Sekat Dalam Asa

Arisyifa Siregar
Chapter #14

13. Profesional dan Amatiran

Lucia mengendap-endap menyebrang jalan raya, melangkah cepat menuju area parkiran luas di seberang gang depan rumahnya. Di sana, Matthew sudah menunggu di balik kemudi. Mesin mobil sengaja dinyalakan lebih awal, membiarkan AC bekerja keras mendinginkan kabin agar saat Lucia masuk, atmosfer di dalamnya sudah sejuk dan nyaman.

Dari balik kaca, Matthew mengamati gerak-gerik Lucia yang celingukan ke kanan dan ke kiri sebelum buru-buru menyelinap masuk ke pintu penumpang depan. Tingkah cemas itu benar-benar jauh berbeda dari persona Lucia yang selama ini Matthew kenal kantor. Wajah wanita itu masih kaku, matanya yang mirip mata kucing itu masih memicing tajam, namun bahasa tubuhnya tidak bisa berbohong, Lucia sedang gusar setengah mati.

Begitu bokongnya mendarat di jok kulit yang empuk, ada letup rasa tidak percaya yang menyergap dada Lucia. Ia akhirnya benar-benar berangkat kerja bersama Matthew, duduk manis di dalam mobil fancy yang selama ini kerap ia cibir dalam hati.

Melihat Lucia yang masih saja celingukan menembus kaca jendela untuk memastikan keadaan luar, Matthew tidak bisa menahan senyum tipisnya.

“Nggak bakal ada yang liat! Adam udah berangkat sekolah dari jam enam, Kak Lutva juga pasti lagi sibuk nyuapin nenek,” celetuk Matthew santai.

Mata Lucia melesat cepat, melayangkan lirikan dingin khasnya.

Ada rasa aneh yang mendadak menggelegak di dalam dada Lucia mendapati situasi ini. Padahal baru beberapa hari lalu ia memandang Matthew tak lebih dari seonggok kecoak yang menjijikkan. Namun, dalam sekejap mata, kehidupannya yang tenang dan membosankan, yang sebenarnya amat ia agungkan, kini mendadak berubah menjadi penuh dinamika yang liar.

Di sinilah dia sekarang. Duduk berdampingan dengan Matthew, membelah jalanan menuju kantor demi melancarkan skenario pacaran pura-pura yang terdengar konyol. Bersama seorang cowok yang baru saja menyebutkan nama anggota keluarganya serta aktivitas mereka dengan begitu akrab.

Aneh. Sungguh aneh. Rasanya seperti mendadak mendapat anggota keluarga baru.

Mungkin, jika ayah dan ibunya masih hidup, lalu ia tiba-tiba dihadiahi seorang adik bayi lagi, kurang lebih akan seperti ini rasanya. Canggung dan asing, namun karena takdir sudah mengeset keadaannya demikian, ia tidak punya pilihan lain untuk menolak.


Tadi pagi, Lucia bahkan merasa dirinya seperti orang bodoh. Namun yang lebih sialnya lagi, ia tidak punya alternatif lain selain melakoni kebodohan itu. Sebagai wanita yang terbiasa terjaga jam lima pagi dan angkat kaki ke kantor tepat jam enam, pagi ini ia terpaksa berbaring kaku di atas kasur dalam keadaan baju sudah rapi jali sampai jarum jam melewati angka enam lewat. Semua itu hanya demi... menunggu notifikasi pesan dari Matthew, sebuah aba-aba bahwa pria itu sudah siap berangkat kerja.

Lalu, demi menghalau kecurigaan Lutva, Lucia sengaja keluar dari kamar dengan gerakan tergesa-gesa, berpura-pura panik ketiduran, lalu melesat keluar rumah seolah-olah ia sedang dikejar keterlambatan.

Mengingat sandiwara konyolnya tadi pagi, Lucia dirayapi rasa malu yang hebat. Ia tidak bisa membayangkan betapa aneh ekspresi wajahnya di depan Lutva tadi. Dan yang menjadi persoalan besar sekarang: apa yang harus ia lakukan besok pagi? Masa ia harus terus-terusan berakting panik seperti itu setiap hari?

“Besok... kita perlu bareng kayak gini lagi?” tanyanya membuka suara.

“Ya, terserah,” sahut Matthew kasual sembari memutar setir, membawa mobil berbelok keluar parkiran lalu masuk ke jalan protokol yang mulai padat. “Tapi emangnya kenapa kalau kita berangkat bareng?”

Mata Lucia bergerak gelisah ke sudut kelopak. “Ya bingung aja. Harus pakai alasan apa kalau Lutva nanya.”

Dahi Matthew berkerut halus. “Emangnya kenapa? Kita kan emang kerja di kantor yang sama. Bukannya justru wajar kalau berangkat bareng?”

Bibir Lucia merapat, membentuk satu garis lurus yang kaku. Ia kembali melempar pandangannya keluar jendela kaca, merenungkan ucapan Matthew. Betul juga sebenarnya. Lagi pula, Lutva tipe orang yang tidak akan banyak berkomentar. Mereka tinggal di satu rumah yang sama, bekerja di gedung yang sama, bukannya justru terasa ganjil jika tidak ada inisiatif untuk pergi bersama? Apalagi selama ini Lucia harus berdesakan naik kereta, sementara Matthew mengendarai mobil sendirian. Di mata Lutva, semua ini pasti terlihat normal. Lucia tinggal mengarang cerita bahwa ia ikut patungan uang bensin bulanan pada Matthew, dan kakaknya itu pasti akan manggut-manggut setuju.

Satu keuntungan lagi: Lutva buta sama sekali tentang sejarah kelam antara dirinya dan Matthew di masa lalu. Jika sampai kakaknya itu tahu, Matthew tidak akan pernah diizinkan menginjakkan kaki, apalagi menyewa lantai bawah rumah mereka. Meski perawakan Lutva jauh lebih feminin dan tutur katanya lembut, aslinya wanita itu seratus kali lebih galak dan sadis ketimbang Lucia. Jika ada satu orang di dunia ini yang paling ditakuti Lucia melebihi mendiang orang tuanya, orang itu adalah Lutva.

By the way... gimana ceritanya lu akhirnya bisa nyewa rumah gue?” cetus Lucia kemudian, rasa penasarannya yang sempat tertunda kini menuntut jawab.

“Aku-kamu!” seru Matthew cepat, memotong kalimat Lucia.

“Ha?” Alis Lucia terangkat sebelah, bingung.

Matthew menengok sekilas ke Lucia sebelum kembali memaku fokus pada jalanan di depan. “Pakai aku-kamu. Harus dibiasain mulai sekarang, biar nggak kagok nanti!”

“Ah!” Lucia mengempaskan punggungnya ke sandaran jok dengan mata mendelik kesal. Ia benar-benar lupa pada salah satu klausul perjanjian mereka semalam.

Lihat selengkapnya