Sekat Dalam Asa

Arisyifa Siregar
Chapter #9

8. Sikap yang Membuat Terpesona

Di kantor, dinamika antara Lucia dan Matthew berubah drastis.

Matthew yang biasanya dengan percaya diri menyapa setiap karyawan, justru menunduk cepat ketika berpapasan dengan Lucia di koridor. Tangannya yang biasa tergantung santai di saku celana, kini kaku di samping tubuh. Bahkan saat rapat departemen, pria yang duduk berseberangan dengan Lucia itu memilih duduk di ujung meja terjauh, seolah-olah ada medan magnet tak kasat mata yang mendorongnya menjauh.

Lucia yang awalnya menikmati "kemenangan" kecilnya, mulai merasa heran. Beberapa kali ia menangkap mata Matthew sedang menatapnya dari balik monitor laptop, namun segera berpaling ketika ketahuan. Suatu ketika di pantry, saat Lucia sedang mengambil kopi, Matthew yang masuk tiba-tiba berbalik badan dan pura-pura lupa membawa sesuatu, meninggalkan ruangan dengan langkah tergesa.

Yang paling membuat Lucia penasaran adalah ketika jam makan siang. Biasanya Matthew dengan ramah mengajak siapa pun yang dia temui untuk makan bersama, tapi kini dia memilih memesan makanan online dan makan di pantry sendirian. Saat Lucia melewatinya, dia melihat Matthew sedang memainkan makanannya dengan gugup, sendok nasi terangkat-turun tanpa pernah sampai ke mulut.

Perubahan ini tidak luput dari perhatian Anggi, temannya itu bahkan sempat berbisik, "Kenapa itu orang kok jadi menghindar dari lu?"

Lucia hanya mengangkat bahu, tak ingin dan tak bisa membagi cerita apapun ke Anggi, tapi dalam hati ia mulai bertanya-tanya: apakah ini efek dari perjanjian mereka, kenapa mendadak dia jadi kasihan dengan pria itu?


Sementara itu, Matthew sama sekali tidak mampu merumuskan kekacauan yang tengah menggerogoti batinnya.

Selama ini, ia membangun persona di kantor dengan susah payah, sebuah citra pria mapan, kompeten, dan penuh perhitungan presisi. Namun kini, seluruh benteng pertahanan itu terasa amat rapuh. Karena sialnya, Lucia yang mengetahui celah terbesarnya: rahasia tentang tempat tinggal barunya yang sederhana, tepat di lantai bawah rumah wanita itu.

Meski selama beberapa hari ini Lucia tampak setia menjaga rahasia tersebut, bahkan cenderung mengabaikan keberadaannya, Matthew tetap diliputi kegelisahan yang tak tertahankan.

Bayangan masa lalu yang suram kembali datang menghantui. Kenangan akan hari-hari berat di SMA, ketika ia menjadi bulan-bulanan dan direndahkan karena jatuh miskin, mendadak terasa begitu dekat. Kini, dengan Lucia yang memegang "kartu as" miliknya, Matthew merasa telanjang. Bagaimana jika satu per satu rahasianya bocor? Bagaimana jika citra eksekutif muda sukses yang ia bangun dengan susah payah ini runtuh berantakan dalam semalam?

Keresahannya kian memuncak dengan kembalinya Rubi ke kantor pagi ini.

Gadis itu baru saja pulang dari cuti panjangnya setelah berkeliling Eropa, kemewahan yang langsung menjadi bahan obrolan hangat orang-orang di departemen sebelah. Matthew sebenarnya telah mempersiapkan diri selama berbulan-bulan untuk menghadapi momen ini. Ia menghabiskan banyak uang untuk membeli pakaian bermerek dan membangun image pria kelas atas, semua demi bisa kembali berdiri sejajar di depan mata Rubi.

Namun sekarang, dengan adanya Lucia yang mengetahui bahwa seluruh rasa percaya dirinya hanyalah fondasi rapuh yang siap roboh, Matthew merasa semua usahanya sia-sia. Keberaniannya untuk mendekati Rubi dalam waktu dekat menguap begitu saja, tergantikan oleh keraguan yang menyiksa.

