Sekar

Galih Priatna
Chapter #17

Keputusan yang Mengubah

SEKAR bangkit. Mencoba sekali lagi. Dengan ingatan yang lebih rapi. Dengan niat yang lebih tenang. Ia mengucapkan tanggal itu di kepalanya berkali-kali, seperti mantra. Enam belas Februari. Lalu memutar knop jam perlahan. Seketika dunia kembali terlipat.

Dan, lagi-lagi, Sekar tidak mendarat di tempat yang ia tuju.

Udara terbuka menyambutnya. Suara riuh, tawa, teriakan, langkah kaki, bercampur. Taman sekolah.

Sekar memejamkan mata beberapa saat. Dadanya masih terasa berat oleh percakapan dengan Hadi beberapa jam lalu. Anehnya, meski ia tahu dirinya sedang berada di waktu hampir dua puluh tahun di masa lalu, beban itu masih tetap terasa. Suara Hadi masih menggema di kepalanya. “Danang tumbuh bersama ayah seperti aku.”

Sekar membuka mata perlahan.

Udara sore, taman sekolah, bangku-bangku semen, dan riuh siswa menyambutnya seperti mimpi yang terlalu nyata.

Ia menoleh ke kanan dan kiri.

Dan lagi.

Bukan kamar Hadi.

Bukan hari yang ia tuju.

Ada sesuatu yang tidak beres. Bukan pada ingatannya. Bukan pula pada tanggal yang ia pilih. Melainkan pada jam itu sendiri.

Belum sempat ia memahami semuanya,

“Eh, lihat tuh. Ya ampun, gantengnya,” celetuk Neti. Matanya menyorot ke depan, alisnya naik-turun memberi isyarat, cukup untuk memberi tahu siapa yang ia maksud.

Seorang siswa laki-laki yang sedang berjalan di sisi lapangan, agak jauh dari posisi mereka.

“Siapa-siapa?” buru Ciput.

“Itu tuh. Cool banget,” jawab Neti.

“Oh, Kak Hadi?” tanya Ciput lagi.

“Iya.”

“Ah, elu mah tiap-tiap cowok juga ganteng. Emang gatel lu,” Ciput ngakak, sambil noyor kepala Neti.

“Aduh…duh, Yee…, emang ganteng kali,” sungut Neti.

“Anak basket lagi. Duh, suka deh,” sambungnya.

Sekar ikut melirik sekilas, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan.

“Eh kayaknya dia ke sini,” ucap Ciput.

“Masa sih? Eh iya loh, ke sini. Duh, gimana dong,” Neti salah tingkah.

“Hahaha, kenapa lu? Jadi elu yang ribet,” Ciput ketawa ngakak.

Lihat selengkapnya