Sekar

Galih Priatna
Chapter #16

Taman Sekolah

SIANG itu, Sekar tidak kembali ke sekolah. Ia memutuskan untuk langsung pulang ke kontrakan. Hati dan pikirannya kacau sekacau-kacaunya. Ia takut kalau kembali ke sekolah lagi, kondisinya akan mengundang pertanyaan dari orang-orang. Guru, murid, atau paling tidak Bu Mira, pasti akan menyadari perubahan kondisinya siang itu.

Sesampainya di rumah, ia sudah tidak punya tenaga untuk melakukan apa pun. Dirubuhkannya tubuhnya di sofa ruang tengah. Tas dibiarkan terjatuh di lantai, sepatu masih menempel di kaki. Ia tak peduli.

Sekar memejamkan mata, namun justru di sanalah semuanya muncul lebih jelas. Nada bicara Hadi yang sedikit bergetar, dan setiap kalimatnya yang terasa menusuk meski tidak menyalahkan, terus berputar-putar di dalam kepalanya.

Lambat laun, akhirnya Sekar larut juga dalam kantuk. Matanya terpejam. Ia terlelap.

Dalam tidur, Sekar bermimpi sedang berada di rumah lamanya. Rumah saat ia masih SMA. Dalam mimpi itu ia baru saja pulang sekolah. Seragamnya lusuh, kotor. Tubuhnya lelah.

Setiba di ambang pintu, ia mendapati ibunya tengah duduk di kursi ruang tamu. Tubuhnya tampak sehat. Terlihat bugar. Sang ibu menatapnya dengan tatapan teduh, dengan senyuman yang tulus. Namun entah mengapa, senyuman itu membuat Sekar sedih. Membuatnya merasakan satu perasaan yang sulit ia jelaskan.

Sekar mencium tangan ibunya. Ibu lalu meraihnya, memeluknya.

“Capek ya, nak?” tanya ibunya lembut.

Sekar hanya terisak. Tidak menjawab sepatah katapun. Pelukannya menguat, dekapannya semakin erat.

Anehnya, ketika ia melepaskan dekapan lalu bersimpuh di kaki ibunya, Sekar melihat sesosok laki-laki berjalan mendekat.

Danang.

Pada waktu yang sama, Sekar tahu ia sedang bermimpi. Setengah kesadarannya mengakui itu. Namun kebingungan tetap menyergap. Mengapa Danang ada di situ?

Sekar menatapnya lebih lama. Ada kemiripan yang membuat dadanya sesak. Cara berdiri, cara menghindari tatapan, semuanya terasa seperti potongan dirinya sendiri yang terlepas, berdiri di hadapannya dalam wujud lain.

Danang mendekat. Ia tersenyum, lalu melakukan gerakan seperti membuka jam tangan di pergelangan tangannya. Jam tangan dengan tali kulit berwarna cokelat. Lalu ia menyerahkannya kepada Sekar.

Sekar menerima jam itu, memandanginya lekat-lekat.

“Ingat, Nak. Waktu bisa menjadi sahabatmu, tapi waktu juga bisa membunuhmu,” ucap Ibu Sekar. Senyumnya masih mengembang.

Senyum itu. Senyum yang sama, yang bahkan masih terukir di wajah sang ibu pada saat-saat terakhirnya. Saat Sekar melepasnya di pangkuannya. Senyum itu tak berubah, meski tatapannya telah lama kosong.

Sekar kembali memandangi jam tangan di genggamannya. Kilau logamnya, memantul ke mata. Menyilaukan. Semakin lama semakin terang. Semakin menyilaukan. Silau…

Hingga akhirnya Sekar terbangun. Silau cahaya matahari sore yang menembus jendela, menusuk matanya. Napasnya tidak teratur. Tubuhnya bersimbah keringat. Matanya basah. Sisa-sisa air mata dalam mimpi itu nyata.

Pandangan Sekar memburu jam yang menempel di dinding. Pukul setengah lima. Ia tak ingat berapa lama tertidur. Mungkin tiga jam, mungkin empat.

Ia duduk bersandar di sofa. Mencoba merangkai kembali setiap detail di mimpinya. Wajah ibunya masih terasa nyata. Tiba-tiba, rasa rindu itu menyeruak. Rindu kepada sang ibu yang sudah meninggalkannya sejak ia duduk di tingkat dua kuliah.

Sekar bahkan lupa kapan terakhir kali mengunjungi makam ibunya. Ia menghela napas. Dikirimkannya doa dalam diam, untuk perempuan tangguh yang tetap bertahan meski disakiti terus-menerus oleh sosok suami yang dicintainya. Perempuan yang pada akhirnya harus kehilangan sebagian kesadarannya, namun tak pernah kehilangan senyum untuk anak-anaknya.

***

Setelah sedikit menguasai diri usai mimpi yang janggal itu, Sekar berjalan gontai ke dapur. Diraihnya segelas air, diminumnya perlahan.

Saat kembali ke ruang tamu, pandangannya tertumbuk pada tas yang tergeletak di lantai. Ia meraihnya, membuka tas itu, lalu mengeluarkan jam tangan bertali kulit cokelat.

“Hari itu… hari ketika aku bersama Hadi,” gumamnya, nyaris tanpa suara.

“Aku harus kembali ke sore itu. Akan kuubah satu hal,” ucapannya terhenti.

Lihat selengkapnya