Sepanjang akhir pekan, Matthew nyaris tak punya waktu untuk bernapas. Urusan pindahan ke rumah baru dan tumpukan administrasi untuk mengeluarkan neneknya dari panti jompo benar-benar menyita energi. Obrolan mengganggu dengan Dito pada Jumat malam lalu pun sempat menguap begitu saja.
Namun hari ini, di Senin kelabu yang terasa berjalan lambat, pikiran itu kembali terseret ke permukaan.
Hujan mengguyur Jakarta tipis-tipis tanpa henti sejak subuh. Udara di dalam ruangan terasa lembab dan dingin, memaksa lampu-lampu neon kantor dinyalakan lebih awal karena langit di luar terlalu remang. Di antara temaram ruang kerja itu, sepasang mata Matthew terus tertambat pada satu titik: meja kerja Lucia.
Pagi tadi saat tiba di kubikelnya, Matthew mendapati map laporan yang ia minta direvisi sudah tertata rapi di atas meja. Lembar demi lembar ia periksa dengan saksama di bawah pendar lampu. Semuanya dikerjakan dengan presisi yang gila. Sempurna. Bahkan tak ada satu pun salah ketik yang bisa ia jadikan celah untuk mendebat.
Matthew bersandar pada kursi kerjanya, mengetukkan pena ke dagu sambil memperhatikan Lucia di mejanya. Entah wanita itu lembur hingga larut pada Jumat malam, atau ia rela mengorbankan seluruh akhir pekannya demi menyusun ulang dua puluh halaman laporan ini.
Memikirkannya, ada setitik rasa bersalah yang mendadak menyengat nurani Matthew. Namun, bayangan itu langsung buyar saat ia mengingat betapa picik dan provokatifnya Lucia minggu lalu, sengaja mengerjainya hingga ia sendiri harus terdampar sendirian di kantor hampir tengah malam. Matthew mendengus pelan, merutuki kebodohannya yang sempat merasa menyesal.
Meski begitu, percakapannya dengan Dito terlanjur menanam jangkar keraguan di kepalanya. Selama ini, ia tidak pernah menimbang-nimbang ulang kebenaran masa lalu. Baginya, Lucia adalah orang menyebalkan. Titik.
Namun sekarang, pertanyaan-pertanyaan baru mulai menghantui.
Kenapa sejak pertama kali mereka bertemu kembali, Lucia selalu memandangnya dengan tatapan benci yang begitu merendahkan? Mengapa wanita itu menyindirnya sebagai murid kurang ajar yang menghancurkan impiannya menjadi guru?
Kejadian lima tahun lalu memang menyisakan emosi bagi kedua belah pihak. Namun, haruskah Lucia bereaksi sedramatis dan sedingin itu jika dia berada di posisi yang bersalah?
Rasa penasaran itu perlahan bergeser menjadi sebuah pengamatan yang intens. Semakin Matthew memperhatikan, semakin ia sadar bahwa Lucia adalah manusia paling asing di ruangan ini. Wanita itu tertutup, pendiam, dan acuh tak acuh. Setiap kata yang keluar dari bilik bibir tipisnya hanya seputar pekerjaan, disampaikan dengan nada datar berwibawa. Dia tidak pernah ikut berkerumun untuk bergosip atau berbisik-bisik membahas isu panas seperti karyawan perempuan lainnya.
Lucia hanya duduk diam, membentengi diri di balik layar laptopnya yang dipenuhi stiker warna-warni.
Stiker warna-warni... bergambar robot?
Matthew memicingkan mata, menatap kontradiksi menarik itu. Mengapa benda sekekanak-kanakan itu bisa menempel di laptop seorang wanita yang sedingin es? Apakah itu tempelan anaknya?
Ah, tidak mungkin. Otak Matthew langsung mengingat gosip kantor yang sempat lewat di telinganya. Lucia dan David si Head HR berpacaran selama tiga tahun, lalu putus diam-diam, kemudian tiba-tiba David bertunangan dengan orang lain. Lucia saat ini menyandang predikat mutlak sebagai 'pihak yang dicampakkan'. Jika dia sudah menikah atau punya anak, predikat itu pasti sudah menguap sejak lama. Jadi, dia jelas belum berkeluarga.
"Hmm," dehem Matthew pelan tanpa sadar.
Ia buru-buru memalingkan wajah saat menyadari dirinya sudah menatap pucuk kepala Lucia di balik laptopnya selama hampir sepuluh menit penuh tanpa berkedip.
Pikirannya kembali berputar pada kemungkinan terburuk: bagaimana jika lima tahun lalu ia salah menuduh orang? Bagaimana jika ternyata bukan Lucia guru PPL yang dimaksud oleh Sana?
Manusia yang kaku, dingin, dan sama sekali tidak tertarik dengan urusan orang lain seperti wanita itu... untuk apa bersikap iseng, apalagi sampai bertaruh murahan demi menjatuhkan seorang anak SMA? Wajah datarnya yang minim emosi itu sama sekali tidak memancarkan aura seorang provokator yang suka bermain-main.
Matthew menggeleng kuat, mencoba menepis keraguan yang mulai mengikis keyakinannya. Semua ini masih spekulasi. Sampai ia benar-benar menemukan bukti konkret, di dalam kepalanya, wanita misterius di pojok ruangan itu tetap menjadi tersangka utama.
Mungkin dia kekanakan, tapi di seluruh dunia ini, tak seorang pun yang benar-benar memahami apa yang berkecamuk di dalam dadanya setiap kali ingatan itu mengetuk kepala.
Bagi orang luar yang hanya melihat permukaan, insiden lima tahun lalu mungkin dianggap sebagai ketersinggungan sepele remaja tanggung. Namun baginya, periode itu adalah neraka. Sebuah memori kelam yang pahitnya bahkan masih terasa pekat di lidahnya. Meskipun memuakkan, ia telah bersumpah untuk tidak akan pernah melupakan setiap detail mencekik dari hari-hari itu.
Dua hari sebelum insiden dengan Lucia itu terjadi, di pagi yang terang benderang, ketika cahaya matahari bahkan sanggup menembus sela-sela gorden kelas yang tertutup rapat, badai itu menghantamnya tanpa ampun.
Berita tentang penangkapan ayahnya, seorang anggota dewan terhormat yang terjerat kasus korupsi besar, langsung memicu kasak-kusuk riuh di dalam kelas. Dalam hitungan jam, kabar itu menjalar laksana api di atas siraman bensin ke seluruh penjuru sekolah. Matthew yang semula dipuja, berbalik menjadi objek cibiran yang menjijikkan.
Hari itu, ia bahkan tidak punya nyali untuk sekadar melangkah ke kantin.