya tidak melarang, Pak Amran,” jawabnya pelan.

“Saya menyarankan Rani untuk pulang. Kondisinya tidak memungkinkan.”

“Tidak memungkinkan menurut siapa?” bentak Pak Amran.

“Ibu gak perlu ikut campur urusan orang?”

“Rani murid kita pak, murid saya juga. Bukan orang lain,” jawab Sekar, masih berusaha tenang.          

Beberapa murid di dalam kelas sudah berdiri dari bangku mereka. Tirai jendela kelas tersibak sedikit. Wajah-wajah muda berjejal, mata membesar, berbisik satu sama lain. Beberapa naik ke atas kursi agar bisa melihat lebih jelas.

Lihat selengkapnya