Sekar

Galih Priatna
Chapter #13

Pemanggilan

SETIAP anak belajar jauh sejak sebelum mereka mampu memahami nasihat. Mereka meniru cara orang dewasa tertawa, marah, meminta maaf, bahkan cara mencintai seseorang. Mereka tidak selalu mengingat apa yang diajarkan, tetapi hampir selalu mengingat apa yang mereka lihat.

Seorang ayah mungkin tidak pernah mengajari anaknya untuk berbohong. Namun jika setiap hari anak melihat ayahnya berdusta, maka dusta perlahan berubah menjadi bahasa yang terdengar biasa. Seorang ibu mungkin tak pernah meminta anaknya menjadi kuat. Namun setiap kali anak melihat ibunya bangkit setelah jatuh, kekuatan itu diam-diam berpindah tanpa perlu diajarkan.

Begitulah manusia bertumbuh. Lebih banyak dibentuk oleh teladan daripada petuah.

Karena itulah, kadang-kadang, kesalahan seorang anak bukan benar-benar dimulai dari dirinya. Ia hanya sedang mengulang sesuatu yang lebih dulu hidup di rumahnya.

Pagi itu langit menggantungkan awan tipis yang membuat cahaya matahari terasa lembut. Angin berembus pelan melewati pepohonan di halaman sekolah, menggoyangkan dedaunan yang mulai menguning di beberapa ujung ranting. Dari lapangan terdengar suara peluit guru olahraga yang bersahut-sahutan dengan teriakan para siswa. Di sisi lain, bel pergantian jam baru saja berbunyi. Lorong-lorong sekolah kembali dipenuhi langkah kaki yang berlarian mengejar kelas berikutnya.

Di sekolah tempat Sekar mengajar, sistem Moving Class sudah dijalankan sejak beberapa tahun terakhir. Hal ini memberikan warna yang berbeda. Semangat yang terus terjaga di setiap pergantian pelajaran, seolah para murid sedang melakukan sebuah petualangan dengan satu pertanyaan besar di kepala mereka, keseruan apa yang akan mereka temukan di kelas berikutnya? Dan itu yang membuat mereka bersemangat untuk bergerak menuju kelas selanjutnya.

Di ruang Bimbingan dan Konseling, Bu Mira sedang menyusun beberapa map berisi laporan konseling di atas meja. Sesekali ia melirik jam dinding yang jarumnya menunjuk pukul delapan lewat dua puluh menit.

“Harusnya sudah datang sejak tadi,” gumamnya.

Tak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu.

Tok.

Tok.

“Silakan masuk,” sahut Bu Mira.

Pintu terbuka perlahan. Seorang pria bertubuh tinggi dengan kemeja biru muda yang tersetrika rapi melangkah masuk. Celana bahan hitam dan sepatu pantofelnya masih tampak mengilap. Di tangan kirinya tergenggam handbag pria berwarna hitam yang sedari tadi tak pernah lepas dari pegangannya. Wajahnya tenang, namun ada gurat lelah yang sulit disembunyikan di sekitar matanya. Seolah tiga hari terakhir ia tidak benar-benar tidur.

“Selamat pagi, Bu,” sapanya sopan.

“Selamat pagi. Pak Hadi, ya?” tanya Bu Mira sambil berdiri menyambut.

“Iya, Bu.”

“Mari, silakan duduk.”

Hadi mengangguk kecil sebelum duduk di satu kursi tamu di ruangan itu.

“Bagaimana kondisi Danang sekarang, Pak?” tanya Bu Mira sambil menuangkan segelas air putih, lalu menyajikannya di meja kaca tepat di tengah-tengah dua kursi kecil dan satu kursi panjang yang membentuk leter U.

“Alhamdulillah... sudah jauh lebih baik. Dokter bilang mungkin besok atau lusa sudah boleh pulang.”

“Syukurlah,” ucap Bu Mira.

“Sebentar saya panggilkan dulu Bu Sekar, ya. Lagi di kelas,” lanjutnya, lalu bergegas keluar ruangan.

Beberapa saat kemudian pintu kembali terbuka.

“Assalamualaikum.”

Suara itu membuat Hadi menoleh.

Sekar melangkah masuk sambil membawa sebuah map tipis dan buku catatan. Begitu pandangannya bertemu dengan pria yang duduk di kursi tamu yang membelakangi pintu, langkahnya sempat sedikit tertahan.

“Ayahnya Danang?” ucap Sekar

Hadi berdiri dan menyambut uluran tangannya.

Jabat tangan mereka hanya berlangsung sesaat. Hangat. Biasa. Namun entah mengapa, tepat ketika telapak tangan mereka bersentuhan, ada satu denyut kecil kembali bergetar di pelipis Sekar. Sekilas. Lalu hilang lagi. Sama seperti yang ia rasakan di rumah sakit, sore itu, empat hari lalu.

Di momen pertemuan seperti itu, biasanya sambil bersalaman, dengan tegas Sekar akan menyebutkan namanya. Tapi kali itu tidak. Suaranya seperti tertahan di kerongkongan.

Sekar merasakan ada sesuatu di wajah pria itu yang kembali mengusik ingatannya. Gurat rahangnya. Tatapan matanya. Cara ia menoleh ketika mendengar suaranya. Semuanya terasa begitu akrab.

Namun ingatan itu masih seperti bayangan di balik kaca buram. Terlihat bentuknya, tetapi tak cukup jelas untuk dikenali.

“Mohon maaf, agak lama. Tadi sedang di kelas dulu,” ucap Sekar.

“Silakan duduk, Pak.”

Sekar mempersilakan sambil mengambil kursinya sendiri, berhadapan dengan Hadi.

Hadi kembali duduk.

Sekar membuka map di hadapannya, tetapi sebelum mulai berbicara, ia sempat mencuri pandang sekali lagi ke arah wajah pria itu.

“Aku pernah melihat wajah ini...” batinnya.

“Tapi di mana?”

Ruangan kembali hening.

Di luar, suara siswa yang berlari di koridor sesekali terdengar samar, sebelum akhirnya tenggelam oleh kesunyian yang mulai memenuhi ruang BK.

Hari itu, tak satu pun dari mereka menyadari bahwa pertemuan sederhana di ruangan kecil itu akan membuka kembali pintu menuju masa lalu yang selama dua puluh tahun terkunci rapat.

***

Map di hadapan Sekar masih terbuka. Jemarinya merapikan beberapa lembar catatan sebelum akhirnya mengangkat pandangan.

Lihat selengkapnya