PAGI itu datang tanpa suatu keajaiban. Tidak ada sensasi jatuh. Tidak ada tarikan ke belakang. Tidak ada pergeseran cahaya, atau denyut aneh di pergelangan tangan. Jam dinding di kamar Sekar berdetak seperti biasa. Satu detik, lalu detik berikutnya. Tenang, nyaris acuh.
Sekar terbangun dengan mata sembab dan kepala berat. Tubuhnya terasa asing, seolah semalam ia melewati sesuatu yang panjang, tapi tidak meninggalkan bekas di dunia mana pun selain dirinya sendiri.
Ia duduk di tepi ranjang cukup lama. Tidak langsung bangun. Tidak juga menangis. Hanya diam, mendengarkan napasnya sendiri, memastikan ia masih di sini.
Jam tangan itu tergeletak di meja kecil.
Diam.
Tidak bersinar. Tidak memanggil.
Sekar menatapnya sebentar, lalu mengalihkan pandangannya.
Ia mandi, bersiap, mengenakan pakaian kerja seperti hari-hari sebelumnya. Semua gerakannya terasa sederhana. Terlalu sederhana, untuk seseorang yang pernah melintasi waktu berkali-kali.
Di dapur, ia menyeduh teh. Uapnya naik perlahan, lalu menghilang. Sekar memegang cangkir itu dengan dua tangan, seperti anak kecil yang takut menjatuhkan sesuatu. Untuk sesaat, ia teringat ayahnya. Cara ayah meniup teh yang masih panas, cara ia selalu menunggu sebelum menyesap.
Sekar tersenyum kecil. Senyum yang tidak utuh, tapi jujur.
Hari berjalan.
Sekar berangkat ke sekolah. Menyapa satpam. Menjawab sapaan guru lain dengan anggukan singkat. Ia duduk di ruangannya, membuka laci, merapikan kertas-kertas yang sebenarnya sudah rapi.
Tidak ada yang berubah di luar. Yang berubah, hanya cara ia berada di dalamnya.
Seorang murid datang, meminta waktu bicara. Cerita tentang rumah yang tak lagi ramah, tentang orang tua yang sibuk bertengkar, tentang rasa ingin menghilang. Sekar mendengarkan tanpa menyela. Tanpa solusi cepat. Tanpa kalimat bijak.
Hanya mendengarkan.
Di satu titik, murid itu berhenti bicara dan bertanya pelan,