“Gila... Udah gila... Matthew udah gila!”
Lucia berbaring mematung di atas kasurnya. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar yang gelap gulita. Malam sudah terlampau larut, namun kantuk tidak sudi datang.
Apa yang terjadi di kantor sore tadi benar-benar di luar batas nalar sehatnya. Bagaimana bisa si Mamat melontarkan ide segila itu? Saking syoknya, Lucia bahkan kehilangan memori bagaimana cara mereka berdua keluar dari ruang penyimpanan dan pantry tadi tanpa memicu kecurigaan orang-orang di luar. Atau jangan-jangan, ada mata yang sempat menangkap basah mereka? Ah, dia benar-benar tidak tahu. Kepalanya nyaris pecah.
Setelah mendengar ucapan Matthew, Lucia dilingkupi rasa linglung yang hebat. Padahal, ia adalah tipe wanita yang sangat jarang kehilangan kendali atas ketenangannya. Terakhir kali ia merasakan sensasi linglung seperti ini adalah lima tahun lalu, saat ia dipaksa menghentikan program PPL-nya di sekolah Matthew akibat rumor sialan itu. Dan lima tahun sebelumnya lagi, saat ia kehilangan dompetnya di jalanan.
Tunggu. Jadi, apakah fase linglung di hidupnya sengaja dikutuk untuk terjadi lima tahun sekali?
“Ahhhhh!” Lucia mengerang frustasi, menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan. “Apa sih, kenapa gue malah mikir yang nggak-nggak!” keluhnya, luar biasa kesal pada kebodohan otaknya sendiri.
Ia sudah tidak tahan lagi. Dadanya terlalu bergemuruh gelisah jika harus menunggu sampai fajar menyingsing. Dengan gerakan impulsif, ia menyambar ponsel di atas nakas, lalu mengetikkan sebaris pesan singkat untuk Matthew:
Mat, Lu udah tidur?
Butuh waktu dua menit yang terasa seperti keabadian bagi Lucia untuk menatap layar benda pipih itu, sampai akhirnya sebuah balasan masuk.
Belum.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Lucia langsung melompat dari kasur. Ia menyelinap keluar kamar dan bergegas menuju pintu luar. Saat menuruni anak tangga, ia berjalan dengan berjinjit, mati-matian menjaga agar derit langkahnya tidak sampai menembus kamar Lutva yang berada di ujung dekat teras lantai dua.
Begitu menapak di anak tangga terakhir, ia melakukan lompatan kecil ke tanah halaman, lalu bergegas menuju pintu lantai satu.
Ia mengangkat tangan, mengetuk daun pintu itu sekali. “Mat!” panggilnya dengan volume serupa desisan angin. Ia sendiri tidak yakin suaranya sanggup menembus kayu tebal dan menjangkau Matthew yang entah berada di sudut sebelah mana di dalam sana.
“Mat!” panggilnya lagi, kali ini sedikit menaikkan intonasi, namun tetap terjaga agar tidak menimbulkan kegaduhan malam.
“M—”
Belum sempat huruf selanjutnya lolos dari bibir Lucia, pintu sudah berayun terbuka, menampilkan sosok Matthew di ambang pintu.
“Kita perlu ngobrol. Sekarang!” potong Lucia cepat. Tanpa menunggu undangan masuk, ia langsung berbalik badan dan melangkah tegas menuju bangku kayu di halaman.
Sambil menutup kembali daun pintunya, Matthew mengulum senyum tipis. Hari ini, ia seolah disuguhi lembar demi lembar sisi lain Lucia yang belum pernah ia ketahui. Wanita yang selama ini ia kira selalu tenang, sedingin es, acuh tak acuh, dan tidak akan bergeming bahkan jika ada ujung pisau mendarat tepat di depan bola matanya, ternyata hanyalah manusia normal. Wanita itu bisa resah, cemas, panik, dan kehilangan kesabaran. Semua itu terpancar nyata dari sorot mata dan gelagat tubuhnya yang kikuk.
“Jadi gimana? Mau terima tawarannya?” tanya Matthew dengan nada santai, langsung mendudukkan diri di samping Lucia.
Seketika itu juga, Lucia melemparkan lirikkan paling sadis yang ia punya. “Coba lu jelasin sejelas-jelasnya ke gue, atas dasar apa lu bisa ngasih ide segila itu.”
Senyum Matthew makin mengembang. Sejujurnya, ia sudah memprediksi konfrontasi ini sejak mereka berpisah di kantor. Meski raut wajah Lucia di pantry tadi menunjukkan penolakan total, kenyataannya wanita itu tidak langsung mendepak ide tersebut mentah-mentah. Itu artinya, secara bawah sadar, Lucia sedang mempertimbangkannya. Matthew hanya tidak menyangka bahwa Lucia akan se-tidak sabar ini; ia mengira interogasi ini baru akan terjadi esok pagi, bukan di tengah malam buta seperti sekarang.
Ia bisa menangkap sisa-sisa kegelisahan di balik topeng kendali Lucia. Ada sesuatu yang mendesak dari cara wanita itu mengejar jawabannya, sesuatu yang memaksa Lucia meruntuhkan segala protokol dan batas jarak yang biasa ia jaga dengan ketat.
“Mau bahas dari sisi aku dulu, atau sisi Kak Lucia dulu?” tawar Matthew, menawarkan dengan tenang.