Ia bahkan tidak bisa membagikan ketakutan ini pada Dito. Memang, Dito adalah satu-satunya sahabat yang pernah melihatnya jatuh dan bangun. Namun, ego dan gengsi Matthew terlampau besar untuk mengakui bahwa di dalam tubuh dewasanya saat ini, ia masihlah pemuda rapuh yang sama seperti dulu; bocah ketakutan yang bersembunyi di balik topeng keberhasilan semu. Di hadapan sahabatnya itu, Matthew tetap harus menjaga sisa-sisa harga diri yang ia punya.

Ting.

Notifikasi di sudut layar laptopnya berdering, menyentak Matthew dari lamunan yang menyesakkan. Jemarinya yang mendadak dingin dengan gesit menggerakkan touchpad, membuka pesan masuk di ruang obrolan internal kantor.

Dari: Lucia Andrea

Pesan: Ke rooftop, ada yang mau gue obrolin.

Secara refleks, mata Matthew langsung mencuri pandang ke arah pojok ruangan. Di sana, Lucia baru saja bangkit dari kursi dan berjalan tenang meninggalkan meja kerjanya.

Jantung Matthew berdentum gila-gilaan, diiringi oleh rasa cemas yang membakar dada. Apa yang ingin dibicarakan wanita itu? Apakah Lucia tidak sengaja membocorkan rahasia tempat tinggalnya pada rekan kerja lain? Atau jangan-jangan... wanita itu ingin membatalkan sandiwara mereka?

Matthew sengaja mengulur waktu selama dua menit. Ia mengatur napasnya yang memburu, memastikan dirinya tidak terlihat kentara sedang membuntuti Lucia.

Setelah merasa cukup aman, ia beranjak. Langkah kakinya terasa berat dan berdenyut di sepanjang koridor menuju lift, membawanya melesat naik ke lantai tertinggi gedung.


Begitu Matthew mendorong pintu besi berat yang berdecit nyaring, embusan angin sore langsung menerpa wajahnya. Di ujung sana, matanya langsung menangkap sosok Lucia. Wanita itu sedang bersandar di pagar pembatas besi, berdiri tenang memandangi langit senja Jakarta yang mulai memerah.

"Ada perlu apa?" tanya Matthew, suaranya terdengar lebih ketus dari yang ia rencanakan.

Lucia berbalik. Tatapannya yang tenang namun tajam seakan menusuk langsung ke dalam diri Matthew. Wanita itu menarik napas dalam, padahal awalnya ia sempat berniat menggunakan kesempatan bicara empat mata ini untuk menanyakan kejadian lima tahun lalu. Namun setelah memperhatikan sikap Matthew yang terus menghindar, gugup, dan penuh kecemasan, niatnya itu pun menguap.

Bagaimanapun, pria di hadapannya ini masih seperti anak kecil, yang bahkan bersikap defensif hanya karena hal sepelenya ketahuan. Jadi Lucia berpikir, entah hal remeh apa yang membuat Mathew bersikap seperti itu lima tahun lalu. Ia jadi enggan mendengar alasannya, takut kebenciannya selama lima tahun ini ternyata terlalu konyol.

"Lu gak perlu takut," ujar Lucia kemudian, melangkah mendekat. "Gue gak akan bocorin rahasia lu ke siapa pun di kantor. Gue gak tertarik menyebarin kekurangan orang lain. Jadi, lu bebas ngelakuin apapun, asal tepatin janji lu buat gak ganggu gue."

Rok hitam Lucia berkibar ditiup angin, kemeja kremnya yang separuh terurai dan separuh masuk ke dalam rok, membuat penampilannya terlihat acak-acakan. Rambutnya yang dikuncir kuda, berayun alami mengikuti gerak tubuhnya. Namun dibalik kesan sederhananya itu, tatapan mata penuh keyakinan dan kata-kata blak-blakan yang dia ucapkan, membuat Matthew terpana.

Lihat selengkapnya