SEMINGGU berlalu dalam ketenangan yang hampir terasa mencurigakan. Sekar kembali pada ritme hari-harinya: masuk kelas, mencatat laporan, mendengarkan keluhan yang datang silih berganti dengan wajah-wajah remaja yang selalu berubah. Hanya ada satu hal yang masih mengusik ketenangannya. Hadi.
Setiap hari Hadi selalu menelepon, mengiriminya pesan WA. Dalam sehari, ia bisa menelepon dan mengirim lebih dari sepuluh pesan WA. Dan, Sekar selalu mengabaikannya.
Dalam sepuluh pesan Hadi itu, sepuluh kali pula dia meminta maaf, meminta untuk bisa menjalin hubungan baik dengan Sekar, bahkan bila mungkin, merajut kembali rasa yang dulu pernah ada. Jika dalam sehari ia mengirim lima belas pesan, maka lima belas kali pula ia menyatakan hal yang sama. Pokoknya, berapa pun jumlah pesannya hari itu, isinya selalu sama.
Hal itu yang membuat Sekar akhirnya memutuskan untuk mengganti nomor. Membeli kartu SIM baru. Bukan hanya karena lelah, tapi karena ia ingin memastikan bahwa tidak ada lagi pintu yang bisa dibuka kembali.
Sekar mulai percaya, keputusan kecil yang ia ubah di masa lalu benar-benar menggeser sesuatu. Barangkali hidup memang tidak langsung berubah besar-besaran. Namun paling tidak, Danang yang ia kenal sekarang tak lagi harus tumbuh menjadi anak yang sama. Dalam bayangannya, ia kini tumbuh menjadi anak biasa-biasa saja. Tidak istimewa, tapi juga tidak bermasalah.
Hingga kemudian:
Pagi itu, Sekar baru saja menutup buku presensi ketika pintu ruang BK diketuk pelan. Ketukannya ragu, nyaris seperti ingin dibatalkan.
“Masuk,” kata Sekar.
Seorang siswi berdiri di ambang pintu. Seragam putih-abu-abunya rapi, tapi kedua tangannya saling menggenggam erat. Matanya menunduk, bahunya sedikit terangkat, seolah sedang menahan napas terlalu lama.
“Kamu bisa duduk,” ujar Sekar lembut, menunjuk kursi di depannya.
Siswi itu duduk perlahan. Beberapa detik berlalu tanpa suara.
“Namamu siapa?” tanya Sekar akhirnya.
“Nara, Bu,” jawabnya pelan.
“Kelas?”
“Kelas sepuluh dua.”
Sekar mengangguk.
“Ada yang ingin kamu ceritakan?” lanjutnya.
Nara mengangguk, ragu-ragu.
“Saya… saya sebenarnya bingung harus cerita ke siapa.”
“Kamu tidak perlu cerita semuanya sekaligus,” kata Sekar. “Pelan-pelan saja.”
Nara menarik napas dalam. “Ada kakak kelas, Bu.”
Nara menelan ludah.
“Dia… sering ngomong yang bikin saya nggak nyaman. Awalnya saya kira bercanda. Tapi kemarin…” ia berhenti, matanya berkaca-kaca.
“Dia nyentuh saya. Saya langsung menjauh.”
Sekar tidak memotong. Tidak juga langsung bereaksi.
“Kamu melakukan hal yang benar,” katanya setelah jeda. “Apa kamu bilang tidak?”
Nara mengangguk cepat. “Saya bilang jangan. Saya langsung pergi.”
“Dan setelah itu?”
“Saya takut, Bu. Takut ketemu dia lagi. Takut dibilang lebay.”
Sekar mencatat satu baris pendek. Lalu ia menatap Nara lagi.
“Kamu tidak berlebihan. Dan kamu tidak salah.”
Air mata Nara akhirnya jatuh. Ia buru-buru mengusapnya dengan lengan baju.
Sekar mendorong kotak tisu ke arahnya. “Terima kasih sudah berani datang. Ini bukan hal yang mudah.”
Nara mengangguk sambil terisak kecil.
“Siapa nama anak itu?” tanya Sekar.
Nara diam sejenak. Ia nampak sedikit ragu.
“Gak apa-apa. Sebut aja,” bujuk Sekar.
“Namanya…”
Kembali diam.
Sekar tidak memaksa.