Sekat Dalam Asa

Arisyifa Siregar
Chapter #2

1. Satu Rusak, Satu Datang

Kretak!

Sebuah suara kecil, nyaris tertelan riuh langkah kaki ribuan manusia di peron Stasiun Sudirman. Namun, suara itu cukup untuk membuat jantung Lucia Andrea mencelos. Tubuhnya tinggi kurus. Wajahnya kaku, rahangnya lancip. Mata sipit nya memicing, seperti kucing yang terusik tidurnya.

Di bawah sana, sebelah TWS putihnya jatuh dan langsung diinjak tanpa ampun oleh sepatu-sepatu orang yang bergegas mengejar waktu. Retak. Remuk. Hancur.

“Aaagh!” Keluhan itu tertahan di kerongkongan Lucia, hanya terdengar oleh dirinya sendiri. 

Dengan pandangan nanar, ia menatap benda kecil yang kini tak lagi berbentuk. Lucia melepas sisi lain TWS yang masih menggantung di telinganya, lalu memasukkannya ke dalam kotak di saku celana. Benda itu sudah menemaninya bertahun-tahun meski suaranya kerap putus-putus. Dan pagi ini, riwayatnya telah tamat.

Ia menarik napas dalam-dalam, mengisi dadanya yang sesak. Di sampingnya, kereta KRL yang baru saja ia tumpangi kembali melaju, membelah pagi dengan suara besi yang beradu. Lucia terpaksa kembali berjalan, menolak memberi ruang untuk meratap. Dunia tidak pernah menyediakan waktu bagi mereka yang berduka atas hal-hal kecil.

Padahal, sejak subuh tadi, semesta memang sedang tidak ramah padanya.

Langkahnya dari Stasiun Manggarai sudah terasa berat. Bukan karena lelah semata, tapi karena udara pagi Jakarta seolah ikut menahan badannya, mencekik pelan dengan lapisan tipis polusi. Sepatu pantofel berhak lima sentimeter yang ia kenakan seakan menolak bergeser. Ada denyut halus di kepalanya, efek dari ikatan kuncir kuda yang sengaja ia tarik terlalu kencang agar rambutnya tidak mencuat berantakan saat ia harus bertarung di dalam gerbong yang terlalu sempit untuk menampung ambisi ibu kota.

Hanya satu stasiun dari Manggarai ke Sudirman, tetapi rasanya selalu seperti perjalanan panjang menuju tempat yang paling ingin ia hindari. 

Kemeja hitamnya sampai basah oleh keringat yang mengalir dari tengkuk sampai ke pinggang, celana kulot abu-abu terangnya lecek oleh gesekan dan tabrakan dengan penumpang KRL lain.

Menyebalkan, tentu saja. Namun, apa pilihannya? Dia tidak bisa menyetir, motor membuatnya takut, dan mobil terlalu mahal. Rumahnya di Pasar Minggu, dan KRL adalah satu-satunya pilihan masuk akal yang murah, padat, dan selalu sukses membuatnya ingin memaki dalam hati. Namun, hidup tidak selalu menyediakan opsi yang menyenangkan. Jadi, ia bertahan.

Sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan umpatan atas nasib TWS-nya, Lucia bergegas menuju pintu keluar stasiun. Di luar, deretan tukang ojek menunggu bagai pasukan tanpa gairah. Lucia mendekati salah satunya, menerima helm, lalu naik ke atas jok belakang tanpa banyak suara.

Sepanjang perjalanan, Jakarta terasa hampa. Langit menggantung di atas sana, abu-abu, berat, dan muram, mirip lapisan debu tebal yang enggan dibersihkan. Lucia menatapnya dengan pandangan kosong. Kepalanya sudah terlalu penuh untuk memikirkan hal lain.

Ia malas berbicara dengan pengemudi ojek. Bukan karena setelah akhir pekan panjang kemarin ia terjebak di rumah yang atapnya bocor bersama sang kakak yang hobi marah-marah. Bukan pula karena melihat kotak masuk emailnya pagi ini sudah diserbu puluhan undangan rapat dan "tugas kecil" yang sanggup menenggelamkan siapa saja.

Dan jelas bukan karena TWS-nya kini menjadi ‘yatim’. Tinggal satu, tak lagi sepasang. Seperti dirinya.

Di kepalanya, ada puluhan ribu pertanyaan riuh yang macet tanpa jawaban: Apa sebenarnya arti hidupnya? Apakah semua ini baik-baik saja?

Lucia merasa, dirinya sendiri adalah orang yang paling asing. Dan, jika ada yang bertanya siapa tokoh antagonis dalam hidupnya, ia tidak akan ragu menjawab: "Aku sendiri." Hubungannya dengan diri sendiri adalah kisah cinta-benci yang tidak pernah selesai ditulis.

Lihat selengkapnya