Sekar

Galih Priatna
Chapter #14

Panggilan Telepon

HADI sudah tiga kali berdiri dari kursi beralas busa biru itu. Tiga kali pula ia duduk kembali.

Istrinya berkali-kali menyuruhnya pulang beristirahat. Dokter juga mengatakan kondisi Danang sudah stabil. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menunggu.

Namun setiap kali hendak meninggalkan ruang rawat, langkahnya selalu berhenti di dekat pintu. Tatapannya kembali jatuh pada tubuh anak laki-lakinya yang terbaring diam di atas ranjang.

Ada sesuatu yang membuatnya belum sanggup pulang.

Ruang rawat inap itu tidak pernah benar-benar sunyi. Dari balik pintu sesekali terdengar roda brankar melintas, suara langkah perawat, dan bunyi monitor dari kamar lain yang berdetak pelan. Semua suara itu bercampur menjadi irama yang aneh sekaligus membosankan.

Hadi kembali duduk. Tangannya terlipat di depan dada. Pandangannya tidak lepas dari wajah Danang. Anak laki-laki semata wayangnya tengah tertidur.

Perban putih masih melingkari kepalanya. Lengan kirinya digips hingga melewati siku. Beberapa luka lecet di pipi dan dagunya mulai mengering, menyisakan semburat kemerahan.

Melihat itu, Hadi mengembuskan napas panjang. Tiga hari lalu, wajah itu hampir tidak bisa ia kenali karena berlumuran darah dan bengkak di beberapa bagian.

Bayangan siang itu kembali melintas begitu saja.

Telepon dari sekolah. Suara panik seseorang. Perjalanan yang terasa lama dari kantor menuju rumah sakit. Lalu, seorang guru BK berdiri dengan seragam yang sebagian berubah merah karena darah anaknya.

“Bu Sekar...”

Nama itu terucap pelan di dalam hati.

Entah mengapa, wajah perempuan itu ikut muncul setiap kali ia memikirkan kecelakaan Danang.

Bukan hanya karena ia menyelamatkan anaknya. Tapi ada alasan lain.

Alasan yang belum bisa ia pastikan kebenarannya.

“Arrgghh…., Papa...”

Suara lirih membuyarkan lamunannya.

Danang membuka mata perlahan.

“Belum pulang?”

Hadi tersenyum tipis.

“Belum.”

“Kata dokter aku udah nggak apa-apa,” ucap Danang dengan suara parau.

“Iya.”

“Ya udah pulang aja.”

Hadi menggeleng pelan.

“Nanti.”

Danang tidak berkata apa-apa lagi. Kelopak matanya kembali menutup. Beberapa detik kemudian napasnya kembali teratur.

Hadi menatap anaknya lama. Baru sekarang ia sadar, sudah lama sekali mereka tidak benar-benar berbicara.

Selama ini percakapan mereka hanya seputar sekolah. Sudah makan? Belajar yang benar. Motor jangan ngebut. Besok Ayah ada meeting dengan client. Kalimat-kalimat pendek. Tidak pernah lebih jauh dari itu.

Ia mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali mereka duduk berdua tanpa terburu-buru. Gagal. Sepertinya sudah terlalu lama. Bahkan ulang tahun Danang yang terakhir pun ia hanya sempat datang malam hari setelah semua tamu pulang.

Namun setiap kali itu terjadi, selalu ada beribu alasan untuk membenarkannya. Dan kini, di hadapan anaknya yang terbaring tak berdaya, semua pembenaran itu seperti runtuh satu demi satu.

Hadi meremas kedua telapak tangannya sendiri. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Sesuatu yang selama ini selalu ia abaikan.

Menjelang pukul sembilan malam, istrinya datang membawa makanan.

“Papa belum makan, kan?”

Hadi menggeleng.

“Nggak lapar,” jawab Hadi.

“Jangan dipaksa terus. Kalau mau pulang juga gak apa-apa. Danang sudah baikan.”

Wanita itu memandang Hadi beberapa saat.

“Aku tahu.”

“Dokter juga bilang nggak perlu ditunggu terus.”

Hadi hanya mengangguk. Tetapi ia tetap tak beranjak. Istrinya akhirnya mengalah.

“Ya sudah. Aku pulang sebentar ambil baju.”

“Iya.”

Wanita itu lalu beranjak, kemudian berjalan ke arah pintu ruangan, lalu menghilang di balik pintu yang kembali ditutup.

Setelah istrinya pergi, ruang rawat kembali lengang.

Hadi menyandarkan tubuh ke kursi. Matanya kembali menatap Danang. Lalu, tanpa ia tarik kembali, kalimat Bu Sekar di ruang BK kembali terdengar jelas di kepalanya.

Danang mengaku banyak belajar dari Bapak.

Menurutnya, menjadi laki-laki berarti memperlakukan perempuan seperti yang selama ini ia lihat di rumah.

Hadi memejamkan mata. Dari semua kalimat yang ia dengar hari itu, justru kalimat itulah yang paling sulit ia lupakan.

Ia selalu berpikir persoalannya hanya dengan istrinya. Pertengkaran mereka. Kebiasaannya pulang larut. Perempuan-perempuan lain yang sesekali datang dan pergi.

Ia tidak pernah membayangkan ada sepasang mata kecil yang memperhatikan semuanya. Danang.

Hadi mengusap wajahnya pelan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bertanya kepada dirinya sendiri. Apa selama ini aku benar-benar sudah menjadi ayah?

Pertanyaan itu tidak segera menemukan jawaban. Yang muncul justru wajah Sekar. Cara perempuan itu berbicara. Tatapan matanya. Nada suaranya. Tidak banyak berubah. Hampir sama seperti dulu.

Sebenarnya ia sudah mengenali Sekar sejak pertama menatapnya di ruang BK. Namum keyakinannya yang belum terkumpul seratus persen, membuat ia tidak serta merta menyapa Sekar selayaknya orang yang pernah kenal sebelumnya.

Hadi mengernyit. Ia mencoba menyusun kembali potongan-potongan ingatan yang berantakan. Meski setiap kali hampir menemukan ujungnya, semuanya kembali kabur. Namun akhirnya gambar itu utuh juga.

“Apakah aku harus berterus terang? Haruskah kusampaikan semuanya?” batinnya.

Ia mengambil ponsel dari saku jaketnya, lalu membuka WhatsApp. Nama Bu Sekar sudah tersimpan sejak pihak sekolah menghubunginya beberapa hari lalu. Jempolnya berhenti di tombol panggil. Menggantung beberapa mili dari layar ponsel.

Lalu ia mengurungkan niat. Layar kembali gelap secara otomatis.

“Harus gimana ngomongnya ya?” gumamnya dalam hati.

Ia menarik napas panjang. Membuka WhatsApp lagi.

“Ya udah lah, telepon aja dulu. Tar juga mulut lancar sendiri, ngomong, kalau udah nyambung,” ucapnya yakin, atau sekedar meyakinkan diri sendiri.

Kali ini ia tekan tombol menelepon. Didekatkannya ponsel ke telinga. Nada dering panjang terdengar. Berhenti, lalu berdering lagi. Berhenti lagi lalu berdering lagi. Seperti itu sebanyak beberapa kali.

Tidak diangkat. Akhirnya ia memutuskan untuk menekan gambar telepon berwarna merah. Telepon terputus.

Hadi diam mematung beberapa saat. Matanya terus menatap kosong ponsel di tangannya, sebelum akhirnya ia tekan kembali gambar gagang telepon.

Nada dering panjang kembali terdengar beberapa kali. Masih tidak ada respon juga. Ia kembali menutup panggilan. 

Setelah diam beberapa saat, kali ini ia memilih mengetik.

Assalamualaikum.

Bu Sekar, mohon maaf mengganggu.

Apakah bisa saya telepon?

Ia membaca pesan itu berulang kali.

Lihat selengkapnya