TEPAT pukul sebelas, saat Sekar tengah berada di ruangannya, satu pesan dari Hadi masuk lagi. Mengabarkan bahwa ia sudah berada di lokasi. Bahkan, ia kembali menyertakan tautan lokasi tempatnya menunggu.
Sekar membuka tautan itu, memperbesarnya di Google Maps, memastikan detail lokasi. Setelah yakin tahu lokasi yang dimaksud, ia kembali ke halaman percakapan. Ditatapnya layar ponsel beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Ia tidak langsung membalas. Jarinya sempat menggantung di atas papan ketik beberapa saat, lalu mengetik singkat.
“Saya berangkat.”
Ia menutup laptopnya, lalu membereskan beberapa buku dan berkas administrasi guru yang menumpuk di atas meja. Pohon lili paris di pot kecil di sudut meja tak luput dari sentuhannya. Sekadar digeser, memastikan posisinya presisi.
Ia melirik jam yang menempel di dinding. Pukul sebelas.
Sekar beranjak. Ia berjalan ke arah cermin yang menggantung di satu sisi ruangan, mematut diri sekadarnya, lalu meraih tas tangan di atas meja dan menyampirkannya ke bahu.
Perjalanan menuju kafe ia tempuh hampir tanpa sadar. Jalanan siang itu padat, tetapi pikirannya lebih penuh. Bukan hanya Hadi yang memenuhi benaknya, melainkan segala kemungkinan yang menunggu di balik pertemuan itu.
Dari pertigaan jalan raya utama, Sekar berbelok ke kiri. Lima menit kemudian, ia tiba di lokasi. Sebuah kafe dua tingkat dengan dinding bata merah ekspos, berpadu dengan aksen jendela dan pintu berwarna hitam. Kaca-kaca besar membuat bagian dalam kafe terlihat jelas dari luar.
Kafe itu tidak terlalu ramai meski sudah masuk jam makan siang. Hanya beberapa meja yang terisi. Dari luar, Sekar coba mencari sosok Hadi di lantai satu, namun ia tak menemukannya.
Di ambang pintu, seorang pelayan berseragam kemeja cokelat dan celana panjang hitam menyambut ramah, telapak tangan dirapatkan di depan dada.
“Selamat datang. Mau pesan langsung atau cari tempat duduk dulu?” sapanya, ramah.
Sekar tersenyum tipis. “Saya ada janji,” jawabnya.
“Oh, silakan, Bu.”
Sekar melangkah masuk. Tak mendapati Hadi di lantai satu, ia segera naik ke lantai dua.
Di ujung tangga di lantai dua, Sekar berdiri sesaat mengedarkan pandang. Tak butuh waktu lama, ia menangkap sosok Hadi di pojok ruangan. Seorang lelaki duduk menghadap ke arah luar. Pandangannya menembus kaca jendela besar berbingkai kusen aluminium hitam.
Hadi berdiri saat melihat Sekar mendekat.
“Bu Sekar,” katanya, sedikit kikuk.
Sekar mengangguk. “Pak Hadi.”
Mereka duduk berhadapan. Terpisah sebuah meja kayu.
“Terima kasih sudah mau datang,” ujar Hadi, memecah hening.
Sekar hanya mengangguk.
“Mau langsung pesan makan?” sambung Hadi.
Sekar sekilas melirik secangkir kopi hitam yang sudah tersaji di depan Hadi.
“Hmmm… bebas,” jawabnya.
Hadi memanggil pelayan.
“Greentea aja,” ujar Sekar.
“Makannya,” Hadi menyambar.
“Gausah. Minum aja.”
“Ok, kalo gitu tambah toast bread aja,” Hadi melengkapi.
Selepas pelayan kafe balik badan, Hadi menarik napas.
“Sebelumnya… Saya mau minta maaf dulu. Jujur, hmmm… kemarin itu, ketika di sekolah, saya seperti mengenal Bu Sekar,” ucapnya, setelah basa-basi sesaat.
Sekar menatapnya, menunggu lanjutan kalimat Hadi.
“Saya pengen bilang, tapi ragu. Takut salah orang.”
Hadi berhenti sejenak. Sekar menunggu.
Ia menyadari, jika dilihat dari dekat, ada garis-garis wajah yang mengingatkannya pada seseorang yang pernah ia kenal.
“Dan lagi, kemarin situasinya formal. Antara guru dan orang tua siswa. Terlebih, saya diundang ke sekolah sebagai orang yang anaknya bermasalah. Hehe…,” sambungnya.
Sekar tersenyum.
“Kalau boleh tau, bapak mengenal saya di mana ya? Atau…, kita pernah ketemu di mana?”
Kalimat itu bukan sekadar pertanyaan. Tapi lebih kepada, Sekar ingin mengonfirmasi dugaan yang selama ini mengendap di benaknya tentang Hadi.
“Kita pernah satu SMA dulu,” ucap Hadi.
Sekar mengernyit.
“Di Semarang,” lanjut Hadi.
Sekar mencoba mengingat.
“Saya satu angkatan di atas Bu Sekar.”