Sekar

Galih Priatna
Chapter #22

Kabar Dari Adik

SORE itu, cahaya matahari jatuh miring ke lantai, memanjang layaknya sisa-sisa hari yang enggan benar-benar pergi. Sekar masih duduk di kursinya. Ruangan sudah lebih lengang, suara langkah beberapa petugas kebersihan yang masih bergelut dengan lantai dan sampah sesekali terdengar lalu hilang di ujung koridor.

Ia baru membuka ponselnya.

Deretan pesan WhatsApp yang sejak pagi diabaikan kini memenuhi layar. Beberapa panggilan tak terjawab. Ada yang berulang. Ada yang hanya sekali saja. Dari nama-nama yang dikenalnya, maupun nomor-nomor yang tidak dikenal. Sekar menggeser layar perlahan, tanpa tergesa, seolah sedang memilih mana yang cukup aman untuk dibaca lebih dulu.

Satu pesan menghentikan jarinya.

Nomor tidak dikenal.

Isinya singkat, tapi terasa penuh sesak.

Mbakyu… Bapak sudah meninggal.

Dari pagi aku nelpon, WA berkali-kali tapi Mbak nggak jawab. Kenapa, Mbak?

Sekar membaca pesan itu sekali. Lalu sekali lagi. Kalimat-kalimat itu tetap sama, tak berubah, tak memberi ruang untuk salah tafsir. Dadanya mengencang. Tangisnya tidak keluar. Atau mungkin belum keluar.

Di layar, masih terlihat jejak-jejak panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Panggilan yang pagi tadi ia abaikan. Nomor yang tak ia kenali. Nomor yang belum sempat ia simpan, karena nomor ini baru, karena ia sengaja menutup pintu, karena ia terlalu yakin pada pilihannya sendiri.

Sekar menurunkan ponselnya perlahan.

Di luar, hari terus bergerak menuju senja. Dan untuk kali ini Sekar menyadari, ada kabar yang tak bisa menunggu kesiapan siapa pun.

Butiran air tiba-tiba keluar begitu saja dari kelopak matanya. Menetes perlahan. Sebenci apa pun ia kepada sang ayah, tetap tak mampu menahan air itu keluar.

Disekanya buru-buru air yang menggantung di mata dan yang sudah terlanjur menetes di pipi. Namun, seberapa keras pun ia menghapus air itu, tetap saja keluar lagi dan lagi. Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan. Ada logika seketika yang runtuh.

Sekar duduk diam cukup lama. Ponsel itu masih di genggamannya, layar sudah menggelap. Di luar jendela, sore bergerak pelan menuju malam.

Getar kecil membuatnya tersentak.

Nomor yang sama.

Ia ragu sejenak, lalu menjawab panggilan itu.

Lihat selengkapnya