Sekat Dalam Asa

Arisyifa Siregar
Chapter #10

9. Sama Sekali Tak Sepaham

“Apa cuma salah denger?”

Matthew mengecilkan volume televisi, mempertajam pendengarannya yang sempat terdistraksi.

Barusan, samar-samar ia menangkap suara ketukan di pintu depan rumah. Pikirnya mungkin itu hanya gema suara dari kamar neneknya, namun atmosfer di dalam ruangan tetap sunyi senyap.

Tok! Tok!

Pintu diketuk lagi. Kali ini bunyinya jelas dan tegas dari arah beranda. Ia pun beranjak dari sofa, melangkah malas, lalu membuka daun pintu hanya sebatas celah sempit. Kaos tipis dan celana pendek longgar yang ia kenakan malam ini membuatnya enggan berhadapan langsung dengan siapapun.

"Siapa?" tanyanya, matanya menyipit asing menatap pria di balik pintu.

Pria itu, Hadin, tersenyum lebar, mengangkat sebuah piring porselen berisi potongan kue tart. "Dari lantai atas," katanya ramah.

Matthew seketika paham. Sejak tadi, telinganya memang sayup-sayup menangkap riuh-rendah suara perayaan ulang tahun dari lantai dua. Ia membuka pintu sedikit lebih lebar. "Makasih," ujarnya, mengulurkan tangan siap menerima piring itu.

Namun bukannya menyerahkan kue, Hadin justru menarik piringnya kembali. "Makan bareng, yuk? Ada yang mau gue obrolin." Tanpa menunggu persetujuan, pria itu langsung berbalik badan dan dengan santai menduduki bangku kayu di halaman, tempat favorit keluarga Lucia untuk bersantai.

Matthew sempat mematung sebentar di ambang pintu, bingung sekaligus heran dengan kelancangan tamunya. Namun, rasa penasaran akhirnya menangani logikanya. Kakinya bergeser, menyelingkar ke dalam sandal jepit di luar keset. Meski diliputi keraguan, ia melangkah mendekat dan ikut duduk di samping Hadin.

"Lu inget gue gak?" tanya Hadin, menyunggingkan senyum penuh arti.

Matthew memicingkan mata di bawah remang lampu yang ada di pohon mangga, berusaha menggali memorinya namun gagal. "Siapa?"

Hadin terkekeh, mengangguk maklum. "Lucia kan dulu guru PPL di sekolah lu."

Darah Matthew mendadak berdesir dingin. Jantungnya tercekat. Selama ini, ia tidak pernah secara terbuka mengakui masa lalu itu di depan Lucia sejak mereka tak sengaja bertemu lagi di kantor. Namun jika pria asing yang sering bolak-balik ke rumah ini tahu, artinya Lucia memang sudah mengenali jati dirinya sejak hari pertama ia menginjakkan kaki sebagai bos baru.

"Iya. Terus?" jawab Matthew singkat, berusaha memasang wajah datar terbaiknya.

"Gue juga PPL di sana, bareng Lucia!" ungkap Hadin blak-blakan.

Seketika itu juga, sepotong teka-teki di kepala Matthew terjawab. Struktur wajah Hadin memang terasa tidak asing. Meski samar dan terkubur lima tahun lamanya, ia yakin pernah melihat siluet cowok ini sesekali di koridor sekolahnya dulu.

Melihat Matthew yang mendadak bungkam, Hadin melanjutkan dengan nada yang berubah kasual, namun menusuk. "Sebenarnya apa sih yang ada di pikiran lu waktu itu, sampai tega ngomong begitu ke Lucia?"

Rahang Matthew menegang seketika. Jika Lucia selama ini memilih konfrontasi dingin yang pasif, Hadin seratus kali lebih tidak terkendali. Orang yang baru ditemuinya lima menit lalu ini, dengan ringannya melontarkan pertanyaan paling sensitif tepat di depan mukanya.

"Kenapa gue harus jawab ke lu?" balas Matthew, suaranya naik satu oktaf, kentara sekali sedang memasang mode defensif untuk melindungi egonya.

Namun bukannya tersinggung atau tersulut emosi, Hadin malah kembali mengulum senyum geli. "Ternyata lu bisa ngomong lu-gue. Kata Cia, lu di kantor cuma bisa bilang aku-kamu," ejeknya ringan, setengah berbisik.

Alis Matthew bertaut rapat. Pria ini memanggil Lucia dengan sebutan akrab "Cia". Kedekatan mereka jelas berada di level berbeda. Dan yang lebih mengusik hatinya: Lucia ternyata menceritakan detail-detail kecil tentang kebiasaan bicaranya pada pria ini? Pertanyaan yang sejak kemarin mengendap di kepala Matthew kembali mencuat liar: Sebenarnya apa hubungan Lucia dengan Hadin? Setelah David dan Vino, sekarang pria ini lagi? Berapa banyak lelaki yang sebenarnya berputar-putar di sekeliling hidup wanita itu?

"Lu tau gak," celetuk Hadin tiba-tiba, memutus lamunan Matthew. "Gara-gara omongan kasar lu waktu itu, Lucia harus menghadapi banyak masalah?"

Matthew terkesiap, dadanya mendadak sesak. Meski diucapkan dengan senyuman santai, ia tahu ini adalah dakwaan serius.

"Masalah apa?" tanyanya, kini jauh lebih berhati-hati.

Hadin pun menjabarkan rentetan efek domino dari kalimat kejam Matthew di lorong sekolah dulu secara ringkas, namun padat. Bagaimana Lucia harus berhadapan dengan gosip miring yang menyebar liar di kalangan siswa, interogasi berlapis dari pihak sekolah dan dosen pembimbing kampus, nilai akademis akhir yang anjlok akibat stres, hingga trauma psikologis mendalam yang akhirnya memaksa Lucia mengubur hidup-hidup cita-citanya untuk menjadi seorang pendidik.

Mendengar penuturan itu, telinga Matthew mendadak berdenging. Ingatannya melesat pada ucapan ketus Lucia di pantry kantor beberapa waktu lalu: “Gara-gara ada satu anak kurang ajar di sekolah itu, yang bikin saya trauma buat jadi guru.”

Rupanya, itu bukan sekadar kalimat sarkasme. Itu adalah luka yang nyata. Dan "anak kurang ajar" yang menghancurkan masa depan wanita itu tak lain adalah dirinya sendiri.

Matthew ingin sekali membela diri. Ia ingin menjelaskan bahwa saat itu dunianya juga sedang runtuh, bahwa ia mengira sedang dijadikan bahan taruhan murahan. Namun, ia belum mendapat konfirmasi apa pun dari Dito maupun Sana. Tanpa kepastian itu, ia tidak punya pijakan untuk mengarahkan pembicaraan ini, apakah harus berakhir dengan pembelaan ego atau permohonan maaf yang tulus.

Akhirnya, Matthew memilih mengunci mulutnya rapat-rapat.

"Yah," Hadin bangkit dari bangku kayu, menepuk celananya. "Gue cuma mau kasih tau itu aja, biar lu nggak cari masalah lagi sama Cia. Jangan sampe kena amuk dia."

Dahi Matthew berkerut heran. "Dia bisa ngamuk? Selama ini kelihatannya tenang dan kalem," tampiknya refleks, murni karena tidak bisa membayangkan wajah sedingin es milik Lucia bisa berubah murka.

Tawa Hadin meledak seketika di tengah kesunyian malam, sampai-sampai tangannya harus memegangi perut yang mendadak melilit.

Melihat reaksi yang terlampau berlebihan itu, Matthew harus sekuat tenaga menahan kejengkelannya yang mulai naik ke ubun-ubun oleh tingkah cowok sok akrab ini.

Lihat selengkapnya