MALAM merangsek hadir tanpa banyak suara. Sekar duduk di tepi ranjang, punggungnya bersandar ke dinding, lampu kamar dibiarkan mati. Hanya cahaya dari luar jendela yang masuk, tipis dan dingin. Jam tangan itu ada di genggamannya.
Sejak kabar itu datang, Sekar belum benar-benar tidur. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya menolak diam. Ada satu dorongan yang terus kembali, berputar di tempat yang sama, seperti luka yang disentuh berulang kali.
Ia menunduk, menatap jam itu.
Sekali lagi saja, pikirnya.
Bukan untuk mengubah apa pun.
Bukan untuk menyelamatkan. Bukan untuk memperbaiki.
Ia hanya ingin kembali sebentar. Ke satu waktu yang sangat biasa.
Bukan hari di mana ayahnya sakit. Bukan hari ibunya meninggal. Bukan hari pertengkaran atau kejadian besar. Sekar memilih satu hari selepas Magrib. Ketika ayah duduk di ruang tengah, sarungnya dilipat rapi, mushaf terbuka di pangkuan. Suaranya pelan melantunkan ayat suci. Nyaris berbisik. Tidak tergesa. Tidak juga lantang. Namun mampu membangunkan Sekar yang tertidur sejak sore, menjelang magrib. Kebiasaan yang sulit sekali ia hindari, meski seringkali ibu dan ayahnya mengingatkan untuk tidak melakukan itu.
“Uda sore, Nduk. Jangan tidur. Pamali,” satu waktu ibunya mengingatkan.
Namun perut yang sudah terisi setelah makan sore dengan nasi hangat, dan badan segar selepas mandi, membuat mata terasa berat dan godaan untuk tidur sulit ditolak.
Sore itu, selepas magrib, Sekar keluar kamar. Tangan kanannya menjinjing boneka kelinci berwarna pink sementara tangan kirinya ngucek-ngucek mata yang masih sepet. Di ambang pintu kamar, ditatapnya lama-lama ayah yang sedang mengaji, sementara ibu sedang menyibukkan diri di dapur menghangatkan makan malam ayah, masih dengan mukena yang melekat di tubuhnya.
Masih sambil mengucek mata, Sekar berjalan limbung, sambil sesekali menguap. Ia hampiri ayahnya, lalu kepalanya rebah di paha ayahnya. Tangan ayah menyambutnya. Memeluk tubuh kecil Sekar. Saat itu umurnya belum genap lima tahun, saat segala sesuatunya tentang ayah, ibu dan rumah begitu indah.
Sekar ingin mengulang sore itu. Memeluk ayahnya lebih lama. Lebih erat lagi.
Sekar memejamkan mata.
Tangannya menggenggam jam itu, seperti biasa. Ia memutar knop kecil itu perlahan, sampai jarum jam berhenti di satu titik yang hanya ia pahami sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara memenuhi dada, lalu mengembuskannya perlahan. Menghitung. Lalu memijit knop kecil itu. Membiarkan ingatan memandunya.
Satu.
Dua.
Tiga.