Pagi datang seperti hari-hari sebelumnya. Sangat biasa, namun Sekar merasakan tubuhnya sangat berat, seperti menyimpan sisa-sisa hari kemarin di setiap sendi dan ototnya.
Ia tiba di sekolah saat bel pelajaran pertama belum berbunyi. Halaman masih lengang, hanya beberapa murid yang berjalan santai dengan tas disampirkan seadanya. Ia melangkah melewati koridor menuju ruang BK.
Ruang itu menyambutnya dengan bau kertas dan lembap. Sekar menaruh tas, duduk di kursinya, dan kembali meregangkan otot. Ia membuka buku agenda, lalu berhenti sejenak.
Ia menghela napas pelan.
Nyatanya, seberapa pun letihnya kita, waktu tetap berjalan. Hidup harus terus berlanjut. Demikian pula pagi itu. Seberapa pun remuknya Sekar, dua jam pertama di ruang itu tetap berlalu, dengan mengisi administrasi, mengisi laporan, menjawab pesan singkat dari wali kelas. Ia melakukan semuanya dengan rapi. Bahkan terlalu rapi, di tengah kondisi pikirannya yang sedang kacau.
Sejak Sekar duduk di meja kerjanya pagi itu, tak terhitung pesan WhatsApp yang masuk. Baik dari nomor yang ia kenal, maupun tidak. Notifikasi dari grup-grup terus bermunculan, bertumpuk tanpa ia sentuh. Sekar membiarkannya. Di kondisi pikiran dan batinnya yang sedang tidak baik-baik saja, ia memilih untuk tidak berinteraksi dengan siapa pun, termasuk di media sosial dan grup WA.
Tiba-tiba ponselnya bergetar lagi. Satu pesan masuk.
Sekar melirik nama yang muncul di layar. Kepala Sekolah. Diraihnya ponsel, lalu segera membuka pesan itu. Andai saja pesan itu bukan dari Kepala Sekolah, ia pasti akan mengabaikannya juga.
Pagi Bu Sekar. Ditunggu di ruangan saya ya, sekarang.
Baik, Bu, balas Sekar.
Ia pun bergegas.
Sesampainya di ruang Kepala Sekolah, Sekar mendapati di sana sudah berkumpul Kepala Sekolah bersama empat orang wakil dan staf bagian kepegawaian.
“Duduk, Bu Sekar,” ucap Kepala Sekolah.
Sekar mengambil posisi duduk di samping Staf Kepegawaian, berhadap-hadapan dengan Kepala Sekolah.
“Begini, kami sedang membahas tentang Pak Amran,” sambung Ibu Kepala Sekolah.