AZAN subuh merambat pelan, menembus ruang dan kesadaran Sekar sebelum matanya benar-benar terbuka. Sekar bangun, lalu duduk di tepi ranjang. Napasnya masih berat, seolah ada sesuatu yang tertinggal di antara detik-detik yang baru saja dilewati.
Jam di dinding berdetak biasa. Tidak ada kelebatan cahaya aneh. Tidak ada tarikan waktu.
Sekar berada di masa kini.
Ia menunduk, memijat pelipis. Di kepalanya, ingatan tentang taman sekolah, tawa Neti, dan penolakan kecil yang ia ucapkan kemarin, atau dua puluh tahun lalu, masih terasa nyata.
“Ini mimpi, atau…,” batinnya.
Diliriknya jam di pergelangan tangan. Masih setia di posisinya.
Seperti yang selalu terjadi, jarum detiknya bergerak merambat, namun jarum jam dan menit tertahan di angka yang sama: 03.30.
Sekar menarik napas panjang.
Ia percaya bahwa ia telah mengubah sesuatu. Namun keinginan sering kali lebih mudah datang daripada kepastian. Nanti, ketika hari berjalan seperti biasa, barulah ia tahu bahwa keyakinan dan kenyataan tidak selalu berjalan searah.
Sekar menjalani rutinitas pagi tanpa banyak pikir, lalu bergegas ke sekolah.
Di kursi teras, sambil mengenakan sepatu ia kembali membuka note di ponselnya. Memeriksa jadwal hari ini. Cukup padat. Hanya tersisa dua jam kosong. Sekar berencana menggunakan dua jam kosong itu untuk mempertemukan Hadi dengan orang tua Selly.
“Mudah-mudahan bisa,” batinnya. Ia teringat undangan panggilan untuk Hadi belum diserahkannya kemarin.
Ia merasa bahwa pertemuan itu akan berat. Mendudukkan dua pihak yang sedang bermasalah di satu kursi, lalu membuatnya berdamai, bukanlah perkara mudah. Terlebih setelah pertemuannya dengan Hadi di kafe, kemarin. Sekar merasa bebannya bukan hanya pada mendamaikan dua pihak yang berselisih saja, namun juga mendamaikan hatinya sendiri ketika bertatapan dengan Hadi.
Sesampainya di sekolah:
“Bu Mir, bisa minta tolong?” ucap Sekar kepada Bu Mira yang tengah mengerjakan sesuatu di laptopnya.
“Iya, Bu. Kenapa?”
“Tolong hubungi orang tua Danang, untuk pemanggilan hari ini.”
“Lho, surat pemanggilan kemarin?”
“Belum sempat saya kasihkan. Kemarin kelupaan.”
Sekar beralih menghadap ke Bu Mira yang duduk di kursi kerjanya.
“Maap ya. Pliss,” ucap Sekar. Kedua telapak tangannya saling bertemu di depan dada.
“Ya udah, saya WA-kan sekarang.”
“Makasih ya. Saya ke kelas dulu.”
Sekar pun berlalu.
Sebenarnya Bu Mira ingin sekali bertanya, kenapa tidak Sekar saja yang menghubungi orang tua Danang. Namun ia memilih untuk tidak melakukan itu. Dilakukannya apa yang diminta Sekar. Menghubungi ayah Danang melalui Pesan WhatsApp.
***
Pertemuan di dua kelas berturut-turut pagi itu usai sudah. Sekar baru saja keluar dari kelas ke dua, saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari seorang petugas piket, bahwa ada tamu yang hendak menemuinya, yang sudah menunggu di ruang konseling.
Sekar menarik napas dalam, melirik pantulan dirinya di jendela kelas yang dilaluinya, sedikit mematut penampilan, lalu lanjut berjalan kembali.
“Semoga yang datang pertama adalah orang tua Selly, sehingga aku gak perlu berlama-lama dengan Hadi,” gumamnya dalam hati.
Sekar mendorong pintu ruang konseling perlahan. Ayah dan ibu Selly sudah duduk berdampingan di kursi tamu yang panjang. Sementara dua kursi lainnya masih kosong.
Sekar bersyukur, karena itu sesuai harapannya tadi.
Ibu Selly berdiri lebih dulu saat melihat Sekar masuk.