TIGA hari sudah sejak peristiwa tabrakan Danang siang itu. Selepas istirahat Zuhur, Sekar memutuskan untuk menjenguknya di rumah sakit.
Hari itu ia hanya mengajar satu kelas. Seusai bel berbunyi, ia kembali ke ruang BK, membereskan beberapa berkas yang berserakan di atas meja, lalu memasukkannya ke dalam laci.
“Bu Mira, saya izin keluar sebentar ya,” katanya sambil mengenakan jaket.
“Mau jenguk Danang.”
“Masih di rumah sakit? Gimana keadaannya sekarang?” tanya Bu Mira yang tengah menikmati bekal makan siangnya.
“Iya. Katanya sih udah baikan. Tapi gak tau juga,” jawab Sekar, sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. Diambilnya kunci motor yang tergeletak di atas meja.
Bu Mira tersenyum kecil. “Kalau uda gak ada kelas, aku ikut deh. Sayang banget, hari ini full,” ucapnya.
“Sampaikan salam ya.”
“Iya, Bu.”
“O iya, mengenai pemanggilan orang tua Danang gimana, Bu?” tanya Bu Mira.
“Itu dia. Saya lihat kondisi Danang dulu. Kalau uda baikan, mungkin lusa bisa kita undang orang tuanya,” ucap Sekar sambil mematut-matut seragamnya di cermin yang menggantung di salah satu dinding.
“Walau bagaimana pun, kalau kondisi Danang masih belum membaik, kita tidak etis melakukan pemanggilan orang tuanya,” lanjut Sekar.
Bu Mira mengangguk.
“Saya berangkat dulu ya, Bu,” ucap Sekar.
“Iya Hati-hati,” jawab Bu Mira.
“Balik lagi ke sini?” sambungnya.
“Lihat sikon aja. Kalau gak terlalu sore, saya ke sini lagi.”
Sekar melangkahkan kakinya keluar ruangan, menutup pintu dari luar, lalu berjalan menuju parkiran. Matahari siang itu tepat di atas ubun-ubun. Namun apa boleh buat, kali itu Sekar memiliki waktu kosong yang lumayan luang.
Sesaat kemudian, Sekar sudah di atas motornya. Mesin motor menderum pelan. Ia melaju meninggalkan gerbang sekolah.
Sepanjang perjalanan, pikirannya tidak pernah benar-benar berada di jalan raya. Lampu merah, deretan kendaraan, pedagang kaki lima, semua hanya lewat begitu saja di depan matanya. Yang terus berulang justru wajah Danang. Tatapan kosong remaja itu. Nada bicaranya yang selalu datar. Dan teriakan histerisnya sendiri saat tubuh Danang terlempar menghantam pembatas jalan.
Tanpa sadar, jari-jarinya menggenggam setang motor sedikit lebih erat. Ia menarik napas panjang. “Semoga anak itu baik-baik saja,” gumamnya.
Rumah sakit tidak seramai tiga hari yang lalu. Bau antiseptik masih sama tajamnya. Pendingin ruangan membuat lorong-lorong terasa dingin, hampir tanpa suara selain derit roda kursi pasien dan langkah para perawat yang berlalu-lalang.
Sekar berhenti di meja informasi.
“Permisi, Mbak. Saya mau menjenguk Danang Pratama.”
Petugas mengecek layar komputer beberapa saat.
“Kamar 305, Bu. Gedung C. Lantai tiga.”
“Terima kasih.”
Lift berhenti cukup lama di setiap lantai. Saat pintunya akhirnya terbuka di lantai tiga, Sekar melangkah perlahan menyusuri koridor yang dipenuhi deretan pintu bernomor.
Di depan kamar 305, langkahnya terhenti.
Pintu kamar tidak tertutup rapat.
Dari celah kecil itu terdengar suara televisi yang dipelankan.
Sekar mengetuk pelan.
Tok. Tok.
“Masuk.”
Suara itu pelan. Masih terdengar lemah.
Sekar mendorong pintu perlahan.
Melihat Sekar yang datang, Danang beringsut, duduk bersandar di tempat tidur. Kepalanya masih dibalut perban putih. Lengan kirinya digips hingga melewati siku. Beberapa luka lecet di wajahnya mulai mengering, menyisakan warna kemerahan yang kontras dengan kulitnya yang pucat.
Ada ekspresi yang tidak biasa di wajahnya. Campuran antara kaget karena tidak menyangka Sekar akan datang, malu, takut.
Remaja itu menoleh. Sesaat mereka saling memandang. Tidak ada tatapan dingin seperti biasanya. Tidak ada sorot mata menantang. Yang ada justru rasa canggung yang sama-sama mereka sembunyikan.
“Siang, Danang.”
“Siang... Bu.”
Sekar mendekat. Berdiri di sisi tempat tidur.
Danang menyodorkan tangan kanannya, lalu mencium tangan Sekar.
“Gimana kabarnya?”
Danang mengangkat bahu pelan.
“Masih hidup.”
Jawaban itu membuat sudut bibir Sekar terangkat tipis.
“Syukurlah.”
Hening kembali mengambil tempat. Televisi di sudut ruangan masih menyala tanpa benar-benar ditonton. Di luar jendela, cahaya matahari sedang terik-teriknya. Namun AC di ruangan membuat udara panas dari luar tidak berarti apa-apa.
“Kamu sendirian?”
“Iya. Mama pulang dulu, ambil pakaian. Papa kerja, paling malem ke sini.”
Sekar menarik kursi besi berlapis busa biru. Lalu duduk di samping tempat tidur. Suara berderit pelan dari rangkanya terdengar saat ia duduk.
“Dokter bilang apa?”
“Patah tulang ringan.”