"Matthew?!" seru Lucia. Saking kagetnya, ia sampai lupa menyematkan panggilan "Mas" yang biasa digunakan di kantor.
"Kak Lucia?!" balas Matthew spontan, sama terkejutnya sampai tanpa sadar memanggil Lucia dengan sebutan "Kak" ala masa sekolah, bukan "Mbak" yang lazim ia ucapkan di tempat kerja.
“Lagi ngapain disini?” tanya Lucia refleks. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu pria ini di lingkungan rumahnya.
Kemarin, setelah bersusah payah mengatur skenario agar bisa berbicara empat mata dengannya untuk meluruskan masa lalu, Lucia pulang dengan tangan hampa. Pria yang bahkan belum genap dua minggu bekerja itu ternyata mengambil cuti dadakan, sebuah kemewahan yang tidak pernah terbayangkan, apalagi bagi karyawan korporat yang sudah bertahun-tahun seperti Lucia.
Namun, sore ini, di saat senja hampir beranjak menjadi malam, di gang kecil dekat rumahnya yang dihiasi got mampet mengeluarkan bau anyir samar karena bangkai tikus, Lucia mendapati pria itu sedang berjalan santai sambil merokok. Di tangannya tergantung sekantong jeruk, sementara ia sendiri hanya mengenakan kaos oblong lusuh dan celana pendek yang lebih pantas dipakai di dalam rumah.
“K-Kak Lucia sendiri, ngapain di sini?” Matthew tergagap, buru-buru menyembunyikan rokoknya di belakang punggung.
“Ini kan daerah rumah gue!” sahut Lucia, masih setengah melotot. Pikirannya berputar mencari penjelasan untuk kemunculan Matthew yang tak lazim ini.
Biasanya, pria ini selalu tampil necis dengan kemeja dan celana bahan, harum parfum mahal, menentang kopi branded di pagi hari dan lebih sering makan siang di restoran mewah bersama para direksi. Beberapa kali dia memang muncul di kantin karyawan, tapi lebih seperti gelagat sengaja untuk menunjukkan bahwa dirinya "low profile" ketimbang mengirit pengeluaran.
Dari jam tangan, tas, sepatu, hingga botol minum di mejanya, semua merek yang harganya membuat Lucia mengernyit. Baginya yang lebih mementingkan fungsi daripada gengsi, gaya hidup Matthew terasa berlebihan, dan jujur, agak memuakkan.
Tapi kenapa sekarang dia ada di sini? Dengan penampilan yang serba santai, bahkan cenderung lusuh, seolah menunjukkan sisi lain yang sama sekali berbeda dari persona kantornya.
“Aku lagi main ke rumah temen,” jawab Matthew terbata-bata.
“Ooh.” Angguk Lucia pura-pura menerima jawaban itu, padahal rasa penasarannya justru menggelembung. Masa temannya ada di daerah seperti ini?
Tak lama, ponsel di tangan Lucia bergetar. “Halo?” sambutnya, berpaling dari Matthew meski dari sudut matanya ia tahu pria itu masih berdiri kaku. Seperti orang yang ingin kabur, tapi bingung harus bagaimana agar kelihatan alami.
Suara Hadin menggelegar di seberang saluran telepon Lucia. “Lu udah sampai di tukang mie ayam? Jangan lupa gue gak pake sawi ya!
“Iya, iya!” jawab Lucia enggan, sambil melirik Matthew yang masih terdiam. “Duluan aja,” bisiknya ke Matthew, mengibaskan tangan setengah mengusir.
Matthew yang sejak tadi mencari cara untuk menghindar, langsung mengangguk lega dan segera pergi.
Begitu Matthew hilang dari pandangannya, Lucia melanjutkan langkah menuju ujung gang sambil sesekali menengok ke punggung cowok itu. Ponsel masih menempel di telinganya, panggilan dengan Hadin masih tersambung, namun ia berjalan setengah termenung.
Gang sempit yang bau ini memang selalu sepi saat senja, menjelang malam. Anak-anak kecil yang biasa berlarian, sedang dipaksa mandi atau disuapi makan malam oleh ibu mereka, para remaja sibuk dengan tugas sekolah, dan bapak-bapak kebanyakan belum pulang kerja. Tak berapa lama lagi, suasana akan lebih ramai, terutama di ujung gang, dekat pos ronda yang akan menjadi titik kumpul paling hidup di lingkungan ini. Orang-orang akan berkumpul dan bercengkrama. Karena itu Lucia agak terburu-buru, agar tak perlu berpapasan dengan orang-orang sekitar rumahnya saat pulang dari tukang mie ayam nanti.
"Lu ngomong sama siapa tadi?" tanya Hadin penasaran. Ia sempat mendengar gumaman Lucia yang tak jelas tadi.
Bukannya menyahut, Lucia malah bertanya balik dengan suara berbisik, meski tak ada siapa-siapa di sekitar yang bisa mendengar ucapannya. "Lu tau gue barusan ketemu siapa?"