Hari sudah menjelang Magrib, namun cahaya matahari masih cukup terang, melukiskan semburat warna jingga di langit bagian barat. Sekar duduk di sebuah Coffee Shop. Kali ini ia yang memilihkan tempat, dan ia pula yang datang lebih dulu ke tempat itu.
Sekar memilih satu spot terbuka di pojok. Dari tempatnya duduk, ia bisa memandangi ikan koi besar yang berada di kolam tepat di bawahnya. Sekaligus juga bisa memandang ke arah pintu masuk, sehingga ia bisa langsung melihat saat Hadi datang.
Sekar membiarkan pandangannya mengikuti gerak koi-koi di kolam. Ikan-ikan itu berenang memutar, tenang, seolah dunia selalu berjalan dengan ritme yang bisa ditebak. Ia berharap pikirannya bisa sesederhana itu. Tapi tidak.
Tangannya melingkar di cangkir kopi yang sudah mulai berkurang hangatnya. Ia tidak benar-benar berniat meminumnya. Hanya butuh sesuatu untuk dipegang. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya seketika.
Ini cuma pertemuan, katanya pada diri sendiri. Aku yang memilih tempat. Aku yang mengatur jarak. Namun bayangan itu tetap datang, menyusup dari celah-celah yang tidak dijaga, membawa rasa gugup yang tidak dapat dijelaskan.
Seminggu terakhir sempat memberinya harapan. Bahwa perubahan kecil memang bisa menggeser garis hidup. Bahwa tidak semua hal harus berakhir sama. Tapi laporan Nara mematahkan keyakinan itu, seperti kaca yang retak dari dalam.
“Kalau perubahan yang kulakukan benar-benar menghapus sore itu... kenapa Danang masih sama?” batin Sekar.
“Apa yang sebenarnya belum berubah? Atau... selama ini aku mengubah bagian yang salah?”
Angin sore bergerak pelan, membawa aroma air kolam dan kopi. Sekar merasakan pundaknya menegang, lalu ia sengaja melonggarkannya. Tidak lama kemudian, ia menangkap sosok Hadi melalui pintu masuk. Ia mengangkat kepala sedikit, cukup untuk memastikan. Dadanya berdebar, tapi wajahnya tetap tenang.
“Apa pun yang akan Hadi katakan nanti, aku harus tetap duduk di kursi ini. Tetap hadir. Tetap utuh,” tegasnya dalam hati.
Ia menyiapkan diri. Bukan untuk jawaban yang ia inginkan, melainkan untuk jawaban yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya, yang akan mengubah cara ia memandang masa lalu.
Hadi menarik kursi di hadapan Sekar dan duduk. Bunyi kakinya menggesek lantai kayu terdengar canggung, lalu berhenti. Ia tidak langsung menatap Sekar. Tangannya bertumpu di meja, jari-jarinya saling mengunci, lalu terlepas lagi.
Sunyi menggantung.
Sekar menunggu. Ia membiarkan jeda itu ada. Cukup lama sampai Hadi akhirnya mengangkat kepala.
“Sore,” katanya singkat.
“Sore,” balas Sekar.
Tak ada basa-basi. Tak ada senyum.
Hadi hanya mengangkat tangan dan mengangguk tipis, saat satu pelayan menghampiri dan menawarkan menu untuk dipesan.
Sekar mengatur napas, lalu bicara dengan nada yang tetap datar dan terukur. Hampir sama dengan di pertemuan sebelumnya.
“Saya ingin menyampaikan satu hal yang penting,” katanya. “Tentang Danang.”
Hadi mengangguk kecil. “Silakan.”
“Dari hasil konseling,” lanjut Sekar, “Danang melakukan itu bukan karena dorongan sesaat. Ia meniru.”
Hadi menegang tipis, tapi tidak menyela.
“Ia meniru apa yang ia lihat dari figur terdekatnya,” kata Sekar lagi. “Dalam hal ini, ayahnya sendiri.”
Kalimat itu meluncur persis seperti pertemuan sebelumnya. Tidak ada penekanan baru. Tidak ada emosi tambahan. Seolah Sekar benar-benar baru mengatakannya untuk pertama kali.