Sekat Dalam Asa

Arisyifa Siregar
Chapter #11

10. Ajakan Mendadak

Setelah percakapan di rooftop dan interaksi canggung di bangku kayu halaman rumah, kehidupan kantor mereka kembali bergulir seperti biasa. Normal, dalam artian tidak ada lagi aksi saling mengusik.

Lucia memilih menutup mata dari segala persona buatan Matthew di kantor, sementara Matthew tidak lagi ragu untuk menanggalkan atau memakai topengnya di hadapan wanita itu. Di permukaan, semua berjalan lancar tanpa riak. Namun, di bawah arus yang tenang, ada sesuatu yang halus telah bergeser.

Apakah karena mereka mulai terbiasa dengan eksistensi satu sama lain? Atau karena rasa antipati yang berangsur terkikis akibat interaksi yang mulai intens di rumah? Keduanya tidak tahu, dan secara terpisah sama-sama untuk tidak berusaha mendalaminya. Lucia dan Matthew kembali menenggelamkan diri ke dalam tumpukan pekerjaan masing-masing.

Sampai akhirnya, sosok Rubi melangkah masuk ke dalam ruang rapat.

Hari itu, Tim Sales, Sales Support, dan Legal mengadakan rapat untuk membahas pembaruan kontrak kerja sama dengan beberapa mal besar. Awalnya, Lucia tidak menaruh perhatian lebih pada gadis berambut coklat bergelombang sepinggang itu. Sosok bertubuh kecil ramping dengan bulu mata extension yang lentik, serta polesan lipstik pink cerah yang senada dengan dress ketat yang dikenakannya.

Bagi karyawan senior seperti Lucia, kehadiran Rubi yang baru belum genap setahun di perusahaan ini masih terasa baru. Meski kerap berpapasan di lorong, Lucia tidak pernah benar-benar mencatat eksistensinya.

Namun, sore ini, saat melihat bagaimana Rubi berbicara dengan nada yang teramat akrab kepada Matthew, sebuah sel memori di kepala Lucia mendadak terpicu. Ia tersentak. Ia baru menyadari satu hal: Rubi, si primadona kantor ini, adalah mantan kekasih yang Matthew saat SMA. Mereka pasangan yang terkenal bahkan seluruh guru dan staf sekolah tahu.

Tanpa disadari, mata Lucia beralih mengamati Matthew. Sebuah pertanyaan spekulatif mulai mengusik benaknya: Apakah gadis manja itu yang menjadi alasan utama Matthew bergabung ke perusahaan ini?

“Akrab banget ya mereka,” bisik Anggi di sampingnya, menyikut lengan Lucia sambil melirik tajam ke arah kursi Rubi dan Matthew.

“Mantan pacarnya,” sahut Lucia datar, tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di depannya. “Apa jangan-jangan masih pacaran.”

“Serius?!” seru Anggi. Suaranya refleks melengking beberapa oktaf lebih tinggi. Meskipun Anggi sudah berusaha meredamnya, gema itu tetap cukup nyaring untuk menarik perhatian seisi ruangan, termasuk Rubi.

Gadis berpenampilan imut dan feminin itu langsung menoleh ke arah mereka. Matanya melemparkan tatapan sinis, dingin, dan merendahkan. Anehnya, Lucia merasa ini bukan kali pertama ia menerima intimidasi visual semacam itu dari Rubi.

Selama ini Lucia memilih bersikap masa bodoh. Namun kini, ingatan-ingatan remeh yang tersimpan otomatis di dalam otaknya mulai bermunculan satu per satu ke permukaan: bagaimana Rubi pernah meliriknya dengan rupa jijik saat berpapasan di kantin, bagaimana gadis itu memicingkan mata setiap kali Lucia mendatangi departemen Legal, dan beberapa momen kecil lainnya yang mendadak terasa signifikan hari ini.

Apakah karena Matthew? Atau karena peristiwa di sekolah lima tahun lalu? Dadanya mendadak terasa sesak. Ketenangan yang selama ini Lucia agungkan mulai terganggu oleh prasangka yang tiba-tiba menggelegak panas.

“Kalau gak ada lagi yang perlu didiskusiin, boleh tim Sales Support pamit duluan?” potong Lucia tiba-tiba di tengah keheningan rapat. Ia menolak membiarkan perhatian yang tertuju padanya dan Anggi berubah menjadi bola liar gosip yang merugikan. Tatapan Rubi jelas menyimpan potensi bahaya.

“Oke, silahkan,” sahut Vino dari ujung meja, tepat berseberangan dengan posisi duduk Matthew.

Diam-diam, pria itu telah mengamati ketegangan antara Lucia dan Rubi selama beberapa detik tadi. Begitu pula dengan Matthew, yang tampak mati-matian menyembunyikan perhatiannya pada interaksi kedua wanita itu.

Setelah mengucap terima kasih dengan formal, Lucia dan timnya beranjak keluar. Selang beberapa detik, Vino ikut bangkit, berjalan mengekor di barisan paling belakang.

“Lucia!” panggil Vino tepat di ambang pintu.

Lucia menghentikan langkahnya, menoleh, dan menunggu dengan tenang.

Vino menarik daun pintu hingga tertutup rapat, tubuhnya menghalangi pandangan Matthew yang sejak tadi memaku matanya ke luar ruangan. Dari balik dinding kaca yang buram, terlihat siluet Lucia yang menyunggingkan senyum ramah ke Vino.

Sementara di dalam ruangan, Rubi yang tengah berpura-pura mengobrol dengan anggota timnya, menyadari ke mana arah pandang Matthew tertuju. Wajahnya seketika berubah masam. Ia teramat tidak suka dengan apa yang baru saja dilihatnya.

Lihat selengkapnya