“Aku punya ide!"
Satu kalimat sederhana yang belakangan ini sering bergeser makna di media sosial, menjadi konotasi untuk hal-hal yang kelewat batas, tak sopan, atau mesum. Jadi, saat Matthew melontarkan kalimat itu di depan wajahnya, Lucia langsung menaruh curiga. Apa pria ini salah satu dari netizen berotak mesum?
Bagaimana tidak? Saat ini mereka sedang berdua di dalam ruang penyimpanan pantry kantor yang sepi. Berdiri berhadapan, begitu dekat hingga Lucia bisa mencium aroma samar parfum Matthew.
Lagipula, meski belakangan ini hubungan mereka membaik, fakta mutlaknya tidak berubah: mereka adalah dua manusia yang saling membenci lebih dari siapapun. Pertemuan kembali yang tak diinginkan, ditambah lingkungan kerja yang terus bersinggungan, adalah siksaan harian. Mereka bahkan pernah berada di titik ekstrim dimana melihat satu sama lain makan dengan tenang saja sudah memicu hasrat ingin menaburkan segenggam garam ke piring masing-masing.
"Kita pura-pura pacaran," sambung Matthew tenang.
Detik itu juga, Lucia merasakan gelombang mual. Itu adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya. Bagaimana mungkin ia berpura-pura menjadi kekasih dari pria yang enam tahun lebih muda darinya, sekaligus objek kebencian murninya